Big Goal

Memiliki impian yang besar

Result Oriented

Berorientasi pada hasil maksimal

Scale Up

Selalu berupaya memberikan hasil

Never Give Up

Terus melangkah mencapai tujuan

Momentum

Tiap kejadian jadi pembelajaran kehidupan

Saturday, October 31, 2015

Melek Finansial: Pengeluaran Rutin Bulanan

Betapa penting gaji yang diterima tiap bulan sejalan dengan pengeluaran rutin tiap bulan.

Belanja tiap bulan merupakan pengeluaran yang pasti dilakukan dan ini sebaiknya dikelola dengan baik. Mulailah dengan membuat catatan dari rumah apa saja keperluan rutin yang akan dibeli. Pastikan uang yang digunakan cukup dan tidak berlebih agar kita benar-benar fokus pada apa yang sudah dicatat. Barang-barang yang tahan lama dan pasti diperlukan seperti gula, garam, minyak goreng, beras, sabun, susu anak, kecap dan sejenisnya dahulukan.

Happy weekend, Happy neverend!

Wednesday, October 28, 2015

Isarat-isarat



Menghadapi kondisi dimana antara keinginan perusahaan dan kemampuan kompetensi yang tak sabanding memang membuat dilema. Namun, kondisi itu seperti isarat, harus ada yang kita perbuat.

Sama halnya dalam kehidupan, banyaknya masalah bisa jadi itu seperti isarat, ini sinyal Tuhan/ God Sign, ini cermin hidup/ Life Sign, harus ada yang kita perbuat untuk memperbaikinya, ada yang mengatakan masalah adalah cobaan atau ujian adapula yang katakan bahwa itu teguran, bagi saya lebih baik anggap sbg teguran bisajadi ada kewajiban yang kita lalaikan, ada hak yang kita abaikan, atau lain-lainnya.

Jadilah bagian dari solusi dalam wujud, berbuat baik dan berbenah diri atas isarat-isarat yang terjadi.

Thursday, October 22, 2015

Melek Finansial: Pekerja juga bisa kaya



Seperti biasanya, sy berkesempatan mengisi talk show di radio kali ini membahas tentang pesan khalifah Umar RA "wahai pekerja atur upahmu, sebagian belikan kambing dan ladang". Menarik untuk dibahas bahwa atur upahmu ini pesan bagi seorang pekerja sebisa-mungkin mengelola uangnya dengan baik. Dalam konteks saat ini kambing bisa jadi punya bisnis, ya bisa jadi bisnis rintisan, bisnis sampingan, atau bisnis barengan, dimana saat bekerja dpt penghasilan saat bisnis dpt pemasukan. Nah belilah ladang, ini isyarat bahwa dianjurkan punya investasi misal properti baik kamplingan, kontrakan, ruko/rukan, kost2an, dll.

Inggat, pekerja tak selamanya bekerja karena ada masa ada usia. Suatu saat nanti bakal purna, saat itu jangan kecewa bila ternyata tak punya apa2, malah masih harus bekerja. Waspada!

Jika ilmu bahasa, matematika, budaya itu penting dan kita belajarnya bertahun2, mestinya ilmu tentang uang juga penting. Coba tanya berapa waktu, dana, upaya yg kita kerahkan untuk belajar tentang uang? Jgn heran, apa2 mentok kadang bukan karena kurang uangnya tapi kurang ilmunya!

Yuk praktekkan!

Tuesday, October 20, 2015

Low profile High profit

Sehari-hari sering kita jumpai seorang yang dalam bicaranya meledak-ledak, cepat, lugas dan jelas arahannya, disisi lain dalam tindakannya grasa-grusu, saklek, kaku dan mau menang sendiri. Namun ada pula sebaliknya. Mana yg lebih diterima? Relatif, tergantung yg menilai.



Rendah hati seperti air. mengalir dari Tinggi ke daerah yg lebih Rendah. Rendah hati beda dg Rendah diri, tak ada kesombongan, keangkuhan, tifak pula minder, menyerah. Rendah hati mengundang rezeki, potensi dan relasi. Low profile High profit. Orang nyaman bekerjasama dengannya, kata-katanya bertenaga seperti ada ruhnya, apa-apa yg dilakukan menjadi isyarat pemikiran dan idenya. Low profile High impact.

Jika belum bisa berbuat banyak, setidaknya sudah berusaha baik walau sedikit.

Wujudkan pribadi baik kawan!

Tuesday, October 13, 2015

Renungan Hikmah Tahun Baru

Puisi Gus mus ini bagus, sederhana, sangat dalam, dan menyentuh. Dapat dijadikan sebagai renungan atau cermin diri kita pada tahun lalu dan perbaikan pada tahun yang akan datang.


SELAMAT TAHUN BARU

Oleh: KH MUSTOFA BISRI
(Sajak-sajak Mustofa Bisri)



Selamat Tahun Baru Kawan

Kawan, Sudah tahun baru lagi

Belum juga tibakah saatnya kita menunduk?

Memandang diri sendiri?
bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisabnya?
Kawan, siapakah kita ini sebenarnya?
Musliminkah? Mukminin? Muttaqin? Khalifah Allah? Umat Muhammad-kah kita?
Khaira ummatin kah kita? atau kita sama saja dengan makhluk lain?
atau bahkan lebih rendah lagi?

Hanya budak-budak perut dan kelamin.

Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan, lebih pipih dari kain rok perempuan.

Betapapun tersiksa, kita Khusyuk di depan massa dan tiba-tiba buas dan binal justru di saat sendiri bersamaNya.

Syahadat kita rasanya seperti perut bedug, atau pernyataan setia pegawai rendahan, kosong tak berdaya.

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam Ibu-ibu, lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda.

Do'a kita sesudahnya justru lebih serius kita memohon hidup enak di dunia dan bahagia disurga.

Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadual makan minum dan saat istirahat tanpa menggeser acara buat syahwat.

Ketika datang lapar atau haus; kitapun menggut-manggut "Oh beginikah rasanya" dan kita sudah merasa memikirkan saudara-saudara kita yang melarat.

Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilannya untuk kupon undian yang sia-sia..

Kalaupun terkeluarkan harapanpun tanpa ukuran, upaya-upaya Tuhan menggantinya beripat ganda.

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material.

Membuang uang kecil dan dosa besar, lalu pulang membawa label suci asli made in Saudi.. HAJI.

Kawan, lalu bagaimana, bilamana dan berapa lama kita BersamaNya?

Atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya

Mensiasati dunia sebagai khalifahnya.

Kawan, tak terasa kita semakin pintar

Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita, paling tidak kita semakin pintar berdalih.

Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan

Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran

Melacur dan menipu demi keselamatan

Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan

Memukul dan mencaci demi pendidikan

Berbuat semuanya demi kemerdekaan

Tidak berbuat apa-apa demi ketentraman

Membiarkan kemungkaran demi kedamaian

Pendek kata, demi semua yang baik, halallah semua sampaipun yang paling tidak baik

Lalu bagaimana para cendikiawan dan seniman?

Para mubaligh dan kiai penyambung lidah Nabi?

Jangan ganggu mereka.

Para cendikiawan sedang memikirkan segalanya

Para seniman sedang merenungkan apa saja

Para muballigh sedang sibuk berteriak kemana-mana

Para kiai sedang sibuk berfatwa dan berdo'a

Para pemimpin sedang mengatur semuanya

Biarkan mereka diatas sana

Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri.

Kawan, selamat tahun baru

Belum juga tibakah saatnya kita menunduk dan memandang diri sendiri?

Mengelola Uang dengan Senang

Bagaimana mengelola uang kadang lebih penting daripada Bagaimana mendapatkan uang. Kenapa?
Karena berapapun penghasilan yang kita peroleh, jika tidak dikelola dengan baik maka uang kita mudah menguap.

Monday, October 12, 2015

Pesimis = Penyakit Si Miskin

Bisajadi bukan miskin hartanya, tapi Miskin kreatifatnya, miskin trobosannya, miskin harapannya, miskin capaiannya, miskin jiwanya, miskin semangatnya. Daripada tersinggung mending berubah!

Renewable Asset: Kunci Menjaga Kekayaan

Jika menjual tanah, baiknya dibelikan tanah lagi walau dengan nilai yang lebih kecil, jangan sampai tidak ada sama sekali. Kalau bisa libel luas.

Jual telor emasnya jangan potong angsanya, sebisa mungkin tetaskan sebagian telor agar jadi angsa yg produktif.

*)
Postingan Pertama melalui Smartphone

Dikirim dari iPhone

Rutin Tulis Artikel di Blog

Terasa begitu lama sudah tidak rutin menulis di blog ini,
padahal beberapa waktu yang lalu (cukup lama)
keingginan bisa rutin menulis rutin di blog ini
merupakan sebuah target.



Semoga bisa kembali menulis rutin.
Sampaikan kebaikan walau satu tulisan.