Big Goal

Memiliki impian yang besar

Result Oriented

Berorientasi pada hasil maksimal

Scale Up

Selalu berupaya memberikan hasil

Never Give Up

Terus melangkah mencapai tujuan

Momentum

Tiap kejadian jadi pembelajaran kehidupan

Tuesday, October 23, 2012

Jenis Hutang yang Bisa Membuat Anda Tambah Kaya

Membayar hutang dengan mudah ada caranya, bahkan membuat Anda semakin kaya. Hutang mobil, rumah atau apapun perhatikanlah jenis-jenis hutang berikut. Setiap kali berhutang uang kepada seseorang, kau menjadi pegawai uang mereka. (Robert T. Kiyosaki)


Ada orang mengartikan bahwa hutang adalah selalu buruk. Ada orang mengartikan bahwa hutang adalah bisa membuat kita menikmati kenikmatan yang tadinya tidak terjangkau. Robert Kiyosaki dengan tajam menjelaskan tentang hutang yang baik dan hutang yang buruk.

Hutang yang baik adalah hutang yang dibayarkan orang lain untuk kamu. Hutang yang buruk adalah hutang yang kamu bayar dengan keringat serta darah kamu sendiri.

Kalau seseorang mengambil pinjaman berjangka waktu 20 tahun maka dia akan menjadi pegawai selama 20 tahun. Dan tidak seperti bekerja di kantor, mereka tidak memberinya jam emas ketika hutangnya lunas atau dia pensiun.

Apakah hutang untuk bisnis (modal kerja, investasi,dll) = baik, sedangkan hutang konsumtif (beli mobil, rumah, tour keluar negeri) = jelek? Dua-dua jawabannya adalah belum tentu.

Dari definisi Robert Kiyosaki diatas, hutang bisnis bisa jadi jelek bila kita sendiri yang harus berkeringat dan mandi darah untuk membayarnya.

Hutang bisnis menjadi baik ketika kita mempunyai sistem dan team/orang yang membayar. Demikian juga ayah kaya dari Robert Kiyosaki sangat menyukai properti sewaan. Ia mendorong Robert Kiyosaki untuk mempunyai properti sewaan karena bank memberi pinjaman dan yang membayar adalah penyewa properti.

Banyak orang menganggap bahwa jurus Robert Kiyosaki yang ini tidak dapat dipraktekkan di Indonesia, tapi saya pribadi melihat banyak pengusaha yang menggunakan jurus ini. Mulai dari pengusaha kecil seperti pengusaha mesin fotocopy yang membuka cabang fotocopy, salon, yang mempunyai sistem dan team yang bekerja untuk mereka. Sedemikian sehingga sistem dan team yang membayar hutang bisnis dan properti yang ditempatinya. Demikian juga pengusaha besar seperti Bank, Hotel, Mall, melakukan dengan cara yang sama.

Hutang konsumtif bisa baik ketika kita sudah mempunyai pasif income atau peternakan uang yang membayarnya. Jadi boleh saja kita mempunyai hutang rumah, mobil, selama penghasilan kita dari Bisnis dan Investasi (sisi kanan cashflow kuadrant) lebih dari cukup untuk membayarnya.

Pasti bermanfaat untuk Anda yang dahsyat,

Tung Desem Waringin
Sumber: TDW Club

Kesalahan-kesalahan Mengelola Uang

Common Money Mistakes Sering kali begitu mudah saat harus mengeluarkan uang untuk memenuhi keperluan – keperluan rumah tangga seperti belanja bulanan, membayar tagihan-tagihan, jalan – jalan ke mall, membeli baju dan sepatu saat ada diskon, dll. Tak terasa uang mengalir seperti air dan setelah dihitung-hitung sepertinya ada sesuatu yang sebenarnya bisa dihemat atau dikurangi terutama expense – expense yang tidak fixed seperti jalan-jalan ke mall, beli buku, beli baju atau sepatu, dll. Setelah membeli barang – barang tersebut dan sampai dirumah ternyata belum tentu barang-barang tersebut akan langsung digunakan dan mungkin hanya menumpuk saja dirumah. Terlebih lagi yang berbahaya adalah apabila belanjanya dengan menggesek kartu kredit, dan pembayaran hanya dengan mencicil minimal pembayaran per bulannya. Belanja dengan kartu kredit memang sangat membantu kemudahan dalam bertransaksi dengan catatan kita mempunyai uang untuk membayar tagihannya secara full bukan dengan membayar cicilan minimunnya. Biasanya kita disadarkan oleh betapa besar pengeluaran yang telah kita lakukan saat kita menerima tagihan kartu kredit, uang yang semakin berkurang di ATM atau saat me-review catatan pengeluaran bulanan kita. Hampir semua orang pernah melakukan belanja – belanja yang terkadang hanya kalap mata saja, karena naturally semakin besar penghasilan maka spending semakin besar juga. Tapi yang paling penting adalah kita dapat menyadari kesalahan tersebut dan dapat belajar dari pengalaman itu. Memang tidak mudah untuk melakukan perubahan secara drastis tapi setidaknya dengan belajar sedikit demi sedikit untuk dapat membuat perencanaan keuangan sendiri maka manajemen keuangan kita akan lebih terarah. Begitu juga dengan kami, sebelum keluarga kami mempunyai perencanaan keuangan, we have no idea berapa sich biaya pensiun kami nanti? Bagaimana sih cara menyiapkan dana pensiun untuk kehidupan nanti setelah tidak produktif lagi? Kalau biaya pendidikan anak-anak kami hanya bisa mengira2 sesuai dengan biaya kuliah saat ini, sedangkan anak-anak kami kuliah masih 10 – 15 tahun lagi jadi gak kebayang akan berapa jadinya nanti karena ada faktor inflasi didalamnya. Setelah menerapkan perencanaan keuangan kami merasa lebih tenang karena walaupun as human being seringkali bocor atau tidak sesuai dengan budget tapi at least setiap bulannya kami sudah melakukan alokasi dana untuk pos – pos tujuan keuangan keluarga yang sudah ditentukan. Sebagai evaluasi dan untuk selanjutnya menjadi perbaikan bagi kami khususnya dan mungkin bagi keluarga – keluarga yang lain, dibawah ini adalah common money mistakes yang perlu dicermati: 1. Having no financial planning alias gimana nanti aja deh Saat kita tidak mempunyai perencanaan keuangan maka kita tidak mempunyai tujuan – tujuan keuangan yang terarah dan juga tidak mengetahui berapa besar sesungguhnya uang yang harus kita persiapkan untuk dana pensiun nanti, uang sekolah anak-anak nanti, uang kesehatan untuk pensiun nanti, dll. Efeknya adalah automatically kita tidak terlalu kuatir untuk menyiapkan mulai dari sekarang karena kita memang tidak tahu, yang nanti biarlah nanti saja yang penting saat ini bisa senang – senang. Tapi kalau kita mengetahui betapa besarnya biaya yang diperlukan untuk dana pensiun dan dana pendidikan nanti maka kita akan lebih berhati – hati dalam setiap pengeluaran kita dan mempunyai prioritas untuk spending – spending kita. Sangat tidak bijaksana untuk mengorbankan kesenangan nanti hanya untuk kesenangan sesaat saat ini. Selain dana pensiun, dana kesehatan pensiun, dana pendidikan yang memang persiapannya memerlukan jangka waktu panjang, maka hal lain yang penting juga adalah mempersiapkan dana darurat dan asuransi untuk mengcover apabila pencari nafkah utama terkena risiko. Bukan berarti juga dengan mempunyai perencanaan keuangan maka kita dapat langsung menghemat secara drastis tetapi yang penting adalah memulai dengan latihan melakukan perencanaan keuangan sendiri karena semua pencapaian itu ada proses dan tahapannya jadi ya practice..practice..practice.. aja dulu. Saat ini tidak ada excuse bahwa tidak tahu cara atau tidak mengerti bagaimana memulainya, ingat bahwa saat ini kita diberi banyak kemudahan untuk akses informasi, entah dari media surat kabar, internet, seminar, tanya ke ahlinya, dll. Jangan lupa juga untuk selalu me- review untuk memastikan bahwa tujuan keuangan tersebut dapat tercapai sesuai dengan jangka waktunya. 2. Not Living Within Your Means = besar pasak daripada tiang Sudah menjadi hukum alam bahwa semakin besar penghasilan maka semakin besar pengeluaran, tetapi jangan sampai pengeluaran lebih besar daripada penghasilan karena yang akan terjadi adalah berhutang. Rumus sederhananya adalah : Income > expenses = surplus Income < expenses = debt Memang tidak mudah tapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan, kalau kita mempunyai tujuan keuangan dalam rumah tangga maka ini akan mendrive kita untuk berubah dan memperbaiki kebiasaan tata kelola keuangan kita. Tips untuk bisa menghindari pengeluaran lebih besar dari penghasilan adalah identify where your money goes, karena kalau kita mempunyai catatan kemana saja uang kita pergi maka tidak akan sulit untuk mengontrol dan mereview pengeluaran – pengeluaran tersebut, yang diharapkan untuk bulan berikutnya kita bisa mengurangi pos – pos tertentu yang dirasa berlebihan untuk kemudian dialokasikan ke pos lain seperti saving atau investasi. Oya, satu lagi..belajarlah untuk membuat budget pengeluaran, memang membuat budgetnya mudah tapi pelaksanaannya memang perlu effort. 3. Impulsive Spending = boring nich..belanja ah Belajar untuk selalu membedakan antara wants vs needs, keseringan main ke mall akan mempengaruhi kantong kita karena saat kita ke mall tidak bisa hanya untuk window shopping saja, pasti ada saja yang dibeli walaupun mungkin itu sebenarnya tidak perlu tapi terkesan diperlukan daripada tidak ada yang dibeli. Tips untuk menghindari impulsive spending atau pengeluaran yang tidak direncanakan adalah pergilah ke mall saat memang ada yang perlu dibeli jangan ke mall karena sedang merasa jenuh atau galau karena nantinya pasti balas dendam dengan belanja, buatlah budget shopping tersendiri sehingga tidak mengganggu cash flow keuangan rumah tangga saat tergoda untuk melakukan impulsive spending. 4. Temptation Promotions = buy 1 get 1 free Saat belanja bulanan ke supermarket biasanya yang terjadi adalah yang seharusnya hanya beli beberapa item tapi karena kalap mata dan tergiur oleh promo yang ada maka yang terjadi adalah jumlah belanjaan membengkak, apalagi kalau belanja dengan membawa anak-anak, alih-alih ingin mengajak anak-anak seneng tapi belanjaan juga bertambah banyak. Populasi penduduk Indonesia yang besar menjadikannya sebagai target market yang potensial untuk berjualan apapun. So think and be wise before you decide to take any kind of promotions offered in the market. Cara yang bisa dilakukan untuk menghindari spending yang besar saat belanja adalah stick with your shopping list. 5. Lack of Estate Planning = hidup kaya raya mati masuk surga (tdk menelantarkan yg ditinggalkan) Penting banget untuk mempunyai Estate Planning atau Perencanaan Waris. Karena memang kita hanya menjalani hidup ini, sementara Allah Swt yang berkuasa diatas segalanya, jadi kita tidak mengetahui sampai kapan kesenangan kita hidup didunia ini, oleh sebab itu sebaiknya kita mempunyai perencanaan yang baik untuk anak – anak atau istri yang menjadi tanggung jawab suami in case terjadi resiko yang tidak diinginkan terhadap pencari nafkah utama. Bukan berarti karena hidup sudah ada yang mengatur maka kita pasrah tanpa melakukan usaha apapun justru sebaliknya kita harus mempersiapkan dengan baik untuk mencari ridho-NYA dengan tidak menelantarkan anak-anak dan istri. Warisan tidak selalu meninggalkan harta yang melimpah tapi sebagai bentuk tanggung jawab terhadap anak – anak atau istri maka minimal suami mempunyai asuransi jiwa yang uang pertanggungannya cukup untuk membiayai sekolah dan biaya hidup mereka seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap pencari nafkah utama, sehingga mereka tidak putus sekolah dan tetap dapat meneruskan hidupnya dengan baik. sumber:http://dyahprabowo.com/2012/06/27/common-money-mistakes/

Mengenal Komunitas TDA

TDA | Komunitas Tangan Di Atas TDA Tentang Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Apa Itu Komunitas TDA? Adalah sebuah komunitas bisnis yang bervisi menjadi Tangan Di Atas atau menjadi pengusaha kaya yang gemar memberi kepada sesamanya. Istilah kerennya adalah abundance atau enlightened millionaire. Lho, sesederhana itu? Tidak, nama ini merupakan perwujudan dari keyakinan kami bahwa menjadi Tangan Di Atas itu lebih mulia dari pada Tangan Di Bawah (TDB). Kami mengartikannya juga TDA sebagai pengusaha dan TDB sebagai karyawan. Di samping itu kami juga meyakini bahwa dengan menumbuhkan semangat berwirausaha, merupakan salah satu solusi konkret terhadap permasalahan ekonomi bangsa. Bagaimana cara mewujudkannya? Ya, tentu saja dimulai dari kami sendiri. Dengan semangat saling berbagi, saling mendukung dan bekerja sama dalam komunitas TDA. Semua itu telah diwujudkan dalam beberapa kegiatannya. Kenapa harus dengan komunitas? Kami yakin dengan bersama-sama segalanya akan lebih ringan. Keyakinan itu terbukti dengan kebersamaan ini kami bisa melakukan hal yang tidak mungkin dilakukan secara sendiri-sendiri. Ada ciri khas lain yang membedakan TDA? Ada, yaitu action oriented. Makanya seiring diplesetkan menjadi Take Double Action. TDA menghindari banyak melakukan diskusi dan perdebatan yang tidak produktif. Apakah TDA lembaga sosial? Dalam aktivitasnya, TDA adalah komunitas sosial, non profit. Tapi tujuannya adalah pragmatis yaitu agar para membernya menjadi 100% TDA alias pengusaha kaya. Siapa saja member TDA ini? Beragam. Tapi kalau di bagi ada 3 kategori, yaitu: 1. TDA, yaitu member yang sudah full berbisnis dan dalam upaya meningkatkan bisnisnya ke jenjang lebih tinggi. 2. TDB, yaitu member yang masih bekerja sebagai karyawan dan sedang berupaya untuk pindah kuadran menjadi TDA 3. Ampibi, yaitu member yang masih dalam tahap peralihan dari TDB ke TDA dengan melakukan bisnis secara sambilan Sudah berapa member TDA? Sampai saat ini (September 2007) sudah mencapai 1.300 orang sejak didirikan tanggal 22 Januari 2006. Apa saja kegiatan TDA? TDA Garment (12 kios di ITC Mangga Dua dan 4 di Metro Tanah Abang) TDA Seluler (9 konter ITC Mangga Dua) TDA IT (+- 20 kios Mangga Dua Square, workshop, seminar IT) TDA Goes To Franchise (kajian dan laboratorium konsep bisnis) TDA Peduli (kerja sama dengan Aksi Cepat Tanggap Dompet Dhuafa Republika) TDA Wealth Strategy Club (diskusi dan penerapan wealth strategy) TDA Event Organizer (seminar, talkshow, bazaar, pameran, tour) TDA Business Re-education (seminar, business game, business coaching, bekerja sama dengan Action International Business Coaching http://www.action-international.com/, http://www.actioncoaching.com/) TDA Business Conference on Yahoo! Messenger TDA Business Portal (on progress) TDA Daerah (Bekasi, Tangerang, Depok, Surabaya, Yogyakarta, Batam) TDA Spiritual (pengajian bulanan) TDA Finance TDA Business Book Club dll Bagaimana awal berdirinya TDA? Agak panjang dan unik ceritanya. Ini berawal dari sebuah blog yang ditulis oleh salah satu pendiri TDA, yaitu Badroni Yuzirman (http://www.roniyuzirman.blogspot.com/). Isi blog tersebut menurut sebagian orang cenderung memprovokasi pembacanya untuk menjadi pengusaha atau TDA. Kemudian, dari para pembaca blog tersebut tercetus ide untuk membuat pertemuan dalam bentuk talkshow dengan menghadirkan Haji Ali, salah satu tokoh sukses yang sering diceritakan di blog tersebut. Tanggal 12 Januari 2006 adalah tanggal diadakannya talkshow tersebut yang dihadiri oleh sekitar 40 orang bertempat di Restoran Sederhana Rawamangun, Jakarta Timur. Dari talkshow itulah diperkenalkan istilah Tangan Di Atas yang diperluas tafsirnya menjadi pengusaha atau pedagang. Para peserta kemudian ditantang untuk langsung take action memulai bisnis. Pada tanggal 1 Februari, seminggu setelah itu dibukalah Moslem Fashion Area dengan para pengisi kiosnya 12 orang dari peserta talkshow itu. Untuk memperlancar komunikasi di antara para alumni talkshow, maka dibuatlah sebuah mailing list untuk saling berkoordinasi mengenai toko masing-masing dan membahas permasalahan bisnis. Pada akhirnya mailing list itu kemudian dibuka untuk umum dengan anggota mencapai ratusan orang. Visi Membentuk pengusaha-pengusaha tangguh dan sukses yang memiliki kontribusi positif bagi peradaban Misi Menumbuhkembangkan semangat kewirausahaan. Membentuk 10.000 pengusaha miliader yang tangguh dan sukses sampai tahun 2018. Menciptakan sinerji diantara sesama anggota & antara anggota dengan pihak lain, berlandaskan prinsip high trust community. Menumbuhkan jiwa sosial & berbagi di antara anggota. Menciptakan pusat sumber daya bisnis berbasis teknologi. Lima Nilai TDA 1. Silaturahim (Saling mendukung, Sinergi, Komunikasi, Kerja sama, Berbaiksangka, Teamwork, Sukses Bersama) 2. Integritas (Kejujuran, Transparansi, Amanah, Win-win, Komitmen, Tanggungjawab, Adil) 3. Berpikiran Terbuka (Continuous Learning, Continuous Improvement, Kreatif, Inovatif) 4. Berorientasi Tindakan (Semangat solutif, Konsisten, Persisten, Berpikir dan bertindak positif, Give and Take, Mindset Keberlimpahan) 5.Fun (Menjaga keseimbangan dalam hidup) sumber:http://roniyuzirman.wordpress.com/komunitas-tda/