Melihat Dari Berbagai Sudut Pandang

Seringkali manusia dalam bertindak terbatas karena sudut pandangnya.

Kacamata Kehidupan

Bila hari ini lebih baik dari kemarin berarti anda beruntung.

Financial Freedom ala Inem

Financial freedom atau kebebasan keuangan adalah impian setiap orang, banyak sekali jalan untuk mencapai keadaan ini, ada yang menempuhnya melalui bisnis, properti, Saham, MLM, Internet dan lain sebagainya. Apapun kendaraannya, apapun caranya, apapun namanya, sebenarnya ‘benang merah’ dari itu semua adalah investasi.

Banyak orang ketika mendengar istilah investasi, yang terbayang di pikiran mereka sesuatu yang canggih, yang memerlukan uang yang banyak, pengetahuan yang dalam , dan segudang pengalaman. Jika investasi diartikan seperti diatas, artinya ‘Financial Freedom’ atau kebebasan keuangan hanyalah milik segelintir orang yang punya modal saja dong, hanya untuk segelintir orang yang pintar saja dong,….. Apakah benar demikian???

Sudah lama sekali saya ingin membahas mengenai ini, bahwa jika kita melakukan investasi,dengan tujuan untuk mencapai kebebasan keuangan, tidak selalu harus dihubungkan dengan saham, properti, atau bisnis yang canggih canggih, investasi sangat bisa dilakukan dengan cara yang amat sangat sederhana seperti cerita si Inem dibawah ini.

Beberapa minggu yang lalu saya baru saja menjemput dari rumah mertua saya dan mengantarkan si Inem…. seseorang yang lugu, sederhana, yang datang ke Jakarta dengan menempuh perjalanan selama 13 jam, meninggalkan 2 anaknya yang masih kecil dan seorang suaminya di kampung Surade, Sukabumi selatan, demi untuk mendapatkan pekerjaan sebagai seorang pembantu rumah tangga di rumah salah satu teman istri saya.

Dalam perjalanan selama kurang lebih 30 menit saya dan istri berbicara cukup banyak dengan Inem, saya menanyakan latarbelakang dia, dan alasan kenapa dia rela meninggalkan keluarga dan anaknya yang masih kecil di kampung hanya untuk mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga? Dari percakapan kami dengan Inem, saya menjadi amat terharu sekaligus kagum dan bangga dengan Inem. Mengapa? Karena ternyata seorang Inem, datang ke Jakarta tidak hanya sekedar bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tapi mirip dengan perjalanan hidup saya selama 2 tahun di US, saya juga bukan bertujuan selamanya menjadi pelayan toko, tapi saya punya rencana besar, impian besar, pekerjaan yang saat itu saya jalani hanyalah sebagai batu loncatan saja. Inem ternyata juga memiliki impian besar untuk mencapai kebebasan keuangan, dia akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga hanyalah untuk sementara waktu saja.

Apa yang akan dilakukan Inem untuk meraih kebebasan keuangannya? Menurutnya saat ini dia sudah memiliki 12 ekor bebek di kampung yang bertelur 1 butir setiap harinya, jika telur itu dia bisa jual dengan harga rp.1000/butir. Dia bisa mendapatkan Rp. 10 ribu perhari bersih dari hasil menjual telur bebek, setelah dipotong dengan biaya makan bebek bebek tersebut.

Rencananya adalah seperti ini : setiap bulan, Inem berencana untuk menabung gajinya sebagai pembantu, minimal Rp. 300 rb perbulan (setelah dipotong keperluan pribadi dan kirim uang ke kampung). Setelah 9 bulan menabung, Inem akan berhasil mengumpulkan Rp, 2,7 juta (9 x rp. 300rb).

Nah saat itulah Inem akan berhenti bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan pulang kampung untuk kembali berkumpul dengan anak dan suaminya tercinta. Karena uang tabungannya yang telah dikumpulkannya sebesar Rp. 2,7 juta, saat itu akan dia belikan bebek dengan harga 50rb perekor. Sehingga Inem bisa mendapat 54 ekor bebek baru. Artinya saat itu Inem akan memiliki 66 ekor bebek, yang jika setiap harinya, minimal bebek yang bertelur 2/3 dari jumlah bebek yang ada, paling tidak dia bisa mendapat sekitar 40an butir telur, yang jika dijual akan menghasilkan kurang lebih Rp.40 rb, setelah dikurangi biaya pakan bebek sebesar Rp.7000 perhari (Rp. 1000 / 10 ekor), hasil bersihnya adalah Rp. 33rb/hari, artinya hasil penjualan telur bebek adalah Rp.990.000 /bulan. Di mana saat itu, jumlah itu sudah jauh lebih besar dari gajinya saat ini yang hanya sebesar Rp. 650 rb/bulan dan saat itu Inem tidak perlu lagi berpisah jauh dari keluarganya.

Luarbiasa sekali kan….. rencana si Inem ini, suatu rencana mencapai kebebasan keuangan yang sederhana, tapi membuat saya kagum dengan pemikirannya. Sebuah rencana untuk menggantikan penghasilan aktifnya sebagai pembantu rumah tangga dengan penghasilan dari telur bebek. Sebuah rencana yang amat luarbiasa untuk seseorang yang hanya sempat sekolah sampai kelas 3 SD, itulah cara si Inem mencapai kebebasan keuangannya. Apakah setelah saat itu tiba, Inem hanya akan berdiam diri di kampung mengasuh anak dan suaminya mengangon bebek bebeknya? Ternyata tidak, sebagian dari hasil penjualan telur bebeknya tersebut, akan ditabungnya kembali, untuk nantinya digunakan sebagai modal membuka warung makanan atau membeli motor untuk dijadikan ojek….. nah lo…. Luarbiasa sekali kan…..Selamat Inem!, jangan lupa sama saya ya, kalau nanti sudah jadi juragan bebek di Surade.

Jika seorang sederhana, dengan pendidikan yang hanya kelas 3 SD seperti si Inem memiliki sebuah rencana, impian besar untuk meraih kebebasan keuangan melalui sistem ternak bebek ….. Sebuah sistim yang amat sederhana, …… mirip dengan sistim “Angsa Emas” seperti yang saya ajarkan di workshop Property Cash Machine System…jangan mau kalah dengan Inem… let’s do it, reach your financial freedom! 

Ditulis oleh: Joe Hartanto

Pembawa Berkah, Catatan Akhir Tahun



Tahukah siapa-siapa orang yang membawa berkah dalam Kehidupan Kita...
● Pertama : Orang yang
   Membantu Kita
   Ketika Susah...

● Kedua :  Orang yang
   Meninggalkan Kita
   Ketika Susah...

● Ketiga : Orang yang
   Menyebabkan Kita
   Jadi Susah...

Mengapa membawa BERKAH.???
Karena ke-3 macam orang ini secara tidak langsung selain melatih kesabaran (Potensi Diri) kita, juga membuat kita semakin dewasa dan bijaksana...

★ Ketika ada org bicara mengenai Anda di belakang, itu adalah tanda bahwa Anda sudah ada di depan mereka.

★ Saat orang bicara merendahkan diri Anda, itu adalah tanda bahwa Anda sudah berada di tempat yang lebih tinggi dari mereka.

★ Saat orang bicara dgn nada iri mengenai Anda, itu adalah tanda bahwa Anda sudah jauh lebih baik dari mereka.

★ Saat orang bicara buruk mengenai Anda, padahal Anda tidak pernah mengusik kehidupan mereka, itu adalah tanda bahwa kehidupan Anda sebenarnya lebih indah dari mereka.

Payung tidak dapat menghentikan hujan tapi membuat Anda bisa berjalan menembus hujan untuk mencapai Tujuan

Orang pintar bisa gagal,
Orang  hebat bisa jatuh,

tapi orang yang...
RENDAH HATI dan SELALU SABAR  dalam segala hal akan selalu 
mendapat jalan untuk menempatkan diri dengan seimbang karena KOKOH pijakan nya...

Selamat beribadah semoga makin berkah berlimpah.

Manajemen Resiko Level 1 dan 2

Sertifikasi Manajemen Resiko ditujukan bagi pengurus dan pejabat bank dengan tujuan meningkatkan kualitas manajemen risiko perbankan Indonesia dan corporate governance.





Diselenggarakan oleh Badan Sertifikasi Manajemen Risiko, Suatu badan independen yang diinisiatif oleh Bank Indonesia dan didirikan oleh IRPA (Indonesian Risk Profesional Association).

Berikut wokrbook Manajemen Resiko Level 1 dan 2. Siahkan didownload di link berikut.

Peraturan Penting Seputar Perbankan

Pengetahuan tentang dasar hukum menjadi penting untuk diketahui karena berhubungan dengan aturan-aturan yang harus dilakukan dalam pelaksanaannya. Berikut ini adalah peraturan penting seputar perbankan meliputi undang-undang tentang perbankan, Bank Indonesia atau BI, Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS, Otoritas Jasa Keuangan atau OJK.


Silahkan download landasan hukum seputar perbankan antara lain:


  1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
  2. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan 
  3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia
  4. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan
  5. Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan


Daftar Perusahaan FINTECH Resmi OJK

Financial Technology atau biasa disebut FINTECH telah diatur oleh POJK No 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang berbasi Teknologi Informasi. Adapun POJK No 77/POJK.01/2016 dapat didownload disini.



Berikut daftar perusahaan FINTECH (FINancial TECHnology) yang resmi terdaftar dan diawasi oleh OJK (posisi terakhir September 2017):

Materi Kuliah tentang Manajemen Perbankan & Produk Bank

Materi Kuliah tentang Manajemen Perbankan & Produk Bank


Untuk mendapatkan materi kuliah dapat dilakukan dengan cara
Kirim email ke:  info.adam@gmail.com
Subject: Materi pertemuan kuliah perbankan

Atau dengan cara langsung download materi disini:
- Manajemen Perbankan
- Produk Bank

Kajian Pengembangan Produk dan Layanan BPR

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank sebagaimana tercantum dalam Undang-undang No 10 tahun 1998 tentang perbankan meupakan bank yang memiliki peran sebagai lembaga intermediasi keuangan yang dibentuk unutk melayani kebutuhan jasa perbankan bagi masyarakat terutama pada segmen mikro, kecil dan menengah, serta bagi segmen pasar yang tidak terlayani oleh bank umum.
 


Dalam kesempatan kali ini Otoritas Jasa Keuangan atau OJK telah membuat semacam kajian bagaimana pengembangan Produk dan Layanan BPR agar secara kelembagaan eksistensi BPR dapat memberi sumbangsih pembangunan dan berperan dalam memajukan ekonomi negara.

Berikut buku kajian pengembangan produk dan layanan BPR oleh OJK. Silahkan didownload disini.

Pendekar Bodoh, Kisah Sukses Restoran D'cost Seafood

Hari Jumat (15/2) lalu saya ketemu Pak David Marsudi, presiden direktur jaringan restoran D’Cost. Orang satu ini luar biasa nyentrik-nya. Dia misalnya, menyebut dirinya sebagai “pendekar bodoh” (nama perseroan D’Cost adalah PT. Pendekar Bodoh). Kenapa? Karena, menurut dia, menjadi pengusaha itu harus terus-terusan merasa bodoh. “Karena merasa bodoh, maka kemudian kita harus terus belajar. Kalau kita sudah pintar, kita berhenti belajar,” ujarnya.




Pada saat mau ketemu pak David, kebetulan saya melewati meja resepsionis dengan latar belakang logo D’Cost Academy, training center jaringan resto bersemboyan: “Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima” ini. Yang mengusik saya adalah tagline D’Cost Academy yang bunyinya menggelitik, “Stupid Guys Keep Learning”; orang bodoh selalu belajar. Intinya, tagline itu ingin mengatakan, semua karyawan D’Cost adalah orang bodoh, dan karena itu akan selalu belajar. “Kami adalah orang-orang bodoh berjiwa pendekar,” tukasnya.
Ruarrr biasa!!! Terus terang, setelah hampir dua jam saya ngobrol dengan pak David, saya jadi malu abis karena selama ini saya merasa pinter dan sok keminter. Padahal sesungguhnya nggak ada apa-apanya dibanding pak David… hehehe.







Giving

Yang membuat saya salut luar biasa ke pak David adalah prinsip bisnisnya yang meneduhkan. Begini bunyi falsafah bisnisnya: “Hanya konsentrasi pada apa yang dapat Anda berikan, jangan kawatir atas apa yang akan Anda dapatkan.” Intinya, D’Cost harus memberi, memberi, dan memberi. Semakin banyak memberi, maka ujung-ujungya akan semakin banyak mendapatkan. The more you give, the more you get!!!

Pak David memberi perumpamaan pendulum: “Ketika dilempar, maka pada akhirnya pendulum pasti akan kembali.” Saya kemudian iseng menimpali, “Tapi masalahnya, kapan pendulum itu akan balik pak?” Dengan tangkas ia menjawab, “mungkin saat itu juga, mungkin sebulan kemudian, mungkin setahun kemudian, bisa juga bertahun-tahun kemudian. Nggak masalah, itu semua Tuhan yang atur, kita manusia tak usah repot-repot mikirin,” jawabnya enteng.

Prinsip memberi inilah yang melandasi kenapa pak David memilih restoran sebagai bidang usahanya. “Karena restoran itu menampung banyak pegawai,” ujarnya. Kalau bisnis D’Cost sukses, maka makin banyak karyawan yang ditampung, semakin banyak berkah diberikan kepada karyawan. Karena itu pak David punya spirit bahwa D’Cost harus menjadi “distributor rezeki” bagi bagi para karyawan dan siapapun yang berbisnis dengan D’Cost. Wow… betapa indahnya.

Memerdekakan Berkah yang diberikan D’Cost, kata pak David, tak hanya kepada karyawan dan partner bisnis. Yang terutama justru kepada konsumen. Apa itu? Pak David bercerita bahwa model bisnis D’Cost sesungguhnya simpel, yaitu: menjadikan makanan-makanan yang dulunya nggak terjangkau oleh kantong rakyat kecil, kini menjadi terjangkau. “Mimpi saya adalah menjadikan rakyat kecil bisa makan masakan hotel berbintang tapi dengan harga yang terjangkau oleh kantong mereka,” papar pak David mengenai falsafah di balik tagline “Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima”.

Contohnya seafood. Selama ini kita mengenal seafood sebagai masakan mahal, tapi oleh D’Cost kini dibikin murah sehingga terjangkau rakyat jelata. Pak David kini juga sedang merintis restoran susi Jepang yang bakal buka sebentar lagi.

Prinsipnya sama, kalau selama ini masakan susi mahal dan hanya ada di hotel berbintang, maka kini harus menjadi murah dan terjangkau rakyat kecil. “Nanti kita akan bikin restoran Italia, restoran Amerika, restoran Eropa dengan harga rakyat jelata,” tambahnya.

Jadi prinsip giving di sini diterjemahkan sebagai “memerdekakan” rakyat kecil yang ingin merasakan dan menikmati masakan mahal, masakan hotel, atau masakan luar negeri, yang selama ini tak terjangkau oleh isi kocek mereka.


Pengusaha Bodoh

Ada lagi konsep bisnis nyleneh pak David yang membuat saya berpikir tujuh keliling. Yaitu argumentasi pak David yang menyebut dirinya sebagai “pengusaha bodoh”. Dia bilang bahwa, kini pasar dipenuhi oleh “konsumen pintar” dan “pengusaha pintar”.

Ciri konsumen pintar adalah ia minta mutu tinggi tapi dengan harga semurah mungkin. Sementara ciri pengusaha pintar adalah ia memberikan mutu tinggi tapi dengan harga berlipat-lipat lebih tinggi. “Kalau konsumen dan pengusaha sama-sama pintar, maka ini nggak akan ketemu-ketemu,” jelas pak David.

Karena itu, pak David memosisikan diri sebagai “pengusaha bodoh”. Apa cirinya pengusaha bodoh? Yaitu ketika dia memberikan mutu setinggi mungkin, tapi memasang harga semurah mungkin (yup, ini namanya “ngajak bangkrut” hehehe). “Saya bisa pastikan, konsumen pintar lebih suka pada pengusaha bodoh dibanding pengusaha pintar. Itu sebabnya saya memilih menjadi pengusaha bodoh,” seloroh pak David berargumen.

Secara logika model bisnis yang diambil pak David selintas nggak masuk akal. Bagaimana bisa memberikan mutu tinggi, tapi harga murah? Tapi justru inilah indahnya prinsip bisnis pak David. Intinya kalau niatnya ikhlas untuk memberikan yang terbaik untuk konsumen, maka Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita. Pendulum yang dilempar pasti pada waktunya akan kembali. Inilah indahnya prinsip memberi. It’s the power of giving.

Nyentrik

Untuk memberikan gambaran bagaimana prinsip giving ini dijalankan pak David, coba kita simak program-program promosi nyleneh dan melawan arus (yup, paradoks) yang dijalankan D’Cost. Ambil contoh program “Diskon Umur”. Program ini memberikan diskon ke konsumen sesuai umur yang tertera di KTP. Kalau umur Anda 30 tahun maka Anda dapat diskon 30%. Kalau umur Anda 80 tahun Anda dapat diskon 80%. Lalu bagaimana kalau umur Anda 104 tahun? “Anda malah dapat cash back, habis makan malah dapat duit,” ujar  pak David. Kwkwkwwkkw!!!

Contoh program nyleneh lain adalah program “Hamil Baru Bayar”. Program ini memberikan kesempatan para pasangan untuk merayakan pernikahan di D’Cost gratis untuk 300 kursi plus dekorasi pelaminan. Bayarnya kapan? Bayarnya setelah si istri hamil. Begini bunyi iklannya: “Pesta Pernikahan Sekarang… Hamil Baru Bayar.. (Tidak Hamil, Gratis)”.

Ada juga program “Uang dan Doa” dimana konsumen membayar makanan di D’Cost dengan “Separo Uang, Separo Doa”. Syaratnya, si konsumen wajib mendoakan orang lain dalam secarik kertas, doa inilah yang dipakai untuk membayar separo harga makanan yang dipesan. Kwkwwkwkw!!!

Seperti halnya saya, Anda para pembaca pasti bertanya-tanya: “Konsumen usia 104 tahun makan di D’Cost nggak bayar malah dapat duit, apa itu nggak bikin bangkrut?” Atau, “Pasangan menggelar resepsi gratis di D’Cost tapi setelah hamil menghilang nggak bayar, apa itu nggak bikin bangkrut?” Inilah sekali lagi keindahan dari spirit of giving.

Barangkali memang banyak pasangan yang tidak balik ke D’Cost saat istrinya hamil, tapi bagi pak David itu tidak jadi masalah. “Dari program-progran yang unik itu kita mendapatkan simpati dari konsumen dan ini bisa memicu promosi dari mulut ke mulut yang nilai rupiahnya bisa miliaran,” ujar pak David tangkas, “pokoknya nggak usah kawatir, itu semua Tuhan yang atur.”

Kini bahkan pak David sedang mempersiapkan gerai bakery-nya  dengan merek D’ Stupid Baker. Yang menarik adalah tagline-nya yang berbunyi: “5 Star Quality, Stupid Price“. Yang lebih menarik adalah nama perusahaan yang menaungi D’ Stupid Baker, yaitu PT Bocuan Gapapa. Mau tahu apa maksudnya? Bocuan Gapapa maksudnya “nggak profit nggak papa“… yang penting memberi… kwkwkkwkwkwkk…

Mengikuti pengalaman saya ngobrol dengan pak David, mungkin Anda kini mulai terbuka lebar hatinya. Barangkali Anda mulai sepakat dengan saya bahwa, setelah membaca kolom ini kita harus menjadi orang bodoh. Orang bodoh yang berjiwa pendekar. Orang bodoh yang bersenjatakan spirit memberi.

Sekali lagi: It’s the power of giving.
Ditulis oleh: Yuswohady

Pilih Pancing atau Ikan

Ada seorang pemuda yang sedang duduk santai dipinggiran trotoar jalan sambil menikmati keindahan dan suasana dijalan yang banyak pejalan kaki. Ceritapun bermula..


Ada orang bijak yang bertanya filosofis kepada pemuda tersebut.

"Kalau anda disuruh pilih, mau pilih pancing (alat mancing) atau milih ikan 500 kg?"

Dia (pemuda) menjawab, "saya pilih ikan 500 kg" 

Orang bijak geleng-geleng kepala sambil ketawa.... dan berkata dengan bijak.. 
"Anda jauh dari kebijaksanaan. Apakah anda tidak tahu bahwa 500 kg ikan bisa habis dimakan sedangkan alat mancing bisa untuk memancing ikan terus menerus selamanya"

Dia (pemuda) menjawab, 
"Anda yang terlalu naif. 500 kg ikan kalau dijual seharga 50 ribu per kilo ... berarti 25 juta, sedangkan alat mancing harganya hanya sekitar 500 ribu, beli 10 set hanya sekitar 5 juta. Saya bisa bayar 5 juta untuk menggaji 10 orang untuk memancing ikan bagi saya.  Dan bisa ambil 5 juta untuk bersedekah. Sisa uang bisa dibuat hal lain-lain, misalnya mengajak teman-teman untuk berburu. Bahkan sambil main catur bisa sambil menjaga orang-orang yang memancing ikan. Ikan hasil mancing bisa saya jual lagi. Hasilnya saya buat kolam, sebagian ikan saya ternak sampai bisa menghasilkan, lalu saya jual lagi. Setelah panen lalu sebagaian keuntungan saya belikan ikan lagi dan seterusnya.  Nah, hobby mancing saya tersalurkan, bisa bersedekah, bisa bersosialisasi, bisa membuka lapangan pekerjaan, dapat untung pula"

Orang Bijak, "Kamu orang mana?" 

Dia jawab, "Jombang" 

Orang Bijak, "😅😄😃😂"

Manusia "amfibi" Menjadi Karyawan Juga Pengusaha

Sering menjumpai seorang berstatus karyawan sebuah perusahaan, namun pada saat yang sama juga memiliki usaha alias berstatus pengusaha. “Sebaiknya apa yang saya lakukan, saya bingung diantara dua hal ini: bekerja sebagai karyawan atau menjadi pengusaha?”.

Bukan tidak mungkin hal tersebut kita jumpai di masyarakat kita. Bisa disebut sebagai manusia "amfibi" yang hidup di dua dunia yaitu sebagai karyawan juga sebagai pengusaha. Waktunya dibagi sebagai karyawan dan pengusaha. Bukan pengusaha tulen. Bukan pula 100% karyawan.
Pertanyaan seperti di atas, biasanya muncul pada anak-anak muda yang masih sangat tergantung pada gaji untuk menopang hidupnya sehari-hari namun memiliki semangat wirausaha. Usianya yang muda membuatnya mampu bekerja siang malam nyaris tanpa lelah. Atau bisa juga pertanyaan itu muncul dari karyawan senior yang ingin berwirausaha, sudah mencoba, namun ketergantungannya pada gaji membuatnya takut melangkah penuh menjadi pengusaha.
Berikut pendapat pribadi saya dan sebagian sudut pandang Nukman Lutfi terhadap kondisi tersebut, mari kita simak:
Pertama: Hidup sebagai amfibi itu kurang optimal
Bagaimana pun, waktu itu hanya 24 jam sehari. Seorang karyawan yang baik, sedikitnya mencurahkan 8 jam sehari demi kemajuan perusahaan yang memberinya lapangan kerja dan menggajinya dengan baik. Mereka yang bekerja dengan baik, biasanya cukup lelah selama kerja, sehingga waktu di luar jam kerja dimanfaatkan betul untuk istirahat, menikmati hiburan dan bersosialisasi.
Karyawan yang baik tidak akan mencuri waktu kerjanya untuk hal-hal di luar kebutuhan kerja, baik untuk mengurusi bisnisnya sendiri atau mengerjakan pekerjaan lain yang biasanya disebut sebagai moonlighting.
Sebaliknya, pengusaha menghabiskan 24 jam sehari untuk  membangun dan membesarkan usahanya. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur, nafasnya adalah mengembangan usaha.
Maka mereka yang hidup di dua dunia ini akhirnya akan lelah sendiri dengan dua risiko: prestasinya sebagai pekerja tidak akan istimewa dan bisnisnya pun sulit berkembang.
Kedua: Sulit mencari amfibi yang sukses
Sampai hari ini saya kesulitan menemukan sosok sukses seorang amfibi. Jauh lebih mudah menemukan pengusaha yang berhasil atau karyawan yang berprestasi. Alasan pertama di atas menjadi penyebab utamanya. Sulit berhasil dan berprestasi di dua dunia yang memerlukan pemikiran dan perhatian optimal.
Oleh karena itu, kepada para karyawan/pengusaha amfibi, saya menyarankan:
Satu: kalau bisa, keluarlah dari status amfibi dan menjadi karyawan atau pengusaha tulen
Dengan menjadi yang tulen, potensi kita untuk menjadi karyawan berprestasi akan jauh lebih besar. Banyak contoh karyawan berprestasi yang bisa hidup mapan dan bahagia.
Dengan menjadi tulen pula, potensi dan peluang kita membesarkan usaha terbuka semakin luas. Banyak contoh seorang yang semula karyawan dan memutuskan sepenuhnya menjadi pengusaha dan kini menuai sukses.
Dua: tetapkan waktu kapan menjadi karyawan atau pengusaha tulen
Bagi yang sudah bertahun-tahun menjadi amfibi, memang sulit untuk memutuskan menjadi tulen. Untuk mempermudahnya, tetapkan waktu kapan untuk menjadi tulen,  misalnya paling lama setahun dari sekarang. Dengan demikian kita dapat membuat perencanaan matang keluar dari kungkungan amfibi.
Ketiga: bila terpaksa menjadi manusia "amfibi" lakukan dengan sangat bijaksana
Kadangkala rencana jauh berbeda dengan realita, sehingga kita wajib menyikapinya dengan bijaksana. Bila memang sulit melepaskan status amfibi maka lakukan dengan ekstra hati-hati. Pilihlah bisnis yang sudah autopilot dimana tidak membutuhkan kehadiran kita karena sudah ada tim yang melakukannya. Tanpa mecuri-curi waktu dan perhatian sebagai karyawan. Jadilah karyawan yang diatas rata-rata dimana berskonstribusi terhadap kemajuan perusahaan.