Bayangkan kembali ke tahun 1950-an, ketika komputer masih sebesar ruangan dan jauh dari bayangan bisa diajak berbicara seperti manusia. Di tengah era tersebut, muncul sebuah pertanyaan besar: apakah mesin bisa berpikir? bisakah sebuah mesin meniru kecerdasan manusia? Gagasan tentang mesin yang mampu berpikir sebenarnya sudah dibahas sebelumnya, termasuk oleh Alan Turing. Namun, tonggak penting sejarah AI terjadi pada 1956 ketika para ilmuwan berkumpul dalam Dartmouth Summer Research Project on Artificial Intelligence. John McCarthy menjadi salah satu penggagas utama sekaligus tokoh yang mencetuskan istilah kecerdasan buatan atau “artificial intelligence”. Ia tidak sendirian—Marvin Minsky, Nathaniel Rochester, dan Claude Shannon juga berperan dalam proyek awal tersebut. Pertemuan di Dartmouth kemudian dianggap sebagai salah satu titik kelahiran bidang AI sebagai disiplin ilmiah.
Perlahan, AI bangkit berkat perkembangan machine learning, yaitu pendekatan yang memungkinkan komputer belajar dari data, bukan hanya mengikuti aturan yang diprogram secara eksplisit. Kemudian hadir deep learning, yang menggunakan jaringan saraf berlapis untuk menemukan pola yang jauh lebih kompleks. Perkembangan komputasi, ketersediaan data dalam jumlah besar, dan perangkat keras seperti CPU semakin mempercepat kemajuan tersebut. Dari sinilah AI berkembang dari sistem yang hanya mampu melakukan tugas tertentu menjadi teknologi yang mampu mengenali gambar, memahami bahasa, membuat prediksi, membantu pengambilan keputusan, hingga menghasilkan konten baru.
Salah satu cara umum mengelompokkan AI adalah berdasarkan kemampuannya: Narrow AI, yang dirancang untuk tugas tertentu dan merupakan bentuk AI yang digunakan saat ini; sementara konsep Artificial General Intelligence (AGI) menggambarkan AI dengan kemampuan yang jauh lebih umum dan fleksibel seperti manusia, yang masih menjadi tujuan penelitian. Sementara itu, Generative AI atau GenAI adalah bagian dari AI yang berfokus pada menghasilkan sesuatu yang baru, misalnya teks, gambar, audio, video, atau kode. Jadi, gampangnya: AI adalah payung besarnya, sedangkan Generative AI adalah salah satu cabang yang mampu “menciptakan” konten berdasarkan pola yang dipelajarinya.