Tampilkan postingan dengan label Melek Finansial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melek Finansial. Tampilkan semua postingan

Jumat

Published 00:19 by admin

Atur Keuangan agar Gak Terus Keteteran


 "The most important investment you can make is in yourself," - Warren Buffett.

Siapa yang tidak kenal Warren Buffett, salah satu investor tersukses di dunia, memiliki prinsip-prinsip keuangan yang relevan bagi siapa saja, termasuk kelas menengah. Ditengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, memiliki dan melakukan money mindset investor dari Warren Buffet tidak hanya membantu bertahan tetapi juga berkembang secara finansial. 

1. Hidup dibawah Kemampuan, Bukan Sesuai Kemampuan

Buffett terkenal dengan gaya hidup hemat meskipun memiliki kekayaan melimpah. Ia masih tinggal di rumah yang dibelinya pada tahun 1958 dan tidak tergoda untuk membeli barang-barang mewah secara berlebihan.

Bagi kelas menengah, "Hindari berhutang untuk gaya hidup", adalah prinsip yang sangat penting sehingga bisa lebih fokus pada kebutuhan bukan keinginan. Mulailah mencatat pengeluaran harian dan pangkas biaya yang tidak penting. Misalnya, daripada membeli kopi setiap hari, lebih baik membuat kopi sendiri di rumah.

2. Menginvestasikan Uang yang Dimiliki

Menurut Buffett, "If you don't find a way to make money while you sleep, you will work until you die." Jangan biarkan uang yang kita miliki hanya diam di tabungan. Gunakan instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko dan kebutuhan, seperti reksa dana, saham, atau obligasi, crypto, emas, dan lainnya.

Namun sebelum berinvestasi, lakukan investigasi pada instrumen yang dipilih. Ingat, bahwa risiko selalu linear dengan keuntungan atau high risk high return. Selain itu, jika instrumen tersebut memiliki fundamental yang bagus, tentunya nilainya akan naik seiring waktu.

3. Pahami Pentingnya Pendidikan Finansial

Buffett percaya bahwa pengetahuan adalah investasi terbaik. Untuk kelas menengah, ini berarti terus belajar tentang cara mengelola keuangan, memahami investasi, dan mempersiapkan masa depan.

Kita bisa mengikuti seminar atau pelatihan tentang keuangan, membaca buku-buku investasi seperti The Intelligent Investor oleh Benjamin Graham, memahami dasar-dasar finansial, dan lainnya sehingga kita lebih percaya diri dalam mengambil keputusan keuangan.

4. Miliki Dana Darurat

Salah satu kesalahan terbesar yang sering dilakukan kelas menengah adalah tidak memiliki dana darurat. Buffett menekankan pentingnya menjaga likuiditas untuk menghadapi situasi tak terduga. Idealnya, dana darurat setara dengan 6-12 bulan pengeluaran rutin.

Jika belum memilikinya, mulailah menabung secara konsisten. Sisihkan minimal 10% dari penghasilan setiap bulan untuk membangun dana darurat. Perlu diingat bahwa cash is king, namun cash flow is everything. Miliki selalu penghasilan diatas nominal kebutuhan kita sehingga alokasi dana darurat bisa lebih besar.

5. Berinvestasi pada Diri Sendiri

Buffett sering menekankan pentingnya meningkatkan keterampilan dan pengetahuan. Bagi kelas menengah, ini berarti tidak hanya tentang skill tapi juga bagaimana mengelola kehidupan personal dengan lebih baik dalam hal kesehatan fisik, mental, dan keuangan.

Sediakan waktu untuk berolahraga, membaca buku setiap hari, makan bergizi, tidur cukup, dan mengelola stress atau emosi negatif. Investasi pada diri sendiri menjadi pondasi sebelum berinvestasi pada faktor eksternal, seperti saham, emas, crypto, dan lainnya.

6. Jangan FOMO (Fear of Missing Out)

Buffett terkenal dengan prinsipnya untuk tidak terbawa arus, "to be fearful when others are greedy and to be greedy only when others are fearful." Ia selalu melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Jangan tergoda oleh tren investasi yang sedang populer tanpa memahami risikonya.

Misalnya, jika ada tren investasi di aset digital seperti cryptocurrency di Alt atau Meme koin, pastikan untuk memahami cara kerjanya, potensi keuntungannya, dan risikonya sebelum terlibat. Hal ini juga berlaku di saham dan semua instrumen investasi.

7. Jadikan Penghasilan Pasif Sebagai Prioritas

Buffett telah membangun kekayaannya melalui penghasilan pasif dari investasi jangka panjang. Bagi kelas menengah, hal ini bisa dimulai dengan langkah kecil, seperti mengalokasikan penghasilan untuk membuka bisnis yang dikelola secara paruh waktu, membeli saham blue chip, investasi pada properti, dan lainnya.

Gaji pas-pasan juga bukan alasan untuk tidak memulai berinvestasi karena ini tentang habit, tentunya membangun money habit tidak harus diawali dengan langkah besar, namun kecil yang berkembang menjadi besar.

8. Hindari Spekulasi, Fokus pada Nilai Jangka Panjang

Buffett dikenal sebagai investor nilai yang fokus pada potensi jangka panjang daripada keuntungan cepat. Dalam konteks kelas menengah, kita bisa mencoba untuk tidak tergoda agar cepat kaya dengan mengambil risiko tinggi dengan uang yang tidak kita miliki.

Selain itu, untuk jangka panjang, pilihlah investasi yang stabil dan berpotensi tumbuh seiring waktu. Khususnya untuk seseorang yang tidak memiliki waktu melakukan frequently research, memilih instrumen dengan fundamental dan nama baik, capital market yang besar, mengecilkan kekuatiran terhadap kehilangan dana.

9. Jangan Takut untuk Mengambil Risiko yang Terkalkulasi

Buffett sering mengatakan bahwa risiko datang dari ketidaktahuan. Dengan pengetahuan yang cukup, kita bisa mengambil risiko yang terukur untuk meningkatkan kekayaan. Misalnya, memulai usaha sampingan atau mencoba investasi baru yang sudah dipelajari dengan baik.

Tidak akan ada kemajuan tanpa risiko, jadi pilih risiko yang ingin kita tanggung. Tidak mengatur keuangan sehingga jatuh miskin, itu berat. Mengatur keuangan sehingga harus belajar sana-sini dan berhemat, itu juga berat. Jadi pilih risiko mana yang akan kita tanggung.

10. Bersabar dan Konsisten

Kesuksesan Buffett tidak terjadi dalam semalam. Ia membangun kekayaannya secara konsisten selama puluhan tahun. Maka, untuk kita yang tergolong kelas menengah, kunci ini sangat relevan agar "Tetap disiplin dalam menabung dan berinvestasi. Kesabaran dan konsistensi membuat kekayaan bertumbuh seiring waktu."

11. Cash Flow adalah Segalanya

Perhatikan bagaimana kita hidup dan mengatur keuangan, apakah kita sudah bijaksana atau masih gali lubang tutup lubang. Selalu diingat, investasi memang penting namun cash flow lebih penting. Dengan adanya cash flow, akan ada uang yang diinvestasikan. Jadi, perhatikan kita menggunakan dan membelanjakan uang.

Itulah 11 money mindset investor yang dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya untuk kelas menengah.Prinsip-prinsip Warren Buffett, diharapkan mengecilkan risiko kemiskinan dan membangun masa depan yang lebih cerah.

Tahun 2025 bisa menjadi peluang emas bagi siapa saja yang siap mengambil langkah cerdas dalam mengelola keuangan. Ingat, kekayaan bukan tentang seberapa banyak yang kita hasilkan, tetapi seberapa bijak kita mengelolanya.

Source

Read More

Selasa

Published 01:12 by admin

Mempersiapan Pensiun

Menurut id.wikipedia.org pensiun adalah seseorang yang sudah tidak bekerja lagi karena usianya sudah lanjut dan harus diberhentikan, ataupun atas permintaan sendiri.


Dari pengertian tersebut, jadi orang yang bekerja pasti diberhentikan. Ya, pasti diberhentikan! Karena 2 sebab, pertama diberhentikan perusahaan sebab usianya sudah lanjut, kedua berhenti atas kemauan sendiri atau pensiun dini sebelum waktunya.

Ketika membaca halaman berita kompas.com “sebagian besar orang Indonesia tak siap finansial untuk pensiun". HSBC Global melakukan survei terhadap 17.405 orang di beberapa negara termasuk di Indonesia. Data menunjukkan 2/3 responden usia kerja menyatakan akan lanjut bekerja setelah pensiun.

Masih dari data tersebut, sebagian memulai wirausaha setelah pensiun (54%), sisanya memilih untuk mengandalkan kebutuhan sehari-hari dari hasil tabungan (29%), kemudian kembali mencari pekerjaan (25%), serta membangun kos-kosan atau menyewakan rumah (19%).

Mempersiapkan pensiun sebuah keharusan. Pensiun dengan bahagia dan sejahtera merupakan sebuah pilihan. Karena orang bekerja pasti diberhentikan! Oleh perusahaan atau oleh kita sendiri. 

Saran saya, persiapkan sedini mungkin, sebaik mungkin. Salah satunya dengan memulai bisnis.

Pilihlah bisnis yang minim risiko. Bagi pemula hindari produksi, sewa ruko, fokus pada penjualan. Jual barang yang berkualitas, ringan, hemat space, hemat ongkos kirim, repeat order tinggi. Sebaiknya, jalankan bisnis yang ada mentornya, ada pembinaannya. Dengan adanya mentor diharapkan kita tidak trial and error. 

Dari bisnis yang kita jalankan, dan bisnis sudah mulai menghasilkan. Kita akhirnya lebih siap, kapanpun akan pensiun. Kita berikhtiar dengan mempersiapkan sebaik mungkin.

Pensiun bahagia dan sejahtera sebuah impian yang mestinya kita persiapkan, kita perjuangkan. Semoga bisa diwujudkan. Aamiin.

Read More

Kamis

Published 01:00 by admin

Rumus E + R = O (Event + Response = Outcome) dalam Mencapai Kesuksesan

E + R = O

Mungkin rumus ini terdengar asing bagi kita semua. Mungkin rumus ini juga tak sepopuler rumus E=mc2 dalam ingatan kita. Namun, lewat rumus yang sederhana ini dapat menjelaskan mengenai success mindset. Sukses dalam hidup tentunya. Rumus atau teori ini dikemukakan oleh seorang pakar psikoterapi di Los Angeles, Dr Robert Resnick dimana beliau mengatakan E (event) + R (response) = O (Outcome). Formula sederhana ini menjelaskan bahwa setiap hasil dari pengalaman hidup ini (baik gagal maupun sukses, kaya ataupun miskin) adalah hasil dari bagaimana kita merespon terhadap kejadian-kejadian dalam hidup kita.

Jadi begini, seringkali kita memperoleh outcome atau sebuah hasil yang kurang memuaskan. Suatu kondisi di mana kita sering mengeluh “Kok begini sih?” atau “Kok jadi begitu” intinya kita merasa sedikit atau bahkan sangat kecewa. Ada dua option dalam menyikapi hal ini :
  1. Menyalahkan E (event). E dalam hal ini adalah situasi yang kita alami, keadaan yang sedang terjadi. Misalnya kondisi perekonomian yang tidak stabil, kenaikan harga BBM, musibah yang tiba-tiba menimpa dan sebagainya. Dengen berpikiran seperti ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah, ini kenyataan hidup di mana tak ada yang sempurna dalam dunia dan kehidupan ini. Namun, dengan bersikap seperti ini, akankah kita akan mengambil tindakan untuk berubah? Akankah E atau kondisi tersebut dapat berubah? Seringnya kondisi atau kejadian yang terjadi tidak dapat diubah.
  2. Oleh karena mengubah E sangat jauh lebih susah dan mendekati atau bahkan mustahil, kita lebih berpotensi untuk mengubahR (response) terhadap E (event).
  3. Dalam persamaan matematis yang sederhana di atas, jika pengaruh E (event) > R (response) yang kita ambil, Outcome-nya (O) akan lebih depengaruhi oleh Event (E). Namun, jika pengaruh E (event) < R (response), Outcome-nya (O) akan lebih dipengaruhi oleh Response. Kesimpulannya response kita lah yang mempengaruhi outcome kehidupan kita. Karena akan lebih mudah dan masuk akal untuk mengubah Response kita dibandingkan Event yang terjadi.


Salah satu contoh yang bisa jadi pelajaran adalah ketika terjadi gempa bumi pada tahun 1994 di Northridge, California, ada sebuah jembatan tol yang ambruk yang mengakibatkan para pemakai jalan harus menunggu antri 2-3 jam hanya untuk melewati bagian yang ambruk tersebut. Seorang wartawan CNN melakukan interview dengan para pengemudi yang umumnya kesal dengan kejadian tersebut. Seorang pengemudi mengungkapkan kekesalannya dengan berkata, "Saya benci tinggal di California. Pertama kebakaran hutan, kemudian banjir, dan sekarang gempa, walaupun saya sudah berangkat pagi hari, tetap saja terlambat sampai kantor." Kemudian wartawan itu melanjutkan ke mobil yang lain, response pengemudinya sangatlah berbeda. Pengemudi itu tersenyum seakan-akan menikmati kemacetan itu, katanya, "Saya berangkat jam lima pagi dari rumah dan saya memiliki banyak kaset yang enak untuk di dengar, istri saya menyiapkan kopi dalam termos saya, jadi saya tidak mempermasalahkan kemacetan ini." Dan jika memang kemacetan ini merupakan faktor yang mutlak, seharusnya semua orang akan marah.

Contoh lain mungkin kondisi yang baru saja memanas mengenai kenaikan BBM di negara kita tercinta ini. Banyak pro atau kontra yang terjadi. Namun apapun yang terjadi kelak semisal BBM jadi mengalami kenaikan, alangkah baiknya kita dapat menyikapinya dengan jeli karena kondisi tersebut bukanlah faktor mutlak, lagi-lagi kita bermain response. Siapa tahu dengan kenaikan BBM membuat kita lebih mawas diri seperti hemat energi mungin, atau tak semata-mata nantinya yang miskin akan tambah tertindas bisa saja mereka lebih bersemangat untuk mengubah nasib, rajin bekerja misalnya.

Itu untuk kondisi umum, kondisi dari diri sendiri juga terkadang tidak menentu. Kalau mau mencomot dari istilah anak muda jaman sekarang sih, galau. Kemungkinan galau tersebut merupakan outcome dari pengaruh E (event) > R (response). Jadi, apapun kondisi yang terjadi terhadap kehidupan kita alangkah baiknya kita membuat E (event) < R (response) dengan kata lain jangan mau kalah dari keadaan. Hidup ini terlalu indah untuk dilewati dengan kegalauan, hhaha.
E + R = O, sangat sederhana memang namun esensinya sangat menarik dan penting. Terimakasih, semoga bermanfaat. Ah, nikmatnya berbagi ;)
Read More

Senin

Published 20:53 by admin

Financial Freedom ala Alex P Chandra

Bagaimana membangun Financial Freedom ala Alex P Chandra? Simak Ulasan berikut:



1. Kaya menurut saya adalah suatu kondisi, dimana pasif income lebih besar daripada biaya hidup seseorang. Jadi kata kuncinya. Pasif Income; yaitu istilah yang kita gunakan untuk income dari investasi

2. Biaya hidup dengan life style yang dikehendaki. Menjadi 'kaya' bukan berarti kita tidak perlu bekerja lagi, melainkan kita kini punya 'pilihan'. Dengan demikian kita bisa 'nyetel' kapan kita mencapai 'kaya' itu, yaitu dgn menyetel biaya hidup/life-style. Dan menjadi 'kaya' itu urusannya dengan investasi. Bukan dengan pilihan profesi. Kalo tidak ada investasi,ya 'by defenisi' kita tadi, kita tidak bisa kaya

3. Kalau life-stylenya 5jt sebulan, tentunya mencapai pasif income lebih dari 5 jt lebih mudah dibandingkan jika life-stylenya 500jt/bulan. Yg hidupnya sederhana akan lebih mudah menjadi 'kaya'

4. Saya mengibaratkan financial planning menuju financial freedom ini seperti mendaki gunung. Katakanlah Himalaya. Ada stage dan tahapannya. Dan tidak semua orang harus mencapai summit. Saya pernah ke Everest, namun cuman sampai 1st base camp.

5. Sampai ke 1st base camp Himalaya, capek sih, namun tidak susah2 amat. Cuman naek land-cruiser dua hari dari Lhasa, Tibet. Ketika kita membayangkan menjadi 'kaya' adalah hidup seperti Donald Trump dkk, maka otak kita menolaknya. Dan bahkan tdk memulai perjalanan.

6. Donald Trump cs adalah orang-orang yang mencapai 'summit'. Puncak tertinggi gunung Himalaya. Butuh bakat dan latihan khusus.  Tidak semua orang akan berhasil sampai ke summit.

7. Namun ketika kita bagi-bagi perjalanannya menjadi beberapa tahapan, & setiap tahapan sudah merupakan 'kemenangan', menjadi kaya lebih realistis. Ketika otak kita menganggapnya 'realistis' dan 'achieveable'; maka kita lebih nyaman memulai perjalanan 'mendaki gunung financial freedom'

Disunting dari FB BPR Lestari
Read More

Minggu

Published 19:36 by admin

Financial Freedom ala Inem

Financial freedom atau kebebasan keuangan adalah impian setiap orang, banyak sekali jalan untuk mencapai keadaan ini, ada yang menempuhnya melalui bisnis, properti, Saham, MLM, Internet dan lain sebagainya. Apapun kendaraannya, apapun caranya, apapun namanya, sebenarnya ‘benang merah’ dari itu semua adalah investasi.

Banyak orang ketika mendengar istilah investasi, yang terbayang di pikiran mereka sesuatu yang canggih, yang memerlukan uang yang banyak, pengetahuan yang dalam , dan segudang pengalaman. Jika investasi diartikan seperti diatas, artinya ‘Financial Freedom’ atau kebebasan keuangan hanyalah milik segelintir orang yang punya modal saja dong, hanya untuk segelintir orang yang pintar saja dong,….. Apakah benar demikian???

Sudah lama sekali saya ingin membahas mengenai ini, bahwa jika kita melakukan investasi,dengan tujuan untuk mencapai kebebasan keuangan, tidak selalu harus dihubungkan dengan saham, properti, atau bisnis yang canggih canggih, investasi sangat bisa dilakukan dengan cara yang amat sangat sederhana seperti cerita si Inem dibawah ini.

Beberapa minggu yang lalu saya baru saja menjemput dari rumah mertua saya dan mengantarkan si Inem…. seseorang yang lugu, sederhana, yang datang ke Jakarta dengan menempuh perjalanan selama 13 jam, meninggalkan 2 anaknya yang masih kecil dan seorang suaminya di kampung Surade, Sukabumi selatan, demi untuk mendapatkan pekerjaan sebagai seorang pembantu rumah tangga di rumah salah satu teman istri saya.

Dalam perjalanan selama kurang lebih 30 menit saya dan istri berbicara cukup banyak dengan Inem, saya menanyakan latarbelakang dia, dan alasan kenapa dia rela meninggalkan keluarga dan anaknya yang masih kecil di kampung hanya untuk mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga? Dari percakapan kami dengan Inem, saya menjadi amat terharu sekaligus kagum dan bangga dengan Inem. Mengapa? Karena ternyata seorang Inem, datang ke Jakarta tidak hanya sekedar bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tapi mirip dengan perjalanan hidup saya selama 2 tahun di US, saya juga bukan bertujuan selamanya menjadi pelayan toko, tapi saya punya rencana besar, impian besar, pekerjaan yang saat itu saya jalani hanyalah sebagai batu loncatan saja. Inem ternyata juga memiliki impian besar untuk mencapai kebebasan keuangan, dia akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga hanyalah untuk sementara waktu saja.

Apa yang akan dilakukan Inem untuk meraih kebebasan keuangannya? Menurutnya saat ini dia sudah memiliki 12 ekor bebek di kampung yang bertelur 1 butir setiap harinya, jika telur itu dia bisa jual dengan harga rp.1000/butir. Dia bisa mendapatkan Rp. 10 ribu perhari bersih dari hasil menjual telur bebek, setelah dipotong dengan biaya makan bebek bebek tersebut.

Rencananya adalah seperti ini : setiap bulan, Inem berencana untuk menabung gajinya sebagai pembantu, minimal Rp. 300 rb perbulan (setelah dipotong keperluan pribadi dan kirim uang ke kampung). Setelah 9 bulan menabung, Inem akan berhasil mengumpulkan Rp, 2,7 juta (9 x rp. 300rb).

Nah saat itulah Inem akan berhenti bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan pulang kampung untuk kembali berkumpul dengan anak dan suaminya tercinta. Karena uang tabungannya yang telah dikumpulkannya sebesar Rp. 2,7 juta, saat itu akan dia belikan bebek dengan harga 50rb perekor. Sehingga Inem bisa mendapat 54 ekor bebek baru. Artinya saat itu Inem akan memiliki 66 ekor bebek, yang jika setiap harinya, minimal bebek yang bertelur 2/3 dari jumlah bebek yang ada, paling tidak dia bisa mendapat sekitar 40an butir telur, yang jika dijual akan menghasilkan kurang lebih Rp.40 rb, setelah dikurangi biaya pakan bebek sebesar Rp.7000 perhari (Rp. 1000 / 10 ekor), hasil bersihnya adalah Rp. 33rb/hari, artinya hasil penjualan telur bebek adalah Rp.990.000 /bulan. Di mana saat itu, jumlah itu sudah jauh lebih besar dari gajinya saat ini yang hanya sebesar Rp. 650 rb/bulan dan saat itu Inem tidak perlu lagi berpisah jauh dari keluarganya.

Luarbiasa sekali kan….. rencana si Inem ini, suatu rencana mencapai kebebasan keuangan yang sederhana, tapi membuat saya kagum dengan pemikirannya. Sebuah rencana untuk menggantikan penghasilan aktifnya sebagai pembantu rumah tangga dengan penghasilan dari telur bebek. Sebuah rencana yang amat luarbiasa untuk seseorang yang hanya sempat sekolah sampai kelas 3 SD, itulah cara si Inem mencapai kebebasan keuangannya. Apakah setelah saat itu tiba, Inem hanya akan berdiam diri di kampung mengasuh anak dan suaminya mengangon bebek bebeknya? Ternyata tidak, sebagian dari hasil penjualan telur bebeknya tersebut, akan ditabungnya kembali, untuk nantinya digunakan sebagai modal membuka warung makanan atau membeli motor untuk dijadikan ojek….. nah lo…. Luarbiasa sekali kan…..Selamat Inem!, jangan lupa sama saya ya, kalau nanti sudah jadi juragan bebek di Surade.

Jika seorang sederhana, dengan pendidikan yang hanya kelas 3 SD seperti si Inem memiliki sebuah rencana, impian besar untuk meraih kebebasan keuangan melalui sistem ternak bebek ….. Sebuah sistim yang amat sederhana, …… mirip dengan sistim “Angsa Emas” seperti yang saya ajarkan di workshop Property Cash Machine System…jangan mau kalah dengan Inem… let’s do it, reach your financial freedom! 

Ditulis oleh: Joe Hartanto
Read More
Published 05:00 by admin

Manusia "amfibi" Menjadi Karyawan Juga Pengusaha

Sering menjumpai seorang berstatus karyawan sebuah perusahaan, namun pada saat yang sama juga memiliki usaha alias berstatus pengusaha. “Sebaiknya apa yang saya lakukan, saya bingung diantara dua hal ini: bekerja sebagai karyawan atau menjadi pengusaha?”.

Bukan tidak mungkin hal tersebut kita jumpai di masyarakat kita. Bisa disebut sebagai manusia "amfibi" yang hidup di dua dunia yaitu sebagai karyawan juga sebagai pengusaha. Waktunya dibagi sebagai karyawan dan pengusaha. Bukan pengusaha tulen. Bukan pula 100% karyawan.
Pertanyaan seperti di atas, biasanya muncul pada anak-anak muda yang masih sangat tergantung pada gaji untuk menopang hidupnya sehari-hari namun memiliki semangat wirausaha. Usianya yang muda membuatnya mampu bekerja siang malam nyaris tanpa lelah. Atau bisa juga pertanyaan itu muncul dari karyawan senior yang ingin berwirausaha, sudah mencoba, namun ketergantungannya pada gaji membuatnya takut melangkah penuh menjadi pengusaha.
Berikut pendapat pribadi saya dan sebagian sudut pandang Nukman Lutfi terhadap kondisi tersebut, mari kita simak:
Pertama: Hidup sebagai amfibi itu kurang optimal
Bagaimana pun, waktu itu hanya 24 jam sehari. Seorang karyawan yang baik, sedikitnya mencurahkan 8 jam sehari demi kemajuan perusahaan yang memberinya lapangan kerja dan menggajinya dengan baik. Mereka yang bekerja dengan baik, biasanya cukup lelah selama kerja, sehingga waktu di luar jam kerja dimanfaatkan betul untuk istirahat, menikmati hiburan dan bersosialisasi.
Karyawan yang baik tidak akan mencuri waktu kerjanya untuk hal-hal di luar kebutuhan kerja, baik untuk mengurusi bisnisnya sendiri atau mengerjakan pekerjaan lain yang biasanya disebut sebagai moonlighting.
Sebaliknya, pengusaha menghabiskan 24 jam sehari untuk  membangun dan membesarkan usahanya. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur, nafasnya adalah mengembangan usaha.
Maka mereka yang hidup di dua dunia ini akhirnya akan lelah sendiri dengan dua risiko: prestasinya sebagai pekerja tidak akan istimewa dan bisnisnya pun sulit berkembang.
Kedua: Sulit mencari amfibi yang sukses
Sampai hari ini saya kesulitan menemukan sosok sukses seorang amfibi. Jauh lebih mudah menemukan pengusaha yang berhasil atau karyawan yang berprestasi. Alasan pertama di atas menjadi penyebab utamanya. Sulit berhasil dan berprestasi di dua dunia yang memerlukan pemikiran dan perhatian optimal.
Oleh karena itu, kepada para karyawan/pengusaha amfibi, saya menyarankan:
Satu: kalau bisa, keluarlah dari status amfibi dan menjadi karyawan atau pengusaha tulen
Dengan menjadi yang tulen, potensi kita untuk menjadi karyawan berprestasi akan jauh lebih besar. Banyak contoh karyawan berprestasi yang bisa hidup mapan dan bahagia.
Dengan menjadi tulen pula, potensi dan peluang kita membesarkan usaha terbuka semakin luas. Banyak contoh seorang yang semula karyawan dan memutuskan sepenuhnya menjadi pengusaha dan kini menuai sukses.
Dua: tetapkan waktu kapan menjadi karyawan atau pengusaha tulen
Bagi yang sudah bertahun-tahun menjadi amfibi, memang sulit untuk memutuskan menjadi tulen. Untuk mempermudahnya, tetapkan waktu kapan untuk menjadi tulen,  misalnya paling lama setahun dari sekarang. Dengan demikian kita dapat membuat perencanaan matang keluar dari kungkungan amfibi.
Ketiga: bila terpaksa menjadi manusia "amfibi" lakukan dengan sangat bijaksana
Kadangkala rencana jauh berbeda dengan realita, sehingga kita wajib menyikapinya dengan bijaksana. Bila memang sulit melepaskan status amfibi maka lakukan dengan ekstra hati-hati. Pilihlah bisnis yang sudah autopilot dimana tidak membutuhkan kehadiran kita karena sudah ada tim yang melakukannya. Tanpa mecuri-curi waktu dan perhatian sebagai karyawan. Jadilah karyawan yang diatas rata-rata dimana berskonstribusi terhadap kemajuan perusahaan.
Read More
Published 04:30 by admin

Karyawan Pilih Investasi atau Bisnis?

Mungkin tidak hanya anda yang baru lulus kuliah dan merasakan dunia perkantoran, bisa jadi anda yang sudah lama di dunia kerja bisa jadi anda sedang memikirkan hal tersebut? Lalu, tawaran demi tawaran muncul, ada yang menawarkan 'bisnis' ada juga yang menawarkan 'investasi', tapi mana sih yang cocok untuk seorang karyawan?



Nah, bagi para karyawan yang merasakan penghasilannya kurang dan ingin penghasilan lebih baik namun tidak mengetahui apa yang harus dilakukan tentu akan mencari solusi untuk menyiasati keadaan ini. Umumnya, solusi akan ditawarkan dari lingkungan karyawan itu sendiri, ada saja teman yang mengajak bisnis untuk menambah penghasilan, ataupun adapula yang mengajak berinvestasi untuk 'menernak' uangnya. Namun, sebelum jauh membahas apa yang cocok bagi karyawan, akan lebih baik bilamana kita mengetahui apa itu bisnis dan investasi.



Dari segi definisi, investasi dan bisnis itu sama tapi beda, investasi itu sama dengan bisnis tapi investasi bisa diartikan penanaman modal tak langsung, kalau bisnis penanaman modal langsung. Lalu, berbicara mengenai bisnis dan investasi, mana yang lebih cocok bagi karyawan? Untuk menjawabnya, harus diketahui dulu tujuannya, untuk apa bisnis? Untuk apa investasi? Bila anda yang berprofesi sebagai karyawan memilih berbisnis untuk menambah penghasilan bulanan, maka ketahui pilihannya, karena bisnis bagaimanapun membutuhkan keberanian, keahlian dan ketekunan. Namun, bagi seorang karyawan harus diingat bahwa waktu menjalankan bisnis yang terbatas karena status sebagai karyawan, dan bisnis terancam tidak akan optimal. Selain itu, harus hati-hati bisnis yang dijalankan akan mengganggu pekerjaan utama karena konsentrasi terpecah, ingat! status utama adalah sebagai karyawan. Bila anda menjalankan bisnis saat jam kerja maka anda bisa "cacat integritas" bukankah perusahaan mengaji anda untuk bekerja bukan berbisnis pribadi!

Selanjutnya, bila anda sebagai seorang karyawan yang berinvestasi untuk menambah penghasilan maka perlu diketahui bahwa bila ingin memetik hasil dari investasi itu butuh waktu agar investasinya berkembang. Namun, ketika anda memilih untuk berinvestasi dan sabar, maka anda akan memetik hasilnya di masa depan. Saya akan mencoba menjelaskannya dengan meberi contoh sederhana: Misalkan anda seorang karyawan, bayangkan kalau sekali makan diluar sekalian nonton bioskop menghabiskan Rp 200.000,- dan misal satu bulan bisa 3x maka jadi Rp 600.000,-. Nah, tahukah anda? Ternyata, bila diinvestasikan setengahnya saja yaitu Rp 300.000 dalam jangka waktu 5 tahun di reksa dana saham dengan imbal hasil 20% maka hasilnya bisa jadi Rp 30-an juta! Hampir 2 kali lipat dari anda menabung di bank, luar biasa bukan?

Tapi sebetulnya, bila kita berbicara mengenai sesuai mana bagi karyawan, 'bisnis atau investasi?' Maka dikembalikan pada karyawan tersebut. Untuk jangka pendek mungkin bisnis bisa membantu menambah pemasukan bulanan meski harus memilih bisnis yang tidak mengganggu waktu kerja seperti waralaba atau join saham usaha teman yang bisnis. Atau bisa juga melakukan bisnis dari keahlian dan hobi, seperti fotografi atau bahkan menyanyi saat selesai jam kerja/ weekend! Namun, bagi karyawan yang ingin mencapai tujuan keuangan untuk jangka panjang seperti pensiun atau pendidikan anak, tentu investasi menjadi jawabannya.

Terlepas dari itu semua, apapun pilihan anda baik itu bisnis atau investasi, pelajari terlebih dahulu dan pastikan bisnis yang anda jalankan terkait resikonya dan tidak menganggu pekerjaan, benar dan tidak melanggar aturan yang berlaku di perusahaan. Bilapun anda berinvestasi, maka pelajari juga produknya, jangan sampai salah investasi apalagi investasi bodong, selain itu, pastikan investasi yang anda lakukan sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan anda!

Read More

Kamis

Published 21:00 by admin

Membangun Passive Income


Semakin banyak aset yang kita miliki maka bisa jadi semakin besar pula uang yang kita dapatkan dari sumber passive income. Sebagai orang yang ingin membangun passive income, kita harus fokus membangun aset.



“An Asset is something that puts money in my pocket.
A Liability is something that takes money out of my pocket.”


Aset seperti apa yang harus dibangun guna memiliki passive income? Setidaknya ada 5 aset yang dapat menjadi sumber passive income Anda. Ini dia 5 aset yang dapat menjadi sumber passive income.

1.  Properti yang Disewakan

Masih ingat dengan contoh hunian kos-kosan yang saya bahas di posting sebelumnya?
Hunian kos-kosan yang disewakan bisa menjadi salah satu aset sumber passive income Anda. Ketika sebuah rumah disewakan sebagai hunian kos-kosan maka rumah tersebut menjadi aset. Mengapa? Karena ada orang yang tinggal dan membayar biaya sewa atas rumah tersebut. Bayangkan kalau Anda punya sebuah hunian kos-kosan yang menampung 8 orang. Dari setiap orang, tiap bulannya Anda menerima uang sewa 1 juta Rupiah. Jadi, jika 1 juta Rupiah x 8 orang maka dalam sebulan Anda bisa mendapatkan omzet 8 juta Rupiah.
Ingat, ini masih berupa omzet. Omzet ini nantinya akan dikurangi dengan biaya pengelolaan rumah kos-kosan. Contoh biaya dalam pengelolaan rumah kos-kosan misalnya : biaya gaji asisten rumah tangga, biaya listrik, biaya internet, dan sebagainya.
Jika Anda ingin memiliki passive income, salah satu aset yang dapat Anda bangun adalah properti. Miliki properti dan kemudian sewakan properti tersebut. Uang sewa dari properti tadilah yang bisa menjadi passive income bagi Anda.

2. Pendapatan dari Investasi Pada Aset-Aset Kertas

Contoh investasi pada aset kertas misalnya : reksadana, saham, kontrak berjangka, dan lain-lain. Jika Anda tidak tertarik untuk berinvestasi pada aset nyata seperti properti, Anda dapat mencoba berinvestasi pada aset kertas seperti reksadana atau saham.
Ketika kita mampu menjalankan investasi dengan baik, maka aset-aset kertas (misal : reksadana) yang kita miliki dapat menjadi sumber passive income. Pendapatan dari investasi saham atau reksadana inilah yang dapat menjadi passive income Anda. Saat Anda berinvestasi pada reksadana maka Anda tidak harus aktif bekerja. Justru sebaliknya, uang yang Anda miliki yang akan bekerja untuk Anda.

3. Royalti


Ketika Anda memiliki hak cipta atas sebuah karya, maka Anda berhak untuk mendapatkan royalti atas penggunaan karya-karya Anda. Salah satu profesi yang dibayar dengan royalti adalah profesi penulis buku. Penulis buku mendapatkan bayaran dalam bentuk royalti atas buku-buku yang ia tulis. Salah satu sumber passive income saya adalah dari royalti sebagai penulis.
Tak hanya penulis buku, profesi seperti musisi (pencipta lagu) juga merupakan contoh profesi yang biasanya dibayar dengan royalti. Ketika kita menciptakan sebuah lagu, lalu lagu tersebut dipakai untuk soundtrack acara televisi, diputar di radio/di ruang publik, maka kita berhak atas royalti. Royalti ini akan terus dibayarkan selagi karya kita masih dibeli/dipakai oleh orang lain. Nah, dari pembayaran royalti inilah kita bisa mendapatkan income meski kita tidak aktif bekerja.
Jadi, bagi Anda insan-insan kreatif, Anda dapat membangun aset dalam bentuk karya-karya yang menghasilkan royalti. Banyak orang tua yang melarang anaknya untuk jadi seniman ataupun penulis. Mereka berasumsi bahwa profesi penulis dan seniman merupakan profesi yang tidak bisa diandalkan untuk membiayai hidup. Padahal, anggapan semacam ini belum tentu tepat. Mengapa? Karena profesi penulis/seniman termasuk profesi yang dibayar dengan royalti. Si penulis atau siapapun yang punya hak cipta bisa terus dibayar dengan royalti selagi karyanya digunakan oleh orang-orang.
Hanya saja, memang untuk menjadi penulis/seniman yang kaya jelas butuh proses dan perjuangan.

4. Bisnis yang Berjalan Secara Otomatis

Aset ke-4 yang dapat dibangun guna menghasilkan passive income adalah bisnis yang berjalan secara otomatis. Bisnis yang berjalan secara otomatis adalah bisnis di mana sang pemilik (owner) tidak harus terlibat dalam proses operasional bisnis. Ketika seorang pemilik bisnis bisa meninggalkan proses operasional dan bisnisnya tetap berjalan, maka saat itu juga si pemilik bisnis mendapatkan passive income. Mengapa? Karena ia tidak harus terlibat dalam proses operasional bisnisnya. Ia tidak harus bekerja secara aktif, tetapi uang tetap mengalir ke kantongnya.
Untuk memiliki aset dalam bentuk bisnis yang berjalan secara otomatis, ada dua cara yang dapat kita gunakan. Dua cara tersebut antara lain :
  • membeli sistem bisnis (waralaba), atau
  • membangun bisnis sendiri yang nantinya dapat berjalan secara otomatis.
Contoh bisnis waralaba misalnya restoran cepat saji KFC, McDonald’s, Indomaret, Alfamart dan masih banyak lagi. Ketika kita membuka bisnis dengan sistem waralaba, maka kita akan membeli sistem bisnis (waralaba) dari pemilik waralaba (franchise). Nah, sistem yang kita beli tadilah yang akan dipakai sebagai bisnis kita nantinya. Proses operasional bisnis kita akan sama dengan bisnis-bisnis lain yang satu brand dengan kita. Ambil contoh, Anda membeli franchise KFC, maka cabang KFC yang nanti Anda buka juga akan sama (atau setidaknya mirip) dengan cabang KFC di tempat lain. Untuk memiliki bisnis dengan sistem waralaba, maka Anda perlu memiliki modal uang untuk membeli franchise tersebut.
Cara kedua yang dapat digunakan apabila ingin punya bisnis yang berjalan secara otomatis adalah dengan membangun bisnis Anda sendiri. Apapun bisnis yang akan Anda bangun, Anda harus punya misi untuk menjadikan bisnis Anda berjalan secara otomatis. Jika keinginan Anda adalah memiliki passive income, maka mau tidak mau, Anda harus mengarahkan bisnis Anda ke bisnis otomatis. Usahakan bisnis Anda dapat berjalan tanpa campur tangan Anda dalam proses operasional.
Contoh, Anda membuka warung mie ayam. Nah, upayakanlah agar warung mie ayam ini nantinya dapat berjalan secara otomatis tanpa Anda harus terlibat dalam operasional warung tersebut. Jika warung mie ayam Anda sudah bisa berjalan secara otomatis, maka Anda berhasil memiliki sumber passive income.

5. MLM (Multi Level Marketing)

Aset ke-5 yang juga dapat dibangun guna menghasilkan passive income adalah MLM (multi level marketing). Terlepas dari berbagai pro dan kontra masyarakat terhadap MLM, MLM tetap merupakan sumber passive income. Bagi mereka yang sungguh-sungguh tekun menjalankan MLM, maka mereka akan memiliki aset dalam bentuk network, yang mana network/jaringan inilah yang nantinya akan menghasilkan uang ke kantong mereka.
Dari ke-5 aset di atas, saya pribadi lebih memilih fokus pada 4 aset pertama yakni : properti, investasi aset kertas, royalti, dan bisnis yang berjalan secara otomatis. Mengapa tidak MLM?
Saya tidak alergi pada MLM. Hanya saja, pada dasarnya saya kurang cocok (tidak nyaman) dengan MLM. Alhasil ketika ada teman yang menawari saya untuk join di MLM mereka, hampir pasti saya akan menolak.

Tak jadi soal aset mana yang ingin Anda bangun, yang penting Anda mau berkomitmen dan berproses untuk membangun aset tersebut. Mulai sekarang, mari kita bangun aset yang lebih banyak lagi dan lebih bermanfaat.

sumber: jagoanpassiveincome.com
Read More

Senin

Published 23:23 by admin

Forex vs Saham dalam Perspektif Seorang Trader


 
Setelah sekian lama saya bergelut di dunia saham khususnya di bursa IDX, saya menemukan banyak kelemahan terkait regulasi di bursa atau nature dari saham itu sendiri yang menyebabkan 'disadvantage' bagi investor atau trader.

Berikut adalah beberapa diadvantage utama dari trading saham:

1. Market satu arah
Trading saham di bursa Indonesia hanya bisa dilakukan satu arah artinya anda hanya bisa buy suatu saham dan kemudian sell saham tersebut. Profit hanya anda bisa dapatkan ketika harga sahamnya naik. Hal ini menyulitkan karena pada masa-masa downtrend kita tidak bisa atau sulit sekali mendapatkan profit.
FOREX: memungkinkan untuk 2 arah, sehingga pada apapun kondisi market uptrend / downtrend, tetap bisa mendapatkan profit.

2. Harga gap up / gap own ketika opening market atau preclosing.
Trader seringkali direpotkan oleh 'permainan' big money yg pada waktu opening / preclosing membuat gap down / up. Terutama sekali ketika opening dimana harga gap down dalam, biasa sudah jauh dibawah batas cutloss kita dan membuat decision menjadi sulit.
FOREX : Market forex adalah 24 jam 5 hari seminggu, sehingga membuat kecil sekali kemungkinan untuk terjebak dalam situasi gap up / down.

3. Ketidak seragaman platform trading
Masing-masing sekuritas memiliki platform trading yang sifatnya proprietary dan tidak seragam. Hal ini menyulitkan bagi trader / investor untuk berganti sekuritas.
Bila sekuritas tidak memberikan layanan dengan baik, dan trader tersebut pinda sekuritas, maka dia harus mempelari lagi dari awal platform trading sekuritas yang baru.
FOREX : De facto standard platform trading forex adalah MT4, apapun pilihan broker nya.

4. Tidak ada (sedikit sekali) fasilitas Automated Trading
Hanya segelintir sekuritas saja yang memiliki fitur ini pada platform mereka, beberapa yang saya tahu adalah KDB Daewoo dan IPOT. Penggunaan fitur ini cukup kompleks.
Namun fitur ini hanya sebatas untuk mengeksekusi order berdasar kondisi tertentu yang sangat sederhana, misalkan posisi bid / offer suatu saham.
Platform tersebut tidak dapat di program dengan menggunakan algoritma / logic tertentu yang menggunakan kondisi yg lebih kompleks misalkan kita tidak bisa mengeksekusi order secara otomatis bilamana MACD cross, dan posisi harga candle diatas MA20 dan level CCI menembus -100 keatas.
Platform trading dari sekuritas tidak memungkinkan untuk memprogram kondisi yg kompleks tersebut apalagi mengeksekusinya.
FOREX : MT4 menggunakan programming language C# sehingga mampu untuk di program sehingga memungkinkan untuk menjadi robot (Expert Advisor)

5. Pilihan saham terlampau banyak.
Ada sekitar 400 emiten di IDX yang sahamnya di perdagangkan.
FOREX : Major pair hanya ada beberapa saja. FRPEA menggunakan hanya 10 pair currency saja.

6. Fraksi harga yang besar
Perbedaan fraksi / tick harga yang besar ini membuat penentuan level cutloss menjadi sulit, karena beda 1 tick saja bisa berarti beda 0.5% – 1%
FOREX : Penentuan level TP maupun CL dapat menggunakan 4 digit atau 5 digit dibelakang koma, sampai dengan 0.1 pip sehingga sangat presisi.

7. Pukul 09.00 – 16.00 WIB – 5 hari seminggu.
Opportunity trading yang ada cukup singkat, dan dibatasi waktu hanya pada jam bursa saja.
FOREX : Market open 24 jam selama 5 hari. Cocok bagi anda yang siangnya masih berkerja kantoran dan malam bisa menyambi bermain forex :)

8. Likuiditas yang relatif kecil.
Likuiditas yang kecil ini memberikan efek yang cukup signifikan pada bentuk chart saham. Coba anda kecilkan timeframe saham menjadi 1 menit (M1) atau 5 menit (M5). Maka saham bluechip berkapitalisasi besar sekalipun sekelas ASII, BBRI, BMRI akan terlihat berantakan chartnya pada timeframe M1 dan tidak bisa dianalisa secara teknikal.
Hal ini menyebabkan teknik scalping pada bursa Indonesia tidak memungkinkan.
FOREX : Likuiditas pada Major pair sangat besar dan memiliki bentuk chart yang bagus dan bisa dianalisa even untuk timeframe M1, sehingga teknik scalping bisa diterapkan pada Forex.
8 hal diatas merupakan yang paling menjadi disadvantage dari saham dibandingkan dengan forex.

Source: jfxpro.com
Read More

Kamis

Published 18:54 by admin

Jadikan Uang Bekerja untuk Kita!


Pesan khalifah Umar "wahai pekerja jangan kau habiskan semua penghasilanmu. Sebagian belikan ladang, sebagian belikan kambing". Dalam konteks saat ini, baiknya penghasilan kita sebaiknya bisa lebih ditingkatkan produktifitasnya, dikelola dengan benar agar bisa lebih berkembang salah satu wasilahnya melalui paper asset. Jadikan uang bekerja untuk kita!
Read More
Published 16:20 by admin

Melek Finansial: Mengajarkan Kebiasaan Uang pada Anak

Temukan cara yang tepat untuk mengajarkan anak-anak mengerti tentang uang. Bisajadi bukan karena tidak bisa mengelola uang namun karena pengetahuan tentang uang yang kurang.



Bicara kebiasaan berarti menanamkan prinsip dasar yang rutin dilakukan sehari-hari. Dalam hal ini saya membuat program "geser 2 ribu" atau GErakan SERba 2 ribu dimana anak-anak tiap kali ketemu uang 2 ribu wajib masuk ke celengan, sekali lagi ini WAJIB. Pada awal-awal program terasa berat, sulit, banyak berkelit. Nah, disitulah keutamaan program ini yaitu menanamkan prinsip dasar menyisihkan, mengendalikan, membiasakan! Banyak yang tanya saya, Kenapa 2 ribu? Karena uang 2 ribu sering ditemukan. Kalau mau jajan? Pakai uang lainnya. Pengen nabung pakai uang 2 ribu? Gak boleh kecuali sudah minimal 6 bulan, kenapa? Sudahlah praktekan.. :)

Program ini sekali lagi mengajarkan kebiasaan, besarnya jumlah uang tidak terlalu penting kebiasaan terhadap uang jauuuuh lebih penting! bila program sudah mulai jalan, maka uang 2 ribu akan sering ketemu dan berseliweran seperti jadi "magnet uang" beneran, jangan percaya kalau belum buktikan!
Read More
Published 15:48 by admin

Melek Finansial: Invest biar gak apes

Orang kaya perlu invest? Jika orang kaya invest mereka akan makin kaya, jika orang kaya tidak invest mereka akan tetap kaya. Orang biasa? HARUS invest, biar gak apes. Jika tidak invest, bisa-bisa ludes bin ngenes... Hehe..

Lha wong punya kredit bayar cicilan tiap bulan saja bisa, gak ngeluh, gak acuh, padahal anda tau untuk dapat kredit banyak proses yg dilakukan seperti pengajuan, survey, analisis, agunan, putusan, notaris, dll. Giliran diajak invest alasannya segunung, belum siap, tanggungan banyak, biaya hidup meningkat, penghasilan tak cukup, hasil invest gak seberapa, entar2, nanti2, besok2, kapan2... Duhh..

Bukankah kita tau, top orang terkaya didunia warren buffet seorang investor, bill gate seorang bussinessmen pun invest (properti, bisnis, papper asset, dll). Dari dulupun sudah ada contohnya khodijah investor, Rasul berdagang pun invest diberbagai hal (ladang, sumur, pasar, dll). Kita?

Masih gak mau invest?
Read More

Rabu

Published 15:22 by admin

Melek Finansial: Perampok uang anda

Berapa banyak yang tau tentang pentingnya menjaga nilai uang kita dari inflasi. Nah, saya sedikit cerita tentang inflasi suatu ketika pada 1995 lalu saat hendak beli sepeda motor dgn harga 3jutaan namun pada 2015 dgn uang 3jutaan tersebut tak cukup beli sepeda motor, bisa beli sepeda ontel (sepeda tanpa motor.... Hehehe...)

Contoh lain uang jajan anak sekolah, 10 tahun yang lalu untuk beli 2 permen cukup 100rupiah, saat ini 2 permen 400rupiah, dan permennya makin kecil ukurannya...

Itulah inflasi si perampok uang anda, jangan kira uang anda "aman" di bank, tabungan dgn bunga 2%pertahun melawan inflasi 7-13%pertahun, okelah jumlah nominalnya bertambah ditabungan namun nilainya berkurang dikenyataan.

Baiknya segera mulai investasi, dan kabar baiknya investasi bisa dimulai dgn ratus ribuan. Penting, jika kita bisa angsur pinjaman Harusnya bisa rutin investasi bulanan!
Read More

Sabtu

Published 18:56 by admin

Melek Finansial: Pengeluaran Rutin Bulanan

Betapa penting gaji yang diterima tiap bulan sejalan dengan pengeluaran rutin tiap bulan.

Belanja tiap bulan merupakan pengeluaran yang pasti dilakukan dan ini sebaiknya dikelola dengan baik. Mulailah dengan membuat catatan dari rumah apa saja keperluan rutin yang akan dibeli. Pastikan uang yang digunakan cukup dan tidak berlebih agar kita benar-benar fokus pada apa yang sudah dicatat. Barang-barang yang tahan lama dan pasti diperlukan seperti gula, garam, minyak goreng, beras, sabun, susu anak, kecap dan sejenisnya dahulukan.

Happy weekend, Happy neverend!
Read More

Kamis

Published 16:23 by admin

Melek Finansial: Pekerja juga bisa kaya



Seperti biasanya, sy berkesempatan mengisi talk show di radio kali ini membahas tentang pesan khalifah Umar RA "wahai pekerja atur upahmu, sebagian belikan kambing dan ladang". Menarik untuk dibahas bahwa atur upahmu ini pesan bagi seorang pekerja sebisa-mungkin mengelola uangnya dengan baik. Dalam konteks saat ini kambing bisa jadi punya bisnis, ya bisa jadi bisnis rintisan, bisnis sampingan, atau bisnis barengan, dimana saat bekerja dpt penghasilan saat bisnis dpt pemasukan. Nah belilah ladang, ini isyarat bahwa dianjurkan punya investasi misal properti baik kamplingan, kontrakan, ruko/rukan, kost2an, dll.

Inggat, pekerja tak selamanya bekerja karena ada masa ada usia. Suatu saat nanti bakal purna, saat itu jangan kecewa bila ternyata tak punya apa2, malah masih harus bekerja. Waspada!

Jika ilmu bahasa, matematika, budaya itu penting dan kita belajarnya bertahun2, mestinya ilmu tentang uang juga penting. Coba tanya berapa waktu, dana, upaya yg kita kerahkan untuk belajar tentang uang? Jgn heran, apa2 mentok kadang bukan karena kurang uangnya tapi kurang ilmunya!

Yuk praktekkan!
Read More

Selasa

Published 03:01 by admin

Mengelola Uang dengan Senang

Bagaimana mengelola uang kadang lebih penting daripada Bagaimana mendapatkan uang. Kenapa?
Karena berapapun penghasilan yang kita peroleh, jika tidak dikelola dengan baik maka uang kita mudah menguap.
Read More

Senin

Published 02:01 by admin

Renewable Asset: Kunci Menjaga Kekayaan

Jika menjual tanah, baiknya dibelikan tanah lagi walau dengan nilai yang lebih kecil, jangan sampai tidak ada sama sekali. Kalau bisa libel luas.

Jual telor emasnya jangan potong angsanya, sebisa mungkin tetaskan sebagian telor agar jadi angsa yg produktif.

*)
Postingan Pertama melalui Smartphone

Dikirim dari iPhone
Read More

Minggu

Published 17:44 by admin

Melek Finansial: Ajarkan Anak Bijak Terhadap Uang

Banyak cara memberi pengertian kepada anak-anak untuk mengenal serta bijak terhadap uang sejak dini. Anak-anak merupakan pembelajar yang cerdas, mereka begitu cepat mengerti hal-hal baru termasuk juga uang. Betapa penting mengajarkan anak-anak bijak terhadap uang, kenalkan mereka fungsi uang sebagai alat transaksi dalam bahasa sederhana, kenalkan pula uang didapat melalui proses, dan bagaimana menyikapi (berakhlak) terhadap uang. Karena uang sifatnya netral, ia dapat membawa dampak positif dan negatif tergantung bahaimana kita menyikapinya.


     Sejak umur berapa anak-anak dikenalkan padakonsep uang sebagai alat transaksi? Sedini mungkin, sebisa sejak usia 3 tahun. Diusia itu uang sudah mereka gunakan untuk membeli sesuatu. Sampaikan bahwa untuk dapat membeli barang yang mereka sukai, mereka harus membawa uang. Ketika akan naik kereta kelinci latih mereka untuk  membawa dan menyerahkan uang. Setelah mereka mengerti uang sebagai alat transaksi mereka juga kita kenalkan pada proses mendapatkan uang. Biasakan mereka mendapatkan uang dengan adanya upaya seperti boleh beli buku baru bila bisa bangun pagi, atau ketika ia bisa bergegas mandi dan pakai baju sendiri. Intinya ada upaya dalam mendapatkan uang tidak serta merta mereka secara langsung memperolehnya.
Yang tidak kalah pentingnyaadalah bagaimana sikap kita terhadap uang. Mungkin hal ini bisa berlaku tidak pada anak-anak pula pada orang dewasa,bila ada uang kita bisa sangat bahagia dan bila tidak ada uang kita begitu tersiksa,hati-hati ada yang salah dengan cara berpikir (mainset) kita. Uang bersifat netral, ia dapat membawa kebaikan dan keburukan tergantung bagaimana kita menyikapi.  Sikap terbaik apa yang harus kita lakukan? Sikapi uang sewajarnya, tidak berlebihan, tidak perlu mengantungkan kebahagiaan pada banyaknya uang. Anak-anak ajarkan cara mengendalikan keinginan, tidak semua keinginan harus terpenuhi,  ajarkan memprioritaskan hal-hal yang benar-benar berguna dan dibutuhkan. Mendapatkan uang itu penting, namun sikap kita terhadap uang itu jauuuhh lebih penting.
     Beberapa tips yang dapat digunakan untuk mengajarkan anak bijak terhadap uang:
-     Dampingi anak-anak saat mereka membeli sesuatu, sesekali latih mereka untuk dapat melakukannya sendiri dan pastikan ia paham apa yang akan mereka beli, dan harus membawa uang untuk memperolehnya.
-       Biasakan pisahkan uangjajan dengan uang tabungan.  Misal anda ingin memberikan uang saku sekolah sekalian anda berikan berikan pula uang untuk tabungan.  "Nak, ini untuk saku dan isi sisihlan untuk tabungan.
-     Tidak  ada salahnya menyediakan celengan bagi anak-anak, tuliskan pada celengan itu keinginan mereka.  Berikan daftar tugas yang bisa mereka lakukan untuk mendapatkan jumlah uang tertentu. Manfaat kan pula celengan itu untuk menjalankan program the power of saving yaitu paksa mereka tiap hari bisa menabung berapapun besarnya. Agar mereka terbiasa mengelola uang secara cermat.

Dikian tulisan kali ini, Semoga bermanfaat
Read More

Senin

Published 01:16 by admin

Melek Finansial: Jadikan Uang Bekerja Untuk Anda

Membuat uang bekerja untuk Anda bukan klenik, bukan majik, bukan mimpi, bukan sesuatu yang mustahil dan hal tersebut nyata dan bisa dilakukan.



Bila anda tiap hari bekerja untuk mendapatkan uang, kini saatnya berpikir bagaimana caranya agar uang dapat bekerja untuk anda tentunya dengan cara yang halal dan legal.

Siapapun bisa melakukannya asalkan ada kemauan yang kuat untuk mewujudkan. Bagaimana caranya? Mari Kita mulai membahasnya. Rumusnya adalah mengelurkan (penghasilan) lebih sedikit dari yang diterima dan menginvestasikan selisihnya untuk tujuan, jumlah dan waktu tertentu sebenarnya konsepnya sederhana namun perlu upaya sunguh-sunguh mewujudkannya.

Banyak pilihan jasa keuangan yang bisa dipergunakan untuk melakukan investasi seperti: Reksadana, Saham, Obligasi, Properti, Emas, Deposito, dll. Kali ini kita akan mengambil contoh Deposito, misalkan Anda punya penghasilan 4 juta per bulan atau dengan kata lain 48 juta per tahun, jika Anda menabung 70% dari penghasilan Anda atau 2.8 juta per bulan, lalu Anda investasikan dalam Deposito dengan return 8% per tahun, maka Anda akan mendapatkan 515 juta pada akhir tahun ke-10. Anda hanya menyisakan 1.2 juta saja per bulannya atau 14.4 juta per tahunnya untuk hidup. Apakah hal ini mungkin? Iya mungkin saja. Kenapa tidak? Setelah tahun ke-10 Anda memiliki 515 juta, jika 515 juta dialokasikan pada deposito dengan return 3% saja per tahunnya, maka Anda mempunyai 15.45 juta per tahun untuk dipergunakan. Angka tersebut lebih tinggi dari 14.4 juta yang sebelumnya biasa Anda belanjakan untuk hidup. Anda tidak perlu melakukan pekerjaan apapun, cukup menikmati hasil dari Deposito 15.45 juta tersebut.

Jika Anda benar-benar antusias & agresif, coba saja Anda simulasikan dengan angka yang sesuai dengan kondisi keuangan Anda. Mendengar ide ini mungkin tampak tidak mungkin, hidup dengan 30% dari penghasilan, jawaban saya tetap sama: hal ini sangat mungkin dilakukan. Ini hanya soal pilihan hidup.

Investasi merupakan hal yang jarang menjadi prioritas dalah hal mengelola keuangan, kesalahan yang sering kita dengar adalah investasi membutuhkan dana yang banyak? Nunggu keuangan siap baru investasi? Untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja sulit apalagi untuk mengalokasikan dana investasi? Ngak mungkin! Hutang yang harus dibayar setiap bulan masih banyak? Penghasilan pas-pasan? Dan segudang alasan lainnya.

Dalam investasi, hal yang perlu dicermati adalah waktu yang perlu kita perhitungkan karena besaran dana yang dialokasikan bersifat relatif. Dengan alokasi dana yang sama namun waktu yang berbeda hasilnya akan jauuuhh berbeda. Bila tujuan dari investasi tersebut jangka panjang, segera saat ini lakukan alokasi dana agar wujudkan uang bekerja untuk Anda. Semoga bermanfaat.
Read More
Published 02:14 by admin

Melek Finansial: Jangan Sisakan Gaji Anda!

Penghasilan rutin yang pasti diterima setiap bulan mestinya bisa Kita optimalkan agar lebih baik, Saya mengistilahkan sebagai harta berdaya. Maksudnya, apa yang Kita miliki hari ini memberikan daya lebih bagi Kita dikemudian hari. Kemudian apa maksud dan hubungannya dengan judul tulisan kali ini “jangan sisakan gaji anda” bila tidak disisakan, habis dong? apa tidak salah tulis? bukankah Kita disarankan untuk menabung/berinvestasi/bisnis?
Anda tidak salah baca, dan Saya juga tidak salah tulis. Dalam tulisan ini Kita akan mengetahui perbedaan orang kaya dan orang miskin dimana orang kaya bekerja untuk mendapat uang dan menginvestasikannya sehingga uang menghasilkan, ya uang bekerja untuk  Mereka. Bagaimana dengan orang miskin, Mereka bekerja untuk mendapat uang dan menghabiskan untuk membayar gaya hidup Mereka sampai tiba waktunya mereka tidak punya uang yang bekerja untuk Mereka. Saya tidak dalam pembahasan dan perdebatan kaya dan miskin, namun mari Kita cermati bersama bahwa bila Anda yang kebetulan memiliki penghasilan rutin yang pasti deterima setiap bulan Saya sarankan untuk menyisihkan bukan menyisakan gaji yang Anda terima. Sangat jauh perbedaannya, sudah banyak testimoni yang Saya dengar betapa sulitnya mengelola gaji tiap bulan, seperti alokasi untuk kebutuhan rutin rumah tangga, membayar tagihan pinjaman, dsb. sehingga saran praktis Saya sisihkan gaji Anda minimal 10% yang Anda terima untuk dialokasikan pada jasa keuangan yang menghasilkan seperti tabungan, deposito, saham, reksadana, atau bisnis yang menghasilkan.           
Banyak yang bertanya bagaimana mengatur gaji agar cukup sampai dengan akhir bulan? Betapa sulit menyisakan gaji untuk ditabung/diinvestasikan? Gimana mau nabung/investasi, lha untuk kebutuhan aja kurang? Apa saja pos-pos keuangan yang harus dilakukan pada saat setelah menerima gaji? Berapa jumlah dan besaran yang perlu dialokasikan? Adakah tips untuk mencegah agar gaji benar-benar cukup atau bahkan lebih optimal? Baiklah, mari Kita bahas bersama:
A. Cara kelola dengan menyisakan gaji
Gaji/Penghasilan : 100,0
Sosial/Zakat/Infak/dll :     2,5
Cicilan kredit :   30,0
Shopping/Kebutuhan :   57,5
Saving/tabungan :   10,0   > bisakah menyisakan?

B. Cara kelola dengan menyisihkan gaji (rekomendasi)
Gaji/Penghasilan : 100,0
Sosial/Zakat/Infak/dll :     2,5
Cicilan kredit :   30,0
Saving/tabungan :   10,0
Shopping/kebutuhan  :   57,5   > habiskan!

4 pos utama yang mesti dilakukan yaitu Sosial, Cicilan, Tabungan, Kebutuhan. Besaran alokasi Sosial minimal 2,5% lebih boleh. Cicilan maksimal 30% bila lebih? Lakukan pembaruan kredit dengan angsuran maksimal 30%. Tabungan termasuk untuk hari tua, pendidikan anak, pension, investasi, dll minimal 10% lebih besar lebih baik. Kebutuhan maksimal 57,5% tidak boleh melibihi. Perhatikan cara A, sulit mewujudkan manabung sisa gaji? Mengapa? Sudah habis duluan..! Cara B, lebih Saya rekomen, mengapa? Sudah dialokasikan, pos-pos tersebut bisa dimasukkan amplop untuk membantu, bila disiplin silahkan habisikan untuk pos kebutuhan, dengan cara ini banyak yang telah membuktikan bisa memiliki dana di tabunggannnya, setidaknya lebih asyik menghabiskan dari pada menyisakan. Inggat Saving than Shopping!
Read More