Big Goal

Memiliki impian yang besar

Result Oriented

Berorientasi pada hasil maksimal

Scale Up

Selalu berupaya memberikan hasil

Never Give Up

Terus melangkah mencapai tujuan

Momentum

Tiap kejadian jadi pembelajaran kehidupan

Monday, March 31, 2014

Less is More

Game Flappy Bird ternyata menghasilkan cash flow 600 jutaan per hari. Wow. Padahal hanya dikerjakan oleh satu orang anak muda dari Vietnam. Berbagai review pun menilai game ini jelek dan amatiran.
Kenapa game ini begitu digemari?
Saya tidak tahu. Saya bukan penggemar atau pengamat game.
Yang saya tahu, game ini sangat sangat simple. Idenya simple, programingnya simple, disainnya simple (buruk bahkan). Tapi justru orang sedunia menggilainya.
Idenya simple itu kadang tidak terlihat oleh orang kebanyakan. Orang kebanyakan berpikirnya kompleks, bekerjanya juga kompleks.
Coba perhatikan produk-produk Apple. Semuanya serba simple. Bayangkan, Apple hanya dengan 4 produk dengan 2-3 pilihan warna bisa menjadi perusahaan bernilai tertinggi di dunia. Bandingkan dengan Samsung yang ngos-ngosan mengejarnya dengan jumlah produk yang tak terhitung variannya. Samsung sangat kompleks.
Disain produk-produk Apple pun demikian. Sangat simple. Perhatikan disain iPhone itu, hanya ada 1 tombol dan tanpa logo Apple sama sekali di depannya.
Orang yang berpikir kompleks selalu berpikir untuk menambah. More, more, more adalah kredonya. Kebalikannya, orang yang berpikir simple selalu berpikir untuk mengurangi. Less, less, less. Kalau 1 tombol saja cukup, buat apa disediakan 3 tombol?
I believe in the power of less. Less is more.

Sunday, March 23, 2014

Memakmurkan Masjid-Memakmurkan Rezeki

Masjid adalah tempat yang paling baik di muka bumi. Masjid adalah rumah Allah SWT, tempat yang sangat mulia dan sangat utama untuk kegiatan ibadah umat Islam seperti sholat, berdzikir, bersholawat, dan majlis ta’lim. Maka dari itu Allah SWT sangat mencintai masjid dan orang orang yang berjalan menuju masjid untuk beribadah

Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-­orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka (semoga) merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. At Taubah: 18)

Jika diibaratkan sebagai tuan rumah, maka apakah kita ragu terhadap kedermawanan Allah terhadap tamu-tamu yang datang ke rumah Allah? Jika manusia saja diajarkan oleh Baginda Rasulullah SAW untuk menghormati dan memuliakan tamunya, maka apabila kita bisa berpikir dengan bijak dan merasakan dengan hati nurani harusnya kita sadar bahwa Allah akan menjamu tamuNya dengan sangat mulia. Maka kita berlomba-lomba untuk datang  memakmurkan masjid agar kita menjadi makhluk pilihan/tamu yang dimuliakan oleh Allah.



Bayangkan saja ketika kita menjadi tamu kehormatan di kediaman seorang raja atau presiden. Apakah hidangan dan sambutannya sama seperti yang ada di rumah orang biasa? Sudah jelas hidangan dan sambutannya akan lebih terhormat saat kita bertamu di kediaman presiden dibanding dengan bertamu di rumah orang biasa. Raja/presiden hanyalah manusia biasa yang memimpin suatu negara bukanlah penguasa yang menciptakan alam semesta yang indah dengan segala keteraturannya ini. Dan Allah SWT lah adalah Sang Pencipta, Maha Penguasa, Maha Kaya yang memiliki seluruh yang ada di alam semesta ini. Masihkah kita meragukan kekayaan Allah? Masihkah kita meragukan kedermawanan Allah? Jika Allah tidak sayang dan mengasihi kita semua, mungkin saat ini kita tidak akan sebebas ini menghirup oksigen yang masuk ke tubuh kita. Kalau kita berpikir, berapa harga tiap tabung oksigen? Apakah selama ini kita membayar untuk itu? Oleh karena itu sudah sepantasnya kita bersyukur dan bersujud atas segala nikmat Allah yang diberikan kepada kita.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan” (QS Ar Rahman 13)

Sunday, March 16, 2014

Simplicity

Beberapa waktu lalu, saya membaca buku “The Power of Simplicity” karangan Jack Trout dan Steve Rivkin. Saya pernah baca sekilas edisi Englishnya tapi karena bahasanya terlalu rumit buat saya, kemudian saya mencari2 edisi Indonesiannya. Cerita punya cerita ternyata buku tersebut ada di lemari buku bos saya. Dengan enteng saja, buku ini aku pinjam, kayak Mas Iwan Fals.

Buku ini mengajak orang untuk berbisnis dengan sederhana, dengan jargon-jargon kesederhanaan, kata-kata mutiara dari orang-orang terkenal jadul (jaman dulu) dan tentu saja contoh-contoh penyelesaian yang sederhana pula. Pokoknya semakin sederhana kita berbisnis, semakin maju. “Menggugah” kutipan dari Booklist yang memberi komentar. Dan benar-benar menggugah buat saya. Membelalakan mata saya akan kesederhanaan. Membuka pikiran saya.
Apalagi di bab akhir yang banyak sekali mengutip kalimat-kalimat dari beberapa tokoh terkenal. “Kesederhanaan karakter adalah hasil alami dr pemikiran mendalam.” Begitu kata Thomas Hazlitt, pengarang esai dari Inggris.

Atau kata Hendri Deterding, seorang Dirut Royal Dutch Oil, “Setiap saya menerima usulan bisnis yang, setelah saya merenung, tidak bisa saya sederhanakan, saya mengabaikannya.” “Dari sesuatu yang sangat kompleks, keluar sesuatu yang sangat sederhana” kata Winston Churchill. Kata Edward Teller seorang Fisikawan sungguh menarik, “Mengejar kesederhanaan dalam hidup, dalam dunia, di masa depan, adalah inisiatif paling bernilai.”. Yang jauh lebih fantastis adalah kata-kata Albert Einstein, “Materi kesuksesan seperti dilihat orang lain, publisitas, kemewahan, bagi saya semua itu menjijikan. Saya percaya bahwa gaya hidup sederhana dan bersahaja adalah gaya hidup terbaik bagi semua orang, baik tubuh maupun jiwa.”
Mungkin sesederhana ayat ini. “…, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Muzammil : 20). Begitu pula dengan ayat-ayat yang lain. Sungguh Islam mengajarkan kita dengan sederhana, untuk hidup sederhana, dengan cara yang sederhana dan tujuan yang juga sederhana. Tapi pernahkah kita berpikir?
Pernah kita mendengar riwayat nabi Muhammad SAW, yang begitu sederhana menjalani hidup, begitu bersahaja, begitu santun tapi juga begitu tegas. Salah satu riwayatnya mungkin sudah sering anda dengar, yakni pernah nabi Muhammad SAW setiap berjalan menuju suatu tempat, pasti ada si Fulan yang meludahi, melempari dan mencaci maki. Tapi oleh Rasulallah hanya dibalas senyum. Kemudian di suatu hari, Rasulallah kaget karena beliau tidak mendapat perlakuan seperti biasanya. Beliaupun bertanya kepada tetangga si Fulan dan mengetahui bahwa si Fulan sedang sakit. Nabi Muhammad SAW kemudian bergegas menuju rumah si Fulan, mendapatinya sedang sakit, kemudian beliau mendoakan. Masuklah si Fulan ke Islam. Sungguh mulia akhlak beliau, sungguh santun. Kalau perlakuan si Fulan yang sangat tidak baik seperti itu saja Rasul sangat santun menghadapinya, bagaimana dengan perlakuan kaum Quraisy terhadap beliau sehingga beliau bersedia mengangkat pedang? Sungguh suatu kesederhanaan yang sangat dalam. Tapi pernahkah kita berpikir?


Setelah membaca buku “The Power of Simplicity”, saya tarik kesimpulan bahwa Islam mengajarkan kesederhanaan sejak tahun 600an. Ajaran Islam adalah sungguh benar adanya. Ini bukti nyata kebenaran Islam yang diungkapkan oleh dua orang Yahudi secara tidak sengaja dengan akal sehat mereka.
Mari kita merenungkan beberapa ayat ini:
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an). (An Nisa’ : 174)
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (Shaad : 29)

Sunday, March 09, 2014

Nasib Keberuntungan

Ini kisah tentang seorang petani tua yang bekerja di sawahnya. Suatu hari kerbau yang biasa membajak sawahnya melarikan diri. Mendengar ini, tetangga si petani tua datang mengunjunginya, dan dengan penuh simpati berkata, “Oh, petani tua. Sungguh malang nasibmu.”
Sang petani pun menjawab, “Mungkin saja, tapi tidak apa-apa.”
Keesokan harinya, kerbau itu kembali, bersama dua kerbau lepas yang liar. “Sungguh menakjubkan. Betapa beruntungnya nasibmu,” seru tetangganya.
Sang petani menjawab, “Mungkin saja.”
Hari berikutnya, anak si petani tua mencoba menaiki salah satu kerbau yang masih liar itu. Sang anak terlempar dari punggung kerbau yang belum jinak itu. Kakinya patah. Mendengar ini, tetangganya datang mengunjunginya untuk memberi simpati atas kemalangannya,
“Oh, petani tua. Betapa malang nasibmu.”
Lagi-lagi sang petani menjawab, “Mungkin saja, tapi tidak apa-apa.”
Keesokan harinya, seorang pejabat militer datang ke desa dan menyerukan kewajiban bagi setiap pemuda untuk berperang membela negara. Mengetahui bahwa kaki anak laki-lakinya patah, pejabat militer itu pun melewatinya. Para tetangga pun memberi selamat kepada si petani tua atas keberuntungan nasibnya.
Sang petani tua pun menjawab, “Mungkin saja.”
Cerita sederhana saja, nasib baik dan buruk sebenarnya tergantung dari cara kita memandangnya. Sepanjang kita bersyukur, tidak pernah ada yang buruk yang datang dari-Nya.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Quran [2]:216).

Sunday, March 02, 2014

Tanah Kapling sebagai Alternatif Investasi

Membeli tanah kosong berupa kapling adalah salah satu alternatif investasi di properti. Apalagi menurut lembaga survey real estate dari Inggris, Knight Frank, Indonesia menjadi negara dengan kenaikan harga properti paling tinggi sedunia tahun 2012. Jakarta menduduki peringkat nomor satu yaitu dengan kenaikan 38,1 persen selama 2012 disusul Bali dengan kenaikan 20 persen. (Sumber Merdeka.com).


Mengapa membeli tanah kapling bisa menjadi alternatif investasi? Salah satu kelebihan properti adalah karena harganya tergolong gelap. Tidak ada pasar seperti pasar saham, emas, komoditi yang mengatur harga properti di seluruh dunia. Sehingga harga properti adalah harga kehendak pemilik dan pembeli.
Kedua karena membeli tanah kapling relatif lebih murah dibandingkan dengan membeli rumah. Tentu saja, karena membeli rumah terdapat komponen biaya bangunan.
Ketiga metode pembayarannya lebih simple. Mengapa? Karena membeli tanah kapling hampir tidak melibatkan perbankan, seperti hanya membeli rumah dengan KPR. Sehingga tidak ada proses survey kelayakan jaminan, kemampuan membayar dll. Tidak adanya proses ini sama dengan mempermudah proses pembelian. Hanya saja jangka waktunya jarang sekali bisa sepanjang KPR.
Keempat tidak menunda membeli properti. Memang, kebutuhan manusia adalah rumah tinggal. Namun mungkin dikarenakan penghasilan yang belum mencukupi untuk membeli rumah, alternatif lain adalah membeli tanah kapling terlebih dahulu. Sembari “menabung” untuk bangunan rumahnya.
Kelima, karena investasinya selalu naik di kemudian hari, tanah kapling bisa saja Anda jual lagi. Anda mendapatkan capital gain atas pembelian kapling tersebut, dan hasil dari penjualan tersebut bisa And gunakan untuk membayar Uang Muka pembelian rumah.
Demikian semoga bermanfaat. Jangan tunggu beli properti, tapi beli properti dan tunggu! Banyak jalan menuju RUMAH (plesetan dari Banyak Jalan Menuju Roma).
Source: aryodiponegoro.com