Big Goal

Memiliki impian yang besar

Result Oriented

Berorientasi pada hasil maksimal

Scale Up

Selalu berupaya memberikan hasil

Never Give Up

Terus melangkah mencapai tujuan

Momentum

Tiap kejadian jadi pembelajaran kehidupan

Tuesday, April 21, 2020

Mematahkan Mitos NEM, IPK dan Rangking

Ada 3 hal ternyata tidak terlalu berpengaruh terhadap "kesuksesan" yaitu: NEM, IPK dan rangking

Saya mengarungi pendidikan selama 22 tahun (1 tahun TK, 6 tahun SD, 6 tahun SMP-SMA, 4 tahun S1, 5 tahun S2 & S3)




Kemudian saya mengajar selama 15 tahun di universitas di 3 negara maju (AS, Korsel, Australia) dan juga di tanah air.
Saya menjadi saksi betapa "tidak relevannya ketiga konsep di atas" terhadap kesuksesan.

Ternyata sinyalemen saya ini didukung oleh riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley yang memetakan 100 faktor yang berpengaruh terhadap *tingkat kesuksesan seseorang berdasarkan survey terhadap 733 millioner di US*

Hasil penelitiannya ternyata nilai yang baik (yakni NEM, IPK dan  rangking) *hanyalah faktor sukses urutan ke 30*

*Sementara faktor IQ pada urutan ke-21*
*Dan bersekolah di universitas/sekolah favorit di urutan ke-23.*

Jadi saya ingin mengatakan secara sederhana: Anak anda nilai raport nya rendah *Tidak masalah.*

NEM anak anda tidak begitu besar?
Paling banter akibatnya tidak bisa masuk sekolah favorit.
*Yang menurut hasil riset, tidak terlalu pengaruh terhadap kesuksesan*

*Lalu apa faktor yang menentukan kesuksesan seseorang itu ?*
Menurut riset Stanley berikut ini adalah *sepuluh faktor teratas yang akan mempengaruhi kesuksesan:*

1. *Kejujuran* (Being honest with all people)
2. *Disiplin keras* (Being well-disciplined)
3. *Mudah bergaul atau friendly* (Getting along with people)
4. *Dukungan pendamping* (Having a supportive spouse)
5. *Kerja keras* (Working harder than most people)
6. *Kecintaan pada yang dikerjakan* (Loving my career/business)
7. *Kepemimpinan* (Having strong leadership qualities)
8. *Kepribadian kompetitif* atau mampu berkompetisi (Having a very competitive spirit/personality)
9. *Hidup teratur* (Being very well-organized)
10. *Kemampuan menjual ide* atau kreatif / inovatif (Having an ability to sell my ideas/products)

Hampir kesemua faktor ini tidak terjangkau dengan NEM dan IPK.
Dalam kurikulum semua yg ditulis diatas itu dikategorikan sebagai *softskill.*
Biasanya peserta didik memperolehnya dari kegiatan di ekstra-kurikuler.

Prof Agus Budiono

sumber: group wa

Wednesday, April 15, 2020

Istri Saya China dan Tidak Cantik

Banyak sekali yg bertanya kepada saya, kenapa saya memilih istri china yg berparas tidak cantik sedangkan saya (menurut mereka) adalah orang yg memiliki kekayaan berlebih?

Seharusnya (menurut mereka) saya bisa mendapatkan istri yg “lebih” dari pada istri saya yg sekarang, priscilla chan.

Pertama-tama untuk menjawab pertanyaan itu, saya ingin membahas apa itu wanita cantik?
dan apa itu wanita tidak cantik?
Jujur, saya sendiri mempunyai banyak kesempatan bertemu wanita-wanita cantik, banyak dari mereka yang mau sekali menjadi istri saya, tetapi apa yg disebut “wanita cantik” itu kebanyakan berhati seperti kaca, teramat rapuh.
Kalau sedang sakit manjanya seperti seorang putri raja, serta angkuh, sombong, dan juga akan selalu bertanya kepada saya kenapa sudah begitu kaya tapi tak mau ganti mobil?
Saya tau tujuan mereka ingin menjadi istri saya adalah utk pamer di lingkungan jet set, setelah itu akan lebih banyak lagi tuntutannya sebagai istri orang kaya.
Wanita demikian meski secantik bagaimanapun, kalau hatinya hanya bisa menuntut, tetap kelihatan jelek, jiwanya juga kotor.
Wanita seperti itulah baru dikatakan sebagai wanita jelek, diberikan gratis pun saya tidak mau!
“Kecantikan di luar akan berkurang nilainya seiring bertambahnya umur, tapi kecantikan dari dalam akan bertambah nilainya seiring bertambahnya umur” begitulah pepatah cina mengatakan, maka dari itu saya berusaha menghindari utk bersentuhan dengan benda yg secara cepat turun nilainya.
Kemudian dari mereka muncul pertanyaan lain, apa yg saya sukai dari priscilla chan, isteri saya?
“Raut wajah seorang wanita adalah cerminan hatinya” senyumnya selalu memukau saya.
Sejak hamil, Priscilla sama sekali mengabaikan perubahan yg terjadi pada raut mukanya akibat kehamilannya, tetap berpakaian sederhana, tanpa dandan, tapi justru kebahagiaannya saya rasakan sepenuhnya dan juga terlihat kepada orang lain.
Saya suka kesederhanaannya.
Saya suka penampilannya.
Priscilla adalah sosok wanita bersemangat tapi bijak, berani tapi penuh kasih, berjiwa pemimpin tapi juga bisa mendukung orang lain.
Saya menyukai semua hal saat bersamanya, saya merasa sangat nyaman & tenang.
Saya sama sekali tidak merasa Priscilla memanfaatkan saya atau bermegah atas saya. Selain memiliki kecerdasan intelektual yg tinggi, dia juga punya kecerdasan emosi yg tinggi, jangan lupa bahwa Priscilla merupakan lulusan jurusan kedokteran Harvard University.
Anda bisa coba tes masuk universitas tsb, jurusan hukum, kedokteran, ekonomi adalah jurusan yang jadi rebutan orang-orang, meski lulus tes masuk belum tentu anda bisa lulus dengan baik.
Jadi sebenarnya kalau mau dibilang pamer, lebih tepat saya yg pamer atas priscilla, bukan sebaliknya.
“Perkawinan ibarat sepasang sepatu, hanya pemakainya yg tau sepatunya nyaman dipakai atau tidak” Priscilla paling cocok buat saya, dan saya merasa priscilla adalah pasangan yang paling ideal di muka bumi ini.
Dulu saya berkenalan dengan Priscilla saat antrian di toilet. Di matanya, saya hanyalah seorang kutu buku, tidak lebih. Mulai saat itu saya berkata dalam hati saya “Inilah jodoh saya”
Di mata kalian, Priscilla adalah wanita tidak cantik, tapi di mata saya, dia adalah wanita cantik dan paling serasi dengan saya.

Saya tidak bisa menahan diri memamerkan foto saya dengan Priscilla yang begitu berbahagia. Dalam foto nampak saya dan priscilla begitu damai & alami.
” SEDERHANA ITU INDAH”
Mark Zuckerberg (pendiri FACEBOOK)

Wednesday, April 01, 2020

Coronaphobia dan Psikosomatis Covid-19

Saya dihubungi beberapa calon klien yang minta waktu jumpa saya untuk menjalani sesi terapi. Kata mereka ini kondisi mendesak dan minta agar mereka bisa segera jumpa saya.



Saya tanya, apa masalahnya, ternyata mereka rata-rata mengalami perasaan takut, cemas, yang berakibat pada kondisi pikiran tidak tenang, hati tidak damai, dan sulit tidur.

Saya tanya lagi, mulai kapan gangguan emosi ini muncul atau mereka alami, hampir semua menjawab mereka mengalami kecemasan tinggi sejak ramai diberitakan tentang virus corona (Covid-19).

Bahkan ada tiga calon klien yang mengaku mengalami gejala serupa dengan Covid-19 seperti flu, batuk kering, tenggorokan sakit, dan demam.

Saya tanya lagi, apakah mereka ada keluar rumah, ke tempat ramai, kumpul-kumpul sama teman, bersalaman atau berdekatan dengan orang yang mengalami Covid-19 atau orang dalam pengawasan, dan semua menjawab tidak.

Mereka bahkan mengatakan bahwa sudah dua minggu lebih mereka tidak ke mana-mana, hanya istirahat dan melakukan kegiatan dari rumah.

Saya tanya lagi, apakah mereka rutin atau sering baca informasi atau berita, baik itu dari media massa seperti televisi, surat kabar, atau dari media sosial, terutama dari grup percakapan seperti WA atau Telegram, dan mereka semua menjawab ya. Sekarang jelas duduk persoalan dan akar masalahnya.

Saya mohon maaf karena belum bisa jumpa mereka. Saat ini saya dan semua hipnoterapis AWGI, untuk sementara waktu, berhenti total melakukan terapi. Ini untuk kebaikan bersama dan mematuhi himbauan pemerintah untuk melakukan social/physical distancing untuk meredam penyebaran Covid-19.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini?

Saya beri mereka beberapa saran dan masukan. Pertama, mereka berhenti total membaca atau mencari informasi atau meneruskan informasi terkait Covid-19.

Tidak ada gunanya untuk hidup mereka dengan mengetahui sudah berapa banyak orang yang terkena Covid-19, berapa yang meninggal, dan berapa yang sembuh.

Saya minta mereka berhenti total membaca atau mencari informasi atau meneruskan informasi terkait Covid-19 minimal selama dua minggu dan setelahnya mereka bisa beri laporan perkembangan yang dialami.

Kedua, saya sarankan mereka untuk banyak membaca buku-buku positif, nonton film atau video yang lucu, karaoke, senam atau olahraga, rileksasi atau meditasi, berdoa, atau apa saja yang positif dan bisa membuat pikiran dan perasaan mereka tenang dan bahagia.

Cukup sudah kita menebar dan menyebar informasi terkait virus corona (Covid-19) di media sosial dan grup percakapan seperti WA atau Telegram yang justru semakin menguatkan berbagai emosi negatif seperti takut, khawatir, cemas, merasa tidak berdaya, dll.

Sekarang waktunya kita melawan virus corona (Covid-19) dengan berpikir positif dan merasakan emosi positif, mengirimkan vibrasi positif untuk diri sendiri dan lingkungan, menyebar informasi yang sifatnya meneduhkan, menenangkan untuk kebaikan diri sendiri dan bersama.

Lalu, bagaimana sampai orang mengalami psikosomatis Covid-19?

Informasi masuk ke pikiran bawah sadar melalui lima jalur:

1. Otoritas : informasi, benar atau salah, yang disampaikan oleh figur otoritas pasti dengan mudah masuk dan diterima oleh pikiran bawah sadar (PBS) sebagai kebenaran.

2. Emosi : setiap informasi yang diterima individu, bila disertai emosi intens, baik positif atau negatif, akan dicatat oleh PBS sebagai sesuatu yang penting.

3. Repetisi : informasi serupa bila terus diulang, dilihat, dibaca, dibicarakan, diingat, dibayangkan, atau didengarkan pasti masuk ke memori PBS.

4. Identifikasi Kelompok: saat informasi ini diterima atau dinyatakan benar oleh satu kelompok atau komunitas, setiap anggota kelompok ini menerimanya sebagai kebenaran.

5. Relaksasi pikiran : saat pikiran rileks, sore atau malam hari saat mau tidur, atau pagi hari saat baru bangun tidur, bila kita membaca, mendengar, menonton tayangan atau informasi tertentu, informasi ini langsung masuk ke PBS tanpa bisa disaring oleh faktor kritis pikiran sadar.

Informasi tentang Covid-19, benar atau salah, yang telah terekam di PBS, tidak akan pernah bisa hilang. Informasi ini akan terus ada di memori sampai dilakukan upaya secara sadar untuk mengganti informasi ini dengan informasi lain.

Semakin seseorang membaca dan mengingat gejala-gejala Covid-19, semakin ia mengulang memunculkan informasi ini di pikirannya, semakin kuat informasi ini jadinya, dan semakin ia terpengaruh. Ia menjadi semakin cemas dan takut.

Disadari atau tidak, ia akan memeriksa kondisi fisiknya, apakah ada gejala yang sama atau menyerupai Covid-19. Ini sesungguhnya adalah hal yang wajar karena semua orang pasti ingin selamat, ingin tetap hidup. Dan fungsi utama PBS adalah melindungi dan menjaga keselamatan hidup kita.

Semakin ia melakuan pengecekan, semakin PBS mendapat informasi bahwa ini adalah sesuatu yang penting. Dan sesuai hukum pikiran, apa yang menjadi fokus pasti bertumbuh dan menguat. Ini menjadi semakin kuat saat dilandasi emosi negatif intens.

Akhirnya, PBS memunculkan simtom atau gejala yang sama atau serupa dengan gejala Covid-19. Saat ini terjadi, individu menjadi semakin cemas, takut, panik, dan gejalanya menjadi semakin nyata, semakin kuat.

Semakin ia cemas atau takut, semakin stres ia, semakin banyak hormon stres diproduksi oleh tubuhnya, dan semakin tertekan kerja sistem imun, dan semakin besar kemungkinan ia jatuh sakit, semakin besar risikonya bila ia benar-benar terpapar virus corona.

Virus corona belum tentu mengenai semua orang. Namun saat ini hampir semua orang sudah tertular virus pikiran yang membuat mereka cemas, khawatir, takut, paranoid.

Sekarang saatnya kita bangkit bersama melawan virus corona. Lakukan apapun yang bisa kita lakukan untuk menghambat kemungkinan virus corona semakin tersebar.

Dan berlakulah CERDAS dan BIJAK. Sebarkan hanya berita-berita positif. SARING sebelum SHARING.


Ditulis oleh: DR DR Adi W Gunawan, ST.,MPd.,CCH

Sunday, March 29, 2020

Terkunci Karena Pikiran

Ada hitam ada putih, ada siang ada malam, ada yg sulit ada yg mudah, begitulah semesta semenjak dulu kala. Selalu mencari keseimbangan.



.
Teringat sebuah cerita, ada seseorang terjebak/terkunci dalam sebuah gerbong kereta berpendingin tempat penyimpanan makanan beku. Setelah gerbong tersebut berhasil dibongkar, orang tsb ditemukan tewas dalam posisi seperti orang menggigil kedinginan, padahal kenyataannya gerbong tersebut tidak dalam posisi ON alias pendinginnya mati, artinya di gerbong tersebut tidak dingin sama sekali. Dia mati karene pikirannya sendiri.
.
Musuh terbesar kita bukan orang lain, tapi pikiran kita sendiri. Apalagi di jaman seperti sekarang ini, dimana informasi tersebar begitu cepat melalui berbagai platform sosial media dan sangat mudah dimanipulasi untuk mempengaruhi pikiran bukan hanya seseorang tapi banyak orang. Akibatnya, hanya sedikit orang yg bisa melihat dari sisi yg berbeda, lebih banyak yg fokus pada sisi yg terlihat. Padahal semesta selalu dalam posisi keseimbangan...
.
Saya pastikan dalam 2-3 tahun kedepan kita akan melihat banyak orang2 baru yg sukses yg lahir dari keadaan saat ini, mereka itu adalah orang2 yg saat ini bisa melihat dan berfikir dari sisi yg berbeda. Semesta punya cara tersendiri untuk melahirkan para pemenang. Itu yg selalu terjadi.

source

Thursday, February 27, 2020

Rumus E + R = O (Event + Response = Outcome) dalam Mencapai Kesuksesan

E + R = O

Mungkin rumus ini terdengar asing bagi kita semua. Mungkin rumus ini juga tak sepopuler rumus E=mc2 dalam ingatan kita. Namun, lewat rumus yang sederhana ini dapat menjelaskan mengenai success mindset. Sukses dalam hidup tentunya. Rumus atau teori ini dikemukakan oleh seorang pakar psikoterapi di Los Angeles, Dr Robert Resnick dimana beliau mengatakan E (event) + R (response) = O (Outcome). Formula sederhana ini menjelaskan bahwa setiap hasil dari pengalaman hidup ini (baik gagal maupun sukses, kaya ataupun miskin) adalah hasil dari bagaimana kita merespon terhadap kejadian-kejadian dalam hidup kita.

Jadi begini, seringkali kita memperoleh outcomeatau sebuah hasil yang kurang memuaskan. Suatu kondisi di mana kita sering mengeluh “Kok begini sih?” atau “Kok jadi begitu” intinya kita merasa sedikit atau bahkan sangat kecewa. Ada dua option dalam menyikapi hal ini :
  1. Menyalahkan E (event). E dalam hal ini adalah situasi yang kita alami, keadaan yang sedang terjadi. Misalnya kondisi perekonomian yang tidak stabil, kenaikan harga BBM, musibah yang tiba-tiba menimpa dan sebagainya. Dengen berpikiran seperti ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah, ini kenyataan hidup di mana tak ada yang sempurna dalam dunia dan kehidupan ini. Namun, dengan bersikap seperti ini, akankah kita akan mengambil tindakan untuk berubah? Akankah E atau kondisi tersebut dapat berubah? Seringnya kondisi atau kejadian yang terjadi tidak dapat diubah.
  2. Oleh karena mengubah E sangat jauh lebih susah dan mendekati atau bahkan mustahil, kita lebih berpotensiuntuk mengubahR (response) terhadap E (event).
  3. Dalam persamaan matematis yang sederhana di atas, jika pengaruh E (event) > R (response) yang kita ambil, Outcome-nya (O) akan lebih depengaruhi oleh Event (E). Namun, jika pengaruh E (event) < R (response), Outcome-nya (O) akan lebih dipengaruhi oleh Response. Kesimpulannya response kita lah yang mempengaruhi outcome kehidupan kita. Karena akan lebih mudah dan masuk akal untuk mengubah Response kita dibandingkan Event yang terjadi.


Salah satu contoh yang dikutip dari sumber adalah ketika terjadi gempa bumi pada tahun 1994 di Northridge, California, ada sebuah jembatan tol yang ambruk yang mengakibatkan para pemakai jalan harus menunggu antri 2-3 jam hanya untuk melewati bagian yang ambruk tersebut. Seorang wartawan CNN melakukan interview dengan para pengemudi yang umumnya kesal dengan kejadian tersebut. Seorang pengemudi mengungkapkan kekesalannya dengan berkata, "Saya benci tinggal di California. Pertama kebakaran hutan, kemudian banjir, dan sekarang gempa, walaupun saya sudah berangkat pagi hari, tetap saja terlambat sampai kantor." Kemudian wartawan itu melanjutkan ke mobil yang lain, response pengemudinya sangatlah berbeda. Pengemudi itu tersenyum seakan-akan menikmati kemacetan itu, katanya, "Saya berangkat jam lima pagi dari rumah dan saya memiliki banyak kaset yang enak untuk di dengar, istri saya menyiapkan kopi dalam termos saya, jadi saya tidak mempermasalahkan kemacetan ini." Dan jika memang kemacetan ini merupakan faktor yang mutlak, seharusnya semua orang akan marah.

Contoh lain mungkin kondisi yang baru saja memanas mengenai kenaikan BBM di negara kita tercinta ini. Banyak pro atau kontra yang terjadi. Namun apapun yang terjadi kelak semisal BBM jadi mengalami kenaikan, alangkah baiknya kita dapat menyikapinya dengan jeli karena kondisi tersebut bukanlah faktor mutlak, lagi-lagi kita bermain response. Siapa tahu dengan kenaikan BBM membuat kita lebih mawas diri seperti hemat energi mungin, atau tak semata-mata nantinya yang miskin akan tambah tertindas bisa saja mereka lebih bersemangat untuk mengubah nasib, rajin bekerja misalnya.

Itu untuk kondisi umum, kondisi dari diri sendiri juga terkadang tidak menentu. Kalau mau mencomot dari istilah anak muda jaman sekarang sih, galau. Kemungkinan galau tersebut merupakan outcome dari pengaruh E (event) > R (response). Jadi, apapun kondisi yang terjadi terhadap kehidupan kita alangkah baiknya kita membuat E (event) < R (response) dengan kata lain jangan mau kalah dari keadaan. Hidup ini terlalu indah untuk dilewati dengan kegalauan, hhaha.
E + R = O, sangat sederhana memang namun esensinya sangat menarik dan penting. Terimakasih, semoga bermanfaat. Ah, nikmatnya berbagi ;)

Wednesday, January 01, 2020

25 Alasan Kita Semangat Sholat Jama'ah Di Masjid

SETIDAK TIDAKNYA ADA 25 ALASAN KENAPA HARUS SHALAT BERJAMA'AH DI MASJID


01. Setiap langkahnya menuju Masjid menghapus dosa dan menaikkan derajat
02. Didoakan malaikat
03. Mendapat cahaya sempurna di hari qiyamat
04. Diampuni dosa2 nya seperti bayi yang baru lahir
05. Malaikat berebut untuk mencatat
06. Allah menjaga kekhusyukan hati kita
07. Disaksikan sebagai orang yang beriman oleh Allah
08. Mati dalam keadaan muslim yang fitrah (suci bersih)
09. Mendapat naungan Allah di hari qiyamat
10. Allah bergembira dengan hamba yang shalat berjama'ah di masjid
11. Shaf awal di masjid itu shaf para malaikat
12. Shalat subuh berjama'ah pahalanya seperti shala semalaman
13. Shalat isya berjama'ah pahalanya seperti shalat separuh malam
14. Berjalan diwaktu subuh menuju masjid berada dalam rahmat Allah
15. Mendapat pahala seperti pahalanya haji dan umrah
16. Pahala mengikuti sunnah nabi
17. Dijauhkan dari sifat munafiq
18. Semakin jauh langkah semakin besar pahala
19. Dijamin hidup bahagia
20. Dijamin Husnul Khatimah
21. Dijamin dapat bagian di surga oleh Allah
22. Bagi yang tertinggal raka'at bahkan ketika datang shalat sudah bubar, dia tetap mendapat pahala shalat berjama'ah diampuni dosa2nya meski dia sendiri
23. Pahala shaf pertama sangat besar
24. Bila ucapan Aamin seiring dengan ucapan malaikat yang ikut shalat maka dosanya diampuni
25. Duduk menunggu imam, dicatat oleh malaikat sebagai orang yang shalat

Apakah kita kaum Pria masih malas untuk ke masjid  dengan sangat besar keutamaannya? TENTU TIDAK

Semoga Allah SWT selalu memberi kesempatan serta petunjuk pada kita semua. Aamiin..