Big Goal

Memiliki impian yang besar

Result Oriented

Berorientasi pada hasil maksimal

Scale Up

Selalu berupaya memberikan hasil

Never Give Up

Terus melangkah mencapai tujuan

Momentum

Tiap kejadian jadi pembelajaran kehidupan

Monday, September 18, 2006

5 (lima) yang weleh2, ak harus bisa hindari...



Lima Pantangan

Dalam menghadapi kehidupan ini ada lima pantangan yang sebaiknya tidak
kita lakukan, yaitu:


1. Pantang bertindak sia-sia.

Setiap tindakan kita sebaiknya terhindar dari kesia-siaan. Setiap tutur kata, setiap langkah dan setiap apapun hendaknya dilakukan untuk sesuatu yang bermanfaat, baik di dunia maupun akhirat. Jika kita bisa menghindari kesia-siaan, insya Allah kita akan menjadi 'pribadi yang sukses'.


2. Pantang mengeluh.

Keluh kesah tidak menyelesaikan masalah. Seandainya dengan mengeluh
masalah bisa selesai, maka semua orang akan menyelesaikan masalahnya
dengan mengeluh. Tetapi mustahil itu terjadi.


Jika kita tidak mengeluh dalam menghadapi segala persoalan, maka insya
Allah kita akan menjadi 'pribadi yang tangguh.'


3. Pantang menjadi beban.

Bersikap mulia dengan tidak menjadi beban bagi orang lain adalah sikap
yang sangat terpuji. Walaupun tidak mungkin bagi kita untuk sama sekali
tidak bergantung, tetapi paling tidak kita mengurangi sekecil-kecilnya
ketergantungan itu. Setiap bantuan orang lain sekecil apapun, sebaiknya
segera kita bayar dengan apapun semampu kita.


Jika kita tidak menjadi beban orang lain maka insya Allah kita akan
mempunyai 'harga diri' yang tinggi.


4. Pantang berkhianat.

Berkhianat adalah sikap yang sangat tercela. Sesulit apapun keadaan kita,
jangan pernah berkhianat.


Jika kita tidak pernah berkhianat maka kita akan menjadi pribadi yang
'terpercaya'. Nah, kepercayaan inilah modal yang sangat berharga dalam mengarungi hidup.


5. Pantang mengotori hati.

Hati adalah komponen yang sangat penting dalam tubuh. Jika hati baik, maka
menjadi baiklah seluruh tubuhnya. Sebaliknya jika hati buruk, maka
buruklah sekujur tubuhnya.

Sunday, July 30, 2006

IQ dan EQ... ini dia!

Daniel Goleman, seorang profesor dari Universitas Harvard menjelaskan bahwa ada ukuran/patokan lain yang menentukan tingkat kesuksesan seseorang. Dalam bukunya yang terkenal, Emotional Intelligence, membuktikan bahwa tingkat emosional manusia lebih mampu memperlihatkan kesuksesan seseorang.



Intelligence Quotient (IQ) tidak dapat berkembang. Jika seseorang terlahir dengan kondisi IQ sedang, maka IQ-nya tidak pernah bisa bertambah maupun berkurang. Artinya, jika seseorang terlahir dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang cukup, percuma saja dia mencoba dengan segala cara untuk mendapatkan IQ yang superior (jenius), begitu pula sebaliknya. Tetapi, Emotional Quotient(EQ) dapat dikembangkan seumur hidup dengan belajar.

Kecerdasan Emosional (EQ) tumbuh seiring pertumbuhan seseorang sejak lahir hingga meninggal dunia. Pertumbuhan EQ dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, dan contoh-contoh yang didapat seseorang sejak lahir dari orang tuanya. Kecerdasan Emosi menyangkut banyak aspek penting, yang agaknya semakin sulit didapatkan pada manusia modern, yaitu:
· empati (memahami orang lain secara mendalam)
· mengendalikan amarah
· kemandirian
· kemampuan menyesuaikan diri
. disukai
· kemampuan memecahkan masalah antar pribadi
· ketekunan
· kesetiakawanan
· keramahan
. sikap hormat

Jika seseorang memiliki IQ yang tinggi, ditambah dengan EQ yang tinggi pula, orang tersebut akan lebih mampu menguasai keadaan, dan merebut setiap peluang yang ada tanpa membuat masalah yang baru. LUAR BIASA.

Resonant Leadership....Apa yaa?

Pemimpin adalah orang yang mampu menggerakkan orang lain. Ia menghadirkan vitalitas dan energi bagi individu serta organisasi untuk menjadi yang terbaik.



Inilah yang dimaksud dengan “Resonant Leadership” oleh Daniel Goleman & dkk. dalam bukunya yang terbaru berjudul ” The New Leadership: Transforming the Art of Leadership into the Science of Results”. Bagaimana mengembangkan “Resonant Leadership”?

“Resonant Leadership” sangat terkait dengan Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence/EQ) sang pemimpin. Kecerdasan Emosi akan menentukan gaya dan cara pemimpin dalam memberikan inspirasi dan menggerakkan orang lain.

Jika seseorang memiliki IQ yang tinggi, ditambah dengan EQ yang tinggi pula, orang tersebut akan lebih mampu menguasai keadaan, dan merebut setiap peluang yang ada tanpa membuat masalah yang baru.