Melihat Dari Berbagai Sudut Pandang

Seringkali manusia dalam bertindak terbatas karena sudut pandangnya.

Kacamata Kehidupan

Bila hari ini lebih baik dari kemarin berarti anda beruntung.

Parenting: Kiat Menggelola Bully

Dapat sebuah kiriman di group WA yang membahas tentang Parenting. Baca sampai tuntas, bagus dan yang penting lagi praktekkan. Silahkan dishare ya...



πŸ™ŠπŸ™‰πŸ™ˆπŸ˜œ
*Parenting with Elly Risman's Family*
(Sara Risman)
➖➖➖➖➖➖
Si pesek di bilangnya mancung ke dalam.
Si mancung di panggil Pinocchio
Si pendek di sindir semampai (semeter tak sampai).
Si jangkung menjadi tiang listrik
Si kulit putih menyilaukan,
Si kulit hitam dianggap punya ilmu menghilang di malam hari
Si kurus di panggil korek api
Si gemuk…. saking banyaknya ejekannya… sampai tidak bisa saya sebutkan satu per satu disini.
Mengejek, menghina, menertawakan orang lain sudah terjadi dari zaman nabi-nabi yang awal (Q.S 11:38).
Hanya saja sekarang kita menggunakan istilah yang lebih keren … *verbal bully*
Memiliki nama lengkap yang … unik, menjadikan saya korban bully sepanjang yang saya ingat.
Apalagi waktu saya tinggal di Amerika, untuk lidah mereka, menyebutkan Yuhyina Maisura itu membuat wajah mereka seakan terserang stroke ringan saking susahnya.
Melewati masa remaja dengan beban itu, walaupun makna namanya adalah 'hidup yang mudah', menjadi tantangan tersendiri
Belum badan saya yang dari hari ke hari semakin mirip Babon daripada Angelina Jolie.
Karena sudah kenyaaaaanggg di bully verbal, sy jadi jago banget ngeles.
_Dan saya rasa ketrampilan ini sangat penting untuk dikuasai oleh semua orang. Terutama anak-anak._
Ada 3 cara dalam menghadapi situasi verbal bully, menurut saya.
Tujuannya sama: mendiamkan yang melakukan bully verbal.

*1. Diam*
Ini adalah cara yang paling ringan.. tapi yang paling tidak mudah.
Karena secara fitrahnya manusia tidak suka di ejek, jadi jiwa nya akan jadi down atau bergejolak untuk membalas balik hinaan tersebut.
Trik ini biasanya digunakan jika kita di hina oleh orang yang lebih tua yang tidak bisa kita hina balik, hahaha.
Atau teman yang sudah kita balas berkali2 verbal bully nya, cuma teteppppp aja melakukannya lagi dan lagi.
Entah hobby, entah jiwa nya kosong, atau mungkin dia keturunan badak.. secara di bilangin nggak masuk-masuk.
Trik ini tidak saya sarankan untuk anak-anak, kenapa? karena kalau mereka diam saja ketika menerima verbal bully, mereka lama-lama jadi percaya akan apa yang orang lontarkan terhadap mereka, dan itu berbahaya bagi manusia yang ember kepercayaan dirinya belum selesai di isi oleh orangtuanya.
Trik ini juga tidak saya sarankan untuk di iringi dengan senyum. Karena senyum adalah respon positif.
Teori psikologinya, kalau org di kasih respon positif, kecenderungan akan perilaku tersebut untuk berulang menjadi tinggi.
Kita, yang sudah gede ini, biasanya membalas dengan diam dan senyum adalah selain karena kita di besarkan dengan adab norma ketimuran, tapi juga untuk 'mengelus' perasaan kita yang sudah tersakiti dan tidak bisa membalas lagi.
Orang yang menggunakan trik ini biasanya mengharapkan dengan di cuekin , si pembully berhenti sndiri

*2. Semakin menghina diri*
Ketrampilan ini khususon untuk mereka yang ember kepercayaan dirinya sudah tinggi.
Orang-orang yang minderan, saya sarankan jangan menggunakan trik ini karena bisa malah semakin minder.
Orang-orang yang suka menghina orang lain biasanya karena aslinya diri mereka terhina, terancam dan rendah, jadi mereka harus 'menginjak' orang lain agar mereka merasa tinggi. Tujuan ini lah yang kita gunakan untuk menghentikan verbal bully.
Kalau org mau menjatuhkan kita..tp kita sudah jatuh, nggak mungkin kan di jatuhkan lagi.
Jadi contoh trik ini dalam kehidupan nyata adalah:
"Sar.. lo gemuk banget sekarang" --> "iya nih, 11-12 ama kuda nil.. ketiup angin sedikit udah nge gelinding gue"
"Lo kurus bgt sih sampe tulang keliatan semua gini" --> "Yoi,..kl lagi lowong biasanya gw kerja part-time jadi papan penggilesan"
"Perasaan lo pake baju itu mulu stiap kali ketemu" --> "ho oh nih.. Cuma pny 2 baju. Satu cuci, satu pake"
Anda bisa membuat jawaban anda sendiri.
Kesannya trik ini memang menjatuhkan diri sndiri..tp karena tujuan kita adalah mendiamkan si pembully, jadi gpp lah.
_*Selama kita tau kita nggak seburuk yang org itu katakan, asik2 aja sharusnya jawabnya.*_
Nggak pake tersinggung, ingat saja selalu dalam hati bahwa org ngejek kita karena pada dasarnya dia terhina, jadi untuk tidak terhina, cara satu2nya yang dia tau adalah menghina orang lain.
_Mungkin begitu cara dia di besarkan. Jadi maklumi saja.. kasihani._

*3. Balas tanpa menghina*
Kalau kita menghina balik (Dasar lo jelek-->lo juga miskin), kita sama rendahnya dong sm itu org.
Kalau kita membela diri (pesek lo! --> biarin aja, yang penting pnya idung), keliatan bgt kita tersinggung dan merasa harus membela diri.
Jadi balas dengan anggun.
Pastikan tidak ada kalimat hinaan di dalam kalimat kita, pun ada, buat sebagai kalimat tanya.
Allah membolehkan kok membalas (Q.S 16:126).
Dan si pembully harus tau bahwa dia salah, dan sudah menyakiti orang lain.
Contoh:
" Tambah gendut aja sar.." -->"Gendut itu tanda makmur.. kaya. Lo miskin jeng?"
"Item bgt lo sekarang kulitnya" --> *sambil pegang rambut* "Ini item cuy.. gw mah coklat. buta warna lo brooh?
"Lo ternyata tinggi bgt kyk tiang listrik" --> " iya..beda atmosfer kita ya.. gimana udara di bawah? Bisa cium kentut gw nggak?"
Tapi tentunya sebelum anak-anak bisa membela diri, orangtuanya harus membantu.
Memiliki 2 anak dengan spectrum warna kulit yang berbeda, saya selalu harus pasang badan ketika orang mengutarakan perbedaan warna mereka.
Setiap kali Raia dibilang lebih hitam dari adiknya saya selalu mengatakan 'iya.. ini susu coklat saya. Si adik susu putih. Susu putih segar, tapi susu coklat manis, ya Rai ya?"
_*Menghadapi bully verbal di perlukan konsep diri yang sangat2 bagus.*_
Kalau konsep diri orangtua nya tidak bagus, bagaimana bisa membentuk konsep diri yang positif pada anak2nya?
Itu mengapa konsep diri positif sangat penting bagi anak perempuan karena mereka yang banyak turun tangan pada pengasuhan.
*Anak-anak harus bisa membela dirinya sndiri.*
Kenapa? Karena ayah dan ibu tidak selalu ada untuk melindunginya.
Mata hanya dua, tangan terbatas jaraknya. Mereka akan melanglang buana ke ujung dunia, dan akan selalu menemui manusia-manusia berjiwa hampa yang suka sekali menghina.
_Anak anda yang suka menghina?_
Sudah waktunya buka quran bersama dan membahas surat al hujurat ayat sebelas.
Orangtua harus mengisi 'ember kepercayaan diri' anaknya begitu penuh sehingga berapapun lubang yang di tusukkan padanya, tidak akan mengeringkannya. (Alvin Price)
➖➖➖➖➖➖
#sarrarisman
NB. Jika tulisan ini di rasa bermanfaat, silahkan di share. Izin berlaku seumur hidup, jadi tidak perlu izin2 lagi.
🌾🐝🌾🐝🌾🐝🌾

Babagimana Menyikapi Masalah dalam Kehidupan?


Bagaimama cara kita menyikapi masalah merupakan sebuah cara tepat untuk memperoleh masalah. Coba kita perhatikan bagaimana Islam menjawab berbagai macam pertanyaaan berikut ini:

1) Ketika kita mengeluh:
"Ah mana mungkin….
"Allah menjawab :
"Jika AKU menghendaki, cukup Aku berkata"Jadi", maka jadilah (QS. Yasin : 82)
 
2) Ketika kita mengeluh:
"Wah, letih sekali….
"Allah menjawab :
"…dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat." (QS.An-Naba : 9)

3) Ketika kita mengeluh:
"Berat sekali ya, gak sanggup rasanya…
"Allah menjawab :
"AKU tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dgn kesanggupan." (QS. Al-Baqarah : 286)

4) Ketika kita mengeluh:
"Stress nich, bingung?!
"Allah menjawab :
"Hanya dengan mengingatKu hati akan menjadi tenang". (QS. Ar-Ra'd : 28)

5) Ketika kita mengeluh:
"Yah, ini mah bakal sia-sia..deh! 
"Allah menjawab :
"Siapa yg mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah-pun niscaya ia akan melihat balasannya". (QS. Al- Zalzalah : 7)

6) Ketika kita mengeluh:
"Saya sendirian, gak ada seorgpun yang mau membantu…
"Allah menjawab :
"Berdoalah (mintalah) kepadaKU, niscaya Aku kabulkan untukmu". (QS. Al-Mukmin :60)

7) Ketika kita mengeluh:
"Sedih sekali rasanya…
"Allah menjawab :
"La Tahzan,..Innallaha Ma'ana... Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita:. (QS. At-Taubah : 40)

8) Ketika kita mengeluh:
"Ampun..susah banget ini kerjaan…
"Allah menjawab : 
"Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan-kemudahan" (QS. Al-Insyirah : 6-7)

Semoga bermanfaat. #selfreminder

Tidak Perlu Ayah (jika hanya) untuk Cari Nafkah...

Maaf, mungkin agak terdengar sombong jika kalimat ini terlontar dari mulut seorang isteri, atau bahkan seorang anak.

Karena sesungguhnya, salah satu tugas seorang lelaki adalah menafkahi keluarganya, baik sebagai suami, sebagai Ayah maupun sebagai anak kepada orang tuanya yang sudah sepuh.

Namun faktanya, tak sedikit para lelaki yang menggadaikan kehormatannya lantaran tak menjalankan perannya mencari nafkah.

Ini bukan soal besar kecil hasil yang didapat, tetapi soal menjalankan perannya dalam keluarga.

Tak sedikit pula yang perannya mencari nafkah justru tergantikan oleh isteri atau bahkan anaknya. Setidaknya kalaupun bukan tergantikan, ya sedikit tergeser lah. Coba lihat,  banyaknya perempuan yang justru "terpaksa" bekerja lantaran peran suaminya dirasa kurang, dalam bahasa yang lebih lugas, uang belanja suami tak mencukupi. Maaf, saya tak bicara soal perempuan yang bekerja karena memang mereka senang dan bagian dari aktualisasi diri. Untuk yang satu ini, saya cukup menghargai.

Kenapa tiba-tiba saya mengangkat tema yang sangat sensitif ini?
Sabar. Bukan tema ini yang saya akan bahas, tetapi tentang peran Ayah yang sebenarnya bukan hanya soal nafkah. Karena kalau cuma soal nafkah, sorry bung, kini peran itu juga banyak dilakukan oleh perempuan (isteri atau ibunya anak-anak), dan bahkan oleh anak-anak. Lihat saja anak jalanan, orang tuanya ada, malah leyeh leyeh di bawah pohon sementara anaknya ngamen di lampu merah dengan resiko tertabrak, atau pelecehan.

Ini sebenarnya gara-gara saya tak sengaja mendengar sebuah percakapan sepasang suami isteri. "Ayah sudah lelah mencari nafkah, urusan sekolah anak-anak itu urusan ibu..." kata si Ayah ke ibunya anak-anak.
Di kesempatan lain, juga pernah dengar seperti ini, "Bu, tolong hargai Ayah, setiap Ayah pulang rumah selalu berantakan. Kamu ngapain aja sih? Ayah capek kerja seharian, sampai rumah lihat rumah berantakan begini..." tanpa peduli lagi pada kenyataan bahwa setiap jam rumah dirapihkan, dan hanya butuh waktu lima menit akan kembali berantakan oleh ulah anak-anak.
Terus? Kalau sudah mencari nafkah, Ayah nggak perlu direpotkan sama urusan pendidikan anak? Belajarnya anak, antar ke sekolah, rapat orang tua murid dan urusan lainnya.

Kalau sudah mencari nafkah, Ayah jadi haram pegang sapu? Bersih bersih rumah, bantu isterinya yang sejak bangun pagi sampai tengah malam sibuk dengan urusan rumah yang (memang) nggak ada habisnya?
Sederhananya, memangnya fungsi Ayah cuma cari nafkah?

Seringkali sosok Ayah ada di rumah, tetapi hanya fisiknya yang hadir, tidak jiwanya, tidak perannya.
Anak bertanya soal pelajaran, lalu dengan enteng berkata, "Tanya ibu sana, Ayah capek..." padahal sedang main gadget.

Sosok Ayah harus hadir secara utuh di rumah, bagi isterinya, bagi anak-anaknya, bagi keluarganya. Keluarga perlu warna seorang Ayah, karena peran Ayah sebagai kepala keluarga, sebagai pemimpin, bukan cuma sebagai pencari nafkah.
Sosok Ayah perlu hadir untuk memberi rasa aman, nyaman, ketenangan dan percaya diri seluruh anggota keluarga. Jangan sampai justru ada Ayah malah bikin nggak nyaman, hati-hati. "Tenang, ada Ayah..." kalimat ini suatu waktu mungkin keluar dari mulut bocah-bocah karena lelaki itu memang benar-benar bisa diandalkan. Tangguh.
Ketidakhadiran Ayah sejatinya dirindukan, oleh isteri maupun anak-anaknya. Jangan abaikan pesan singkat dari anak misalnya, "Ayah jam berapa pulang?" Ada rindu tersirat dari kalimat itu.
Dua tiga hari Ayah tak pulang karena tugas kantor, suasana rumah jadi terasa sepi, isteri dan anak-anak merasa kurang aman dan nyaman. Jika masih seperti ini, tersenyumlah. Artinya sosok Ayah masih sangat dibutuhkan sebagai pelindung, pengayom dan pemberi rasa aman.

Hadirnya sosok Ayah juga menjadi contoh baik bagi anak lelaki, menjadi contekan bagi anak perempuan kelak mencari pasangan. Pernah kah anak perempuan Anda berkata, "Aku ingin punya suami kelak seperti Ayah" ... Ah, indahnya kalimat itu terdengar.

Hadirnya seorang Ayah secara utuh, bukan soal seberapa banyak waktu yang dipunyai di tengah kesibukan bekerja. Sebab, nyatanya masih banyak Ayah yang bisa tetap "hadir" di keluarganya meski waktunya tak banyak. Ini soal peran, bukan soal waktu. Ini tentang kesadaran, bukan tentang seberapa sejahteranya sebuah keluarga. Peran ini, tak bicara soal pangkat, status sosial, apalagi soal besar kecilnya gaji sang Ayah.

Satu lagi, lelaki yang dipanggil Ayah ini pun bukan sosok yang bikin suasana rumah jadi tegang, serius apalagi angker. Anak-anak nggak hanya butuh Ayah sebagai orang tua, tetapi juga butuh sahabat bercerita, teman bermain, lawan berkelakar, atau "best frend" yang bisa digandeng ke tempat hiburan misalnya.

Ah terlalu panjang rasanya bahas peran Ayah. Bukan kapasitas saya juga bahas parenting disini, belum apa-apa, saya cuma seorang Ayah yang terus belajar untuk menjadi Ayah yang lebih baik dan suami yang inggin selalu dirindukan.

Agar semoga sosok ini selalu dirindukan, ada dan tiadanya nanti. Tak tergantikan di hati seluruh anggota keluarga, sampai kapanpun, kapanpun.

Eh iya, nafkah dari Ayah tetap perlu kok. Ya kan bu?
#selfreminder

Puasa Berkah dengan 10 Amalan Ramadhan



10 Amalan di Bulan Ramadhan

1. Memperbanyak Qiyamul Lail

"Barangsiapa melakukan Qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni"
(HR. Bukhari No. 37 dan Muslim No. 759)

Qiyamul lail dan puasa itu seperti saudara kembar. Siang Hari Kita Puasa, malam hari kita Qiyamul lail

2. Mengakhirkan Sahur

Rasulullah bersabda
"Bangunlah pada waktu sahur karena waktu sahur penuh berkah"

3. Menyegerakan Berbuka Puasa

"Manusia akan sentiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

4. Menahan Hawa Nafsu

Dari Abu Hurairah Radhiallahu'anhu, Bahwa Rasulullah SAW bersabda " Shaum itu benteng, maka (orang yang melaksanankannya) janganlah berbuat kotor dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah Aku sedang Shaum"
(HR Bukhari)

5. Memperbanyak Tilawah Al Qur'an

"Semua amalan anak adam akan dilipatgandakan (balasannya), satu kebaikan akan dibalas dengan 10 sampai 700 kali lipat." Allah Swt. berfirman: "Kecuali puasa, sesungguhnya itu untuk-Ku, dan Aku yang langsung membalasnya. Hamba-Ku telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku." (HR. Muslim)

6. Memperbanyak zikir dan do'a

"satu zikir di bulan lain bernilai satu kebaikan, maka di bulan Ramadhan ia akan berlipat ganda pahalanya. (QS. Az-Zumar [39]: 10)

7. Mengeluarkan Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf

"Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: "Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan". Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah." (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)

8. Memberikan Makanan Berbuka Puasa

"Barang siapa yang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang berpuasa itu" (Shohih Nasa'i dan Tirmidzi)

9. Melaksanakan Iktikaf

Inilah amalan ramadhan yang selalu dilakukan Rasulullah saw. I'tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribada kepada Allah swt. Abu Sa'id Al-khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah beri'tikaf pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan paling sering di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

10. Menggapai Lailatul Qadar

"Barangsiapa yang shalat pada malam lailatul qadar berdasarkan iman dan ihtissab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ya Allah, Engkaulah Pemilik Ampunan dan Engkaulah Maha Pemberi Ampun. Ampunilah aku.


Dikirim dari iPhone
085850507845
info.adam@gmail.com

Si jahat membuat masalah.




Si jahat membuat masalah.

Si picik memperbesar masalah.

Si awam membicarakan masalah.

Si hebat menuntaskan masalah.

Si bijak mensyukuri adanya masalah.

Si jeli melihat peluang dari masalah.

Si soleh naik derajat karena masalah.

Dengan kata lain, tidak ada yang salah dengan masalah. Jadi, buat apa resah dan gelisah? Kendati tidak mudah, sikapi saja dengan benar, niscaya semua akan berakhir indah. Jadikan saja MASALAH itu sebagai "MASa indAh Lebih dekat dengan ALLAH".

Bagi manusia modern, salah satu yang dianggap masalah adalah pekerjaan kantor. Btw, apa benar itu masalah? Atau sikap dan cara berpikir kita yang salah? Jika Lillah (karena Allah) tak akan Lelah, masalah akan lebih mudah.. Insya Allah..

Riset yang dihelat oleh Centre for Work and Life di Universitas Australia Selatan mengulik fakta bahwa seorang yang bekerja penuh adalah orang yang paling jarang merasa bahagia. Ini karena banyaknya tekanan pekerjaan yang harus dilakoni, mulai dari pekerjaan kantor, pribadi dan kadang urusan rumah.

Lebih lanjut riset tersebut menjabarkan, kaum hawa lebih rentan terkena stress dan depresi akibat bekerja full-time, ketimbang pria. Sejak 2007 hingga 2010 telah terjadi peningkatan sebanyak 10 persen bahwa pekerjaan kantor seringkali menggangu aktivitas di luar kantor.

Lalu pada 2010, sekitar 25 persen kaum hawa yang bekerja full-time merasa tidak puas dengan kehidupan pekerjaannya. Nah, di sini kita perlu berhati-hati karena tekanan pekerjaan bisa berakibat buruk bagi kesehatan, terutama jantung. Waduh!

Penelitian lain yang diterbitkan jurnal Occupational And Environmental Medicine mengungkapkan bahwa kaum hawa yang bekerja di bawah tekanan ternyata dapat berakhir dengan jantung koroner. Bagi pria bisa struk. Nah lho!

Hati2 dgn jantung anda!
Jangan diskon bahagia anda dgn kerja. Bekerja namun harus tetap bahagia!

Happy MONey DAY!


Dikirim dari iPhone
085850507845
info.adam@gmail.com

Sebuah Komitmen yang Susah Senang Dijalani


Dalam sebuah pertemuan pimpinan yang dihadiri oleh pejabat eksekutif semua yang hadir mininta komitmen untuk mencapai target perusahaan dalam satu semester kedepan. Dan semuanya bersedia, namun ada yang menarik perhatian saya salah seorang peserta mengatakan kalau komitmen ya komitmen saja, diusahakan, jika tidak tercapai kan bisa dikoreksi. Hingga pada akhirnya saya mencoba mengulas makna sebuah komitmen.

Komitemen merupakan keterikatan, janji atau sesuatu yang susah senang dijalani, komitmen sebuah kata sederhana yang menyimpan banyak konsekuensi. Misalnya komitmen pernikahan yang berdampak jauh sekali dimana menghadirkan hak dan kewajiban suami dan istri hingga pada anak-anak tak berhenti disitu saja, hingga tua atau bahkan tiada. Misalnya lagi komitmen agama lebih dalam lagi, dalam Islam seorang yang bershadat (berkomitmen pada Tuhan) berdampat sangat dalam, sebagai muslim ada hal yang halal maupun haram atau banyak konsekuensi lainnya. Begitu pula dalam bisnis, sebuah komitmen selayaknya dijaga, benar-benar dibuktikan tak hanya diucapkan.




Loyalitas Adalah Akibat



Loyalitas dalam kamus didefinisikan sebagai kesetiaan, kepatuhan. Namun kadangkala kita menjumpai seorang yang loyal lebih identik dengan "yes man", sebaliknya seorang yang tidak "yes man" dianggap tidak loyal. Saat loyalitas dimaknai sebagai kepatuhan buta maka akan terjadi masalah besar dimana adanya kesenjangan antara idealisme dan kenyataan.

Bagi saya loyalitas adalah buah dari apa yang kita tanam, akibat dari suatu sebab. Loyalitas adalah salah satu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, bisa didapatkan namun tak bisa dibeli. Tim yang loyal tak perlu diminta loyal.