Melihat Dari Berbagai Sudut Pandang

Seringkali manusia dalam bertindak terbatas karena sudut pandangnya.

Kacamata Kehidupan

Bila hari ini lebih baik dari kemarin berarti anda beruntung.

Manajemen Resiko Level 1 dan 2

Sertifikasi Manajemen Resiko ditujukan bagi pengurus dan pejabat bank dengan tujuan meningkatkan kualitas manajemen risiko perbankan Indonesia dan corporate governance.





Diselenggarakan oleh Badan Sertifikasi Manajemen Risiko, Suatu badan independen yang diinisiatif oleh Bank Indonesia dan didirikan oleh IRPA (Indonesian Risk Profesional Association).

Berikut wokrbook Manajemen Resiko Level 1 dan 2. Siahkan didownload di link berikut.

Peraturan Penting Seputar Perbankan

Pengetahuan tentang dasar hukum menjadi penting untuk diketahui karena berhubungan dengan aturan-aturan yang harus dilakukan dalam pelaksanaannya. Berikut ini adalah peraturan penting seputar perbankan meliputi undang-undang tentang perbankan, Bank Indonesia atau BI, Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS, Otoritas Jasa Keuangan atau OJK.


Silahkan download landasan hukum seputar perbankan antara lain:


  1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
  2. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan 
  3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia
  4. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan
  5. Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan


Daftar Perusahaan FINTECH Resmi OJK

Financial Technology atau biasa disebut FINTECH telah diatur oleh POJK No 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang berbasi Teknologi Informasi. Adapun POJK No 77/POJK.01/2016 dapat didownload disini.



Berikut daftar perusahaan FINTECH (FINancial TECHnology) yang resmi terdaftar dan diawasi oleh OJK (posisi terakhir September 2017):

Materi Kuliah tentang Manajemen Perbankan & Produk Bank

Materi Kuliah tentang Manajemen Perbankan & Produk Bank


Untuk mendapatkan materi kuliah dapat dilakukan dengan cara
Kirim email ke:  info.adam@gmail.com
Subject: Materi pertemuan kuliah perbankan

Atau dengan cara langsung download materi disini:
- Manajemen Perbankan
- Produk Bank

Kajian Pengembangan Produk dan Layanan BPR

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank sebagaimana tercantum dalam Undang-undang No 10 tahun 1998 tentang perbankan meupakan bank yang memiliki peran sebagai lembaga intermediasi keuangan yang dibentuk unutk melayani kebutuhan jasa perbankan bagi masyarakat terutama pada segmen mikro, kecil dan menengah, serta bagi segmen pasar yang tidak terlayani oleh bank umum.
 


Dalam kesempatan kali ini Otoritas Jasa Keuangan atau OJK telah membuat semacam kajian bagaimana pengembangan Produk dan Layanan BPR agar secara kelembagaan eksistensi BPR dapat memberi sumbangsih pembangunan dan berperan dalam memajukan ekonomi negara.

Berikut buku kajian pengembangan produk dan layanan BPR oleh OJK. Silahkan didownload disini.

Pilih Pancing atau Ikan

Ada seorang pemuda yang sedang duduk santai dipinggiran trotoar jalan sambil menikmati keindahan dan suasana dijalan yang banyak pejalan kaki. Ceritapun bermula..


Ada orang bijak yang bertanya filosofis kepada pemuda tersebut.

"Kalau anda disuruh pilih, mau pilih pancing (alat mancing) atau milih ikan 500 kg?"

Dia (pemuda) menjawab, "saya pilih ikan 500 kg" 

Orang bijak geleng-geleng kepala sambil ketawa.... dan berkata dengan bijak.. 
"Anda jauh dari kebijaksanaan. Apakah anda tidak tahu bahwa 500 kg ikan bisa habis dimakan sedangkan alat mancing bisa untuk memancing ikan terus menerus selamanya"

Dia (pemuda) menjawab, 
"Anda yang terlalu naif. 500 kg ikan kalau dijual seharga 50 ribu per kilo ... berarti 25 juta, sedangkan alat mancing harganya hanya sekitar 500 ribu, beli 10 set hanya sekitar 5 juta. Saya bisa bayar 5 juta untuk menggaji 10 orang untuk memancing ikan bagi saya.  Dan bisa ambil 5 juta untuk bersedekah. Sisa uang bisa dibuat hal lain-lain, misalnya mengajak teman-teman untuk berburu. Bahkan sambil main catur bisa sambil menjaga orang-orang yang memancing ikan. Ikan hasil mancing bisa saya jual lagi. Hasilnya saya buat kolam, sebagian ikan saya ternak sampai bisa menghasilkan, lalu saya jual lagi. Setelah panen lalu sebagaian keuntungan saya belikan ikan lagi dan seterusnya.  Nah, hobby mancing saya tersalurkan, bisa bersedekah, bisa bersosialisasi, bisa membuka lapangan pekerjaan, dapat untung pula"

Orang Bijak, "Kamu orang mana?" 

Dia jawab, "Jombang" 

Orang Bijak, "😅😄😃😂"

Manusia "amfibi" Menjadi Karyawan Juga Pengusaha

Sering menjumpai seorang berstatus karyawan sebuah perusahaan, namun pada saat yang sama juga memiliki usaha alias berstatus pengusaha. “Sebaiknya apa yang saya lakukan, saya bingung diantara dua hal ini: bekerja sebagai karyawan atau menjadi pengusaha?”.

Bukan tidak mungkin hal tersebut kita jumpai di masyarakat kita. Bisa disebut sebagai manusia "amfibi" yang hidup di dua dunia yaitu sebagai karyawan juga sebagai pengusaha. Waktunya dibagi sebagai karyawan dan pengusaha. Bukan pengusaha tulen. Bukan pula 100% karyawan.
Pertanyaan seperti di atas, biasanya muncul pada anak-anak muda yang masih sangat tergantung pada gaji untuk menopang hidupnya sehari-hari namun memiliki semangat wirausaha. Usianya yang muda membuatnya mampu bekerja siang malam nyaris tanpa lelah. Atau bisa juga pertanyaan itu muncul dari karyawan senior yang ingin berwirausaha, sudah mencoba, namun ketergantungannya pada gaji membuatnya takut melangkah penuh menjadi pengusaha.
Berikut pendapat pribadi saya dan sebagian sudut pandang Nukman Lutfi terhadap kondisi tersebut, mari kita simak:
Pertama: Hidup sebagai amfibi itu kurang optimal
Bagaimana pun, waktu itu hanya 24 jam sehari. Seorang karyawan yang baik, sedikitnya mencurahkan 8 jam sehari demi kemajuan perusahaan yang memberinya lapangan kerja dan menggajinya dengan baik. Mereka yang bekerja dengan baik, biasanya cukup lelah selama kerja, sehingga waktu di luar jam kerja dimanfaatkan betul untuk istirahat, menikmati hiburan dan bersosialisasi.
Karyawan yang baik tidak akan mencuri waktu kerjanya untuk hal-hal di luar kebutuhan kerja, baik untuk mengurusi bisnisnya sendiri atau mengerjakan pekerjaan lain yang biasanya disebut sebagai moonlighting.
Sebaliknya, pengusaha menghabiskan 24 jam sehari untuk  membangun dan membesarkan usahanya. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur, nafasnya adalah mengembangan usaha.
Maka mereka yang hidup di dua dunia ini akhirnya akan lelah sendiri dengan dua risiko: prestasinya sebagai pekerja tidak akan istimewa dan bisnisnya pun sulit berkembang.
Kedua: Sulit mencari amfibi yang sukses
Sampai hari ini saya kesulitan menemukan sosok sukses seorang amfibi. Jauh lebih mudah menemukan pengusaha yang berhasil atau karyawan yang berprestasi. Alasan pertama di atas menjadi penyebab utamanya. Sulit berhasil dan berprestasi di dua dunia yang memerlukan pemikiran dan perhatian optimal.
Oleh karena itu, kepada para karyawan/pengusaha amfibi, saya menyarankan:
Satu: kalau bisa, keluarlah dari status amfibi dan menjadi karyawan atau pengusaha tulen
Dengan menjadi yang tulen, potensi kita untuk menjadi karyawan berprestasi akan jauh lebih besar. Banyak contoh karyawan berprestasi yang bisa hidup mapan dan bahagia.
Dengan menjadi tulen pula, potensi dan peluang kita membesarkan usaha terbuka semakin luas. Banyak contoh seorang yang semula karyawan dan memutuskan sepenuhnya menjadi pengusaha dan kini menuai sukses.
Dua: tetapkan waktu kapan menjadi karyawan atau pengusaha tulen
Bagi yang sudah bertahun-tahun menjadi amfibi, memang sulit untuk memutuskan menjadi tulen. Untuk mempermudahnya, tetapkan waktu kapan untuk menjadi tulen,  misalnya paling lama setahun dari sekarang. Dengan demikian kita dapat membuat perencanaan matang keluar dari kungkungan amfibi.
Ketiga: bila terpaksa menjadi manusia "amfibi" lakukan dengan sangat bijaksana
Kadangkala rencana jauh berbeda dengan realita, sehingga kita wajib menyikapinya dengan bijaksana. Bila memang sulit melepaskan status amfibi maka lakukan dengan ekstra hati-hati. Pilihlah bisnis yang sudah autopilot dimana tidak membutuhkan kehadiran kita karena sudah ada tim yang melakukannya. Tanpa mecuri-curi waktu dan perhatian sebagai karyawan. Jadilah karyawan yang diatas rata-rata dimana berskonstribusi terhadap kemajuan perusahaan.

Karyawan Pilih Investasi atau Bisnis?

Mungkin tidak hanya anda yang baru lulus kuliah dan merasakan dunia perkantoran, bisa jadi anda yang sudah lama di dunia kerja bisa jadi anda sedang memikirkan hal tersebut? Lalu, tawaran demi tawaran muncul, ada yang menawarkan 'bisnis' ada juga yang menawarkan 'investasi', tapi mana sih yang cocok untuk seorang karyawan?



Nah, bagi para karyawan yang merasakan penghasilannya kurang dan ingin penghasilan lebih baik namun tidak mengetahui apa yang harus dilakukan tentu akan mencari solusi untuk menyiasati keadaan ini. Umumnya, solusi akan ditawarkan dari lingkungan karyawan itu sendiri, ada saja teman yang mengajak bisnis untuk menambah penghasilan, ataupun adapula yang mengajak berinvestasi untuk 'menernak' uangnya. Namun, sebelum jauh membahas apa yang cocok bagi karyawan, akan lebih baik bilamana kita mengetahui apa itu bisnis dan investasi.



Dari segi definisi, investasi dan bisnis itu sama tapi beda, investasi itu sama dengan bisnis tapi investasi bisa diartikan penanaman modal tak langsung, kalau bisnis penanaman modal langsung. Lalu, berbicara mengenai bisnis dan investasi, mana yang lebih cocok bagi karyawan? Untuk menjawabnya, harus diketahui dulu tujuannya, untuk apa bisnis? Untuk apa investasi? Bila anda yang berprofesi sebagai karyawan memilih berbisnis untuk menambah penghasilan bulanan, maka ketahui pilihannya, karena bisnis bagaimanapun membutuhkan keberanian, keahlian dan ketekunan. Namun, bagi seorang karyawan harus diingat bahwa waktu menjalankan bisnis yang terbatas karena status sebagai karyawan, dan bisnis terancam tidak akan optimal. Selain itu, harus hati-hati bisnis yang dijalankan akan mengganggu pekerjaan utama karena konsentrasi terpecah, ingat! status utama adalah sebagai karyawan. Bila anda menjalankan bisnis saat jam kerja maka anda bisa "cacat integritas" bukankah perusahaan mengaji anda untuk bekerja bukan berbisnis pribadi!

Selanjutnya, bila anda sebagai seorang karyawan yang berinvestasi untuk menambah penghasilan maka perlu diketahui bahwa bila ingin memetik hasil dari investasi itu butuh waktu agar investasinya berkembang. Namun, ketika anda memilih untuk berinvestasi dan sabar, maka anda akan memetik hasilnya di masa depan. Saya akan mencoba menjelaskannya dengan meberi contoh sederhana: Misalkan anda seorang karyawan, bayangkan kalau sekali makan diluar sekalian nonton bioskop menghabiskan Rp 200.000,- dan misal satu bulan bisa 3x maka jadi Rp 600.000,-. Nah, tahukah anda? Ternyata, bila diinvestasikan setengahnya saja yaitu Rp 300.000 dalam jangka waktu 5 tahun di reksa dana saham dengan imbal hasil 20% maka hasilnya bisa jadi Rp 30-an juta! Hampir 2 kali lipat dari anda menabung di bank, luar biasa bukan?

Tapi sebetulnya, bila kita berbicara mengenai sesuai mana bagi karyawan, 'bisnis atau investasi?' Maka dikembalikan pada karyawan tersebut. Untuk jangka pendek mungkin bisnis bisa membantu menambah pemasukan bulanan meski harus memilih bisnis yang tidak mengganggu waktu kerja seperti waralaba atau join saham usaha teman yang bisnis. Atau bisa juga melakukan bisnis dari keahlian dan hobi, seperti fotografi atau bahkan menyanyi saat selesai jam kerja/ weekend! Namun, bagi karyawan yang ingin mencapai tujuan keuangan untuk jangka panjang seperti pensiun atau pendidikan anak, tentu investasi menjadi jawabannya.

Terlepas dari itu semua, apapun pilihan anda baik itu bisnis atau investasi, pelajari terlebih dahulu dan pastikan bisnis yang anda jalankan terkait resikonya dan tidak menganggu pekerjaan, benar dan tidak melanggar aturan yang berlaku di perusahaan. Bilapun anda berinvestasi, maka pelajari juga produknya, jangan sampai salah investasi apalagi investasi bodong, selain itu, pastikan investasi yang anda lakukan sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan anda!

Membangun Passive Income


Semakin banyak aset yang kita miliki maka bisa jadi semakin besar pula uang yang kita dapatkan dari sumber passive income. Sebagai orang yang ingin membangun passive income, kita harus fokus membangun aset.



“An Asset is something that puts money in my pocket.
A Liability is something that takes money out of my pocket.”


Aset seperti apa yang harus dibangun guna memiliki passive income? Setidaknya ada 5 aset yang dapat menjadi sumber passive income Anda. Ini dia 5 aset yang dapat menjadi sumber passive income.

1.  Properti yang Disewakan

Masih ingat dengan contoh hunian kos-kosan yang saya bahas di posting sebelumnya?
Hunian kos-kosan yang disewakan bisa menjadi salah satu aset sumber passive income Anda. Ketika sebuah rumah disewakan sebagai hunian kos-kosan maka rumah tersebut menjadi aset. Mengapa? Karena ada orang yang tinggal dan membayar biaya sewa atas rumah tersebut. Bayangkan kalau Anda punya sebuah hunian kos-kosan yang menampung 8 orang. Dari setiap orang, tiap bulannya Anda menerima uang sewa 1 juta Rupiah. Jadi, jika 1 juta Rupiah x 8 orang maka dalam sebulan Anda bisa mendapatkan omzet 8 juta Rupiah.
Ingat, ini masih berupa omzet. Omzet ini nantinya akan dikurangi dengan biaya pengelolaan rumah kos-kosan. Contoh biaya dalam pengelolaan rumah kos-kosan misalnya : biaya gaji asisten rumah tangga, biaya listrik, biaya internet, dan sebagainya.
Jika Anda ingin memiliki passive income, salah satu aset yang dapat Anda bangun adalah properti. Miliki properti dan kemudian sewakan properti tersebut. Uang sewa dari properti tadilah yang bisa menjadi passive income bagi Anda.

2. Pendapatan dari Investasi Pada Aset-Aset Kertas

Contoh investasi pada aset kertas misalnya : reksadana, saham, kontrak berjangka, dan lain-lain. Jika Anda tidak tertarik untuk berinvestasi pada aset nyata seperti properti, Anda dapat mencoba berinvestasi pada aset kertas seperti reksadana atau saham.
Ketika kita mampu menjalankan investasi dengan baik, maka aset-aset kertas (misal : reksadana) yang kita miliki dapat menjadi sumber passive income. Pendapatan dari investasi saham atau reksadana inilah yang dapat menjadi passive income Anda. Saat Anda berinvestasi pada reksadana maka Anda tidak harus aktif bekerja. Justru sebaliknya, uang yang Anda miliki yang akan bekerja untuk Anda.

3. Royalti


Ketika Anda memiliki hak cipta atas sebuah karya, maka Anda berhak untuk mendapatkan royalti atas penggunaan karya-karya Anda. Salah satu profesi yang dibayar dengan royalti adalah profesi penulis buku. Penulis buku mendapatkan bayaran dalam bentuk royalti atas buku-buku yang ia tulis. Salah satu sumber passive income saya adalah dari royalti sebagai penulis.
Tak hanya penulis buku, profesi seperti musisi (pencipta lagu) juga merupakan contoh profesi yang biasanya dibayar dengan royalti. Ketika kita menciptakan sebuah lagu, lalu lagu tersebut dipakai untuk soundtrack acara televisi, diputar di radio/di ruang publik, maka kita berhak atas royalti. Royalti ini akan terus dibayarkan selagi karya kita masih dibeli/dipakai oleh orang lain. Nah, dari pembayaran royalti inilah kita bisa mendapatkan income meski kita tidak aktif bekerja.
Jadi, bagi Anda insan-insan kreatif, Anda dapat membangun aset dalam bentuk karya-karya yang menghasilkan royalti. Banyak orang tua yang melarang anaknya untuk jadi seniman ataupun penulis. Mereka berasumsi bahwa profesi penulis dan seniman merupakan profesi yang tidak bisa diandalkan untuk membiayai hidup. Padahal, anggapan semacam ini belum tentu tepat. Mengapa? Karena profesi penulis/seniman termasuk profesi yang dibayar dengan royalti. Si penulis atau siapapun yang punya hak cipta bisa terus dibayar dengan royalti selagi karyanya digunakan oleh orang-orang.
Hanya saja, memang untuk menjadi penulis/seniman yang kaya jelas butuh proses dan perjuangan.

4. Bisnis yang Berjalan Secara Otomatis

Aset ke-4 yang dapat dibangun guna menghasilkan passive income adalah bisnis yang berjalan secara otomatis. Bisnis yang berjalan secara otomatis adalah bisnis di mana sang pemilik (owner) tidak harus terlibat dalam proses operasional bisnis. Ketika seorang pemilik bisnis bisa meninggalkan proses operasional dan bisnisnya tetap berjalan, maka saat itu juga si pemilik bisnis mendapatkan passive income. Mengapa? Karena ia tidak harus terlibat dalam proses operasional bisnisnya. Ia tidak harus bekerja secara aktif, tetapi uang tetap mengalir ke kantongnya.
Untuk memiliki aset dalam bentuk bisnis yang berjalan secara otomatis, ada dua cara yang dapat kita gunakan. Dua cara tersebut antara lain :
  • membeli sistem bisnis (waralaba), atau
  • membangun bisnis sendiri yang nantinya dapat berjalan secara otomatis.
Contoh bisnis waralaba misalnya restoran cepat saji KFC, McDonald’s, Indomaret, Alfamart dan masih banyak lagi. Ketika kita membuka bisnis dengan sistem waralaba, maka kita akan membeli sistem bisnis (waralaba) dari pemilik waralaba (franchise). Nah, sistem yang kita beli tadilah yang akan dipakai sebagai bisnis kita nantinya. Proses operasional bisnis kita akan sama dengan bisnis-bisnis lain yang satu brand dengan kita. Ambil contoh, Anda membeli franchise KFC, maka cabang KFC yang nanti Anda buka juga akan sama (atau setidaknya mirip) dengan cabang KFC di tempat lain. Untuk memiliki bisnis dengan sistem waralaba, maka Anda perlu memiliki modal uang untuk membeli franchise tersebut.
Cara kedua yang dapat digunakan apabila ingin punya bisnis yang berjalan secara otomatis adalah dengan membangun bisnis Anda sendiri. Apapun bisnis yang akan Anda bangun, Anda harus punya misi untuk menjadikan bisnis Anda berjalan secara otomatis. Jika keinginan Anda adalah memiliki passive income, maka mau tidak mau, Anda harus mengarahkan bisnis Anda ke bisnis otomatis. Usahakan bisnis Anda dapat berjalan tanpa campur tangan Anda dalam proses operasional.
Contoh, Anda membuka warung mie ayam. Nah, upayakanlah agar warung mie ayam ini nantinya dapat berjalan secara otomatis tanpa Anda harus terlibat dalam operasional warung tersebut. Jika warung mie ayam Anda sudah bisa berjalan secara otomatis, maka Anda berhasil memiliki sumber passive income.

5. MLM (Multi Level Marketing)

Aset ke-5 yang juga dapat dibangun guna menghasilkan passive income adalah MLM (multi level marketing). Terlepas dari berbagai pro dan kontra masyarakat terhadap MLM, MLM tetap merupakan sumber passive income. Bagi mereka yang sungguh-sungguh tekun menjalankan MLM, maka mereka akan memiliki aset dalam bentuk network, yang mana network/jaringan inilah yang nantinya akan menghasilkan uang ke kantong mereka.
Dari ke-5 aset di atas, saya pribadi lebih memilih fokus pada 4 aset pertama yakni : properti, investasi aset kertas, royalti, dan bisnis yang berjalan secara otomatis. Mengapa tidak MLM?
Saya tidak alergi pada MLM. Hanya saja, pada dasarnya saya kurang cocok (tidak nyaman) dengan MLM. Alhasil ketika ada teman yang menawari saya untuk join di MLM mereka, hampir pasti saya akan menolak.

Tak jadi soal aset mana yang ingin Anda bangun, yang penting Anda mau berkomitmen dan berproses untuk membangun aset tersebut. Mulai sekarang, mari kita bangun aset yang lebih banyak lagi dan lebih bermanfaat.

sumber: jagoanpassiveincome.com

Forex vs Saham dalam Perspektif Seorang Trader


 
Setelah sekian lama saya bergelut di dunia saham khususnya di bursa IDX, saya menemukan banyak kelemahan terkait regulasi di bursa atau nature dari saham itu sendiri yang menyebabkan 'disadvantage' bagi investor atau trader.

Berikut adalah beberapa diadvantage utama dari trading saham:

1. Market satu arah
Trading saham di bursa Indonesia hanya bisa dilakukan satu arah artinya anda hanya bisa buy suatu saham dan kemudian sell saham tersebut. Profit hanya anda bisa dapatkan ketika harga sahamnya naik. Hal ini menyulitkan karena pada masa-masa downtrend kita tidak bisa atau sulit sekali mendapatkan profit.
FOREX: memungkinkan untuk 2 arah, sehingga pada apapun kondisi market uptrend / downtrend, tetap bisa mendapatkan profit.

2. Harga gap up / gap own ketika opening market atau preclosing.
Trader seringkali direpotkan oleh 'permainan' big money yg pada waktu opening / preclosing membuat gap down / up. Terutama sekali ketika opening dimana harga gap down dalam, biasa sudah jauh dibawah batas cutloss kita dan membuat decision menjadi sulit.
FOREX : Market forex adalah 24 jam 5 hari seminggu, sehingga membuat kecil sekali kemungkinan untuk terjebak dalam situasi gap up / down.

3. Ketidak seragaman platform trading
Masing-masing sekuritas memiliki platform trading yang sifatnya proprietary dan tidak seragam. Hal ini menyulitkan bagi trader / investor untuk berganti sekuritas.
Bila sekuritas tidak memberikan layanan dengan baik, dan trader tersebut pinda sekuritas, maka dia harus mempelari lagi dari awal platform trading sekuritas yang baru.
FOREX : De facto standard platform trading forex adalah MT4, apapun pilihan broker nya.

4. Tidak ada (sedikit sekali) fasilitas Automated Trading
Hanya segelintir sekuritas saja yang memiliki fitur ini pada platform mereka, beberapa yang saya tahu adalah KDB Daewoo dan IPOT. Penggunaan fitur ini cukup kompleks.
Namun fitur ini hanya sebatas untuk mengeksekusi order berdasar kondisi tertentu yang sangat sederhana, misalkan posisi bid / offer suatu saham.
Platform tersebut tidak dapat di program dengan menggunakan algoritma / logic tertentu yang menggunakan kondisi yg lebih kompleks misalkan kita tidak bisa mengeksekusi order secara otomatis bilamana MACD cross, dan posisi harga candle diatas MA20 dan level CCI menembus -100 keatas.
Platform trading dari sekuritas tidak memungkinkan untuk memprogram kondisi yg kompleks tersebut apalagi mengeksekusinya.
FOREX : MT4 menggunakan programming language C# sehingga mampu untuk di program sehingga memungkinkan untuk menjadi robot (Expert Advisor)

5. Pilihan saham terlampau banyak.
Ada sekitar 400 emiten di IDX yang sahamnya di perdagangkan.
FOREX : Major pair hanya ada beberapa saja. FRPEA menggunakan hanya 10 pair currency saja.

6. Fraksi harga yang besar
Perbedaan fraksi / tick harga yang besar ini membuat penentuan level cutloss menjadi sulit, karena beda 1 tick saja bisa berarti beda 0.5% – 1%
FOREX : Penentuan level TP maupun CL dapat menggunakan 4 digit atau 5 digit dibelakang koma, sampai dengan 0.1 pip sehingga sangat presisi.

7. Pukul 09.00 – 16.00 WIB – 5 hari seminggu.
Opportunity trading yang ada cukup singkat, dan dibatasi waktu hanya pada jam bursa saja.
FOREX : Market open 24 jam selama 5 hari. Cocok bagi anda yang siangnya masih berkerja kantoran dan malam bisa menyambi bermain forex :)

8. Likuiditas yang relatif kecil.
Likuiditas yang kecil ini memberikan efek yang cukup signifikan pada bentuk chart saham. Coba anda kecilkan timeframe saham menjadi 1 menit (M1) atau 5 menit (M5). Maka saham bluechip berkapitalisasi besar sekalipun sekelas ASII, BBRI, BMRI akan terlihat berantakan chartnya pada timeframe M1 dan tidak bisa dianalisa secara teknikal.
Hal ini menyebabkan teknik scalping pada bursa Indonesia tidak memungkinkan.
FOREX : Likuiditas pada Major pair sangat besar dan memiliki bentuk chart yang bagus dan bisa dianalisa even untuk timeframe M1, sehingga teknik scalping bisa diterapkan pada Forex.
8 hal diatas merupakan yang paling menjadi disadvantage dari saham dibandingkan dengan forex.

Source: jfxpro.com